Pertandingan Sengit di Semifinal Coppa Italia
Pertarungan sengit tersaji di Stadion Giuseppe Sinigaglia, Como, Italia, Rabu (4/3/2026) dini hari. Laga semifinal leg pertama Coppa Italia antara Como dan Inter Milan berakhir tanpa gol. Hasil imbang 0-0 ini membuat penentuan tiket final akan berlangsung pada leg kedua di markas Inter Milan, San Siro, bulan depan.
Atmosfer pertandingan terasa istimewa sejak awal. Stadion Sinigaglia penuh sesak untuk semifinal Coppa Italia pertama Como dalam 40 tahun. Antusiasme publik tuan rumah menjadi gambaran betapa bersejarahnya momen tersebut bagi klub yang kini dilatih mantan gelandang Spanyol, Cesc Fabregas. Selain tampil mengejutkan di ajang piala domestik, Como juga sedang menikmati musim impresif dengan bertengger di peringkat kelima Serie A, kompetisi kasta tertinggi Liga Italia.
Duel Taktik dan Rotasi Pemain
Sebagai informasi, Coppa Italia adalah turnamen piala domestik di Italia yang mempertemukan klub-klub dari berbagai divisi dalam format gugur. Khusus semifinal, pertandingan dimainkan dalam dua leg atau dua pertemuan kandang dan tandang, berbeda dengan babak sebelumnya yang hanya satu pertandingan.
Pada laga ini, Como melakukan beberapa penyesuaian komposisi pemain. Nico Paz kembali dipercaya mengisi starting XI. Namun, mereka harus kehilangan Marc-Oliver Kempf dan Jayden Addai karena cedera. Sementara itu, Assane Diao dan Edoardo Goldaniga hanya memulai laga dari bangku cadangan.
Di kubu Inter Milan, pelatih juga melakukan rotasi signifikan. Lautaro Martinez, Ange-Yoan Bonny, dan Marcus Thuram tidak dalam kondisi fit sepenuhnya. Situasi tersebut memaksa perubahan pendekatan, termasuk memindahkan Andy Diouf ke posisi yang lebih menyerang. Rotasi ini memperlihatkan bagaimana Inter tetap berusaha menjaga keseimbangan skuad di tengah padatnya jadwal kompetisi domestik dan Eropa.
Menariknya, secara historis Como memang kesulitan menghadapi Inter Milan. Kemenangan terakhir Como atas Inter adalah 1-0 pada Desember 1985, dan mereka hanya berhasil meraih dua hasil imbang dalam 14 pertemuan berikutnya, termasuk kekalahan 4-0 di San Siro pada Desember 2025. Fakta ini menambah bobot tersendiri pada hasil imbang tanpa gol yang mereka raih kali ini.
Peluang Emas yang Terbuang
Sejak peluit awal dibunyikan, Como tampil berani menekan. Peluang pertama yang benar-benar mengancam lahir dari aksi Mergim Vojvoda. Ia memanfaatkan kesalahan Yann Bisseck untuk menerobos masuk ke kotak penalti—area terlarang yang jika dilanggar akan berbuah tendangan penalti. Namun, upayanya berhasil digagalkan oleh blok putus asa Carlos Augusto dari jarak delapan yard.
Beberapa saat kemudian, Vojvoda kembali berada di posisi berbahaya, tetapi ia sudah terperangkap dalam posisi offside—situasi ketika pemain penyerang berada lebih dekat ke garis gawang lawan dibanding dua pemain terakhir sebelum bola diumpan. Meski sempat memaksa Josep Martinez melakukan penyelamatan gemilang, peluang tersebut tetap dianulir.
Nico Paz juga menunjukkan kreativitasnya. Ia sempat mengontrol bola dengan membelakangi gawang, tetapi Alessandro Bastoni sigap mencegahnya berbalik arah. Nico Paz kemudian mencoba melepaskan tembakan dari luar kotak penalti yang ditepis Martinez dengan susah payah ke tiang jauh. Vojvoda kembali mengancam saat ia mengecoh Francesco Acerbi dengan gerakan tipuan sebelum melepaskan tembakan yang meluncur di depan gawang dan hanya melenceng tipis.
Inter Bangkit di Babak Kedua
Memasuki babak kedua, Inter Milan mulai meningkatkan intensitas serangan. Tepat setelah laga dilanjutkan, Inter Milan memiliki peluang nyata pertama mereka ketika tendangan silang Matteo Darmian dari sudut yang sangat sempit mengenai tiang dekat gawang. Situasi ini menjadi alarm bagi pertahanan Como.
Tak lama berselang, Como justru mendapatkan peluang emas yang seharusnya bisa mengubah jalannya pertandingan. Ivan Smolcic mengirimkan operan matang dari sisi kanan, tetapi entah bagaimana Alex Valle gagal memaksimalkannya. Dari jarak sekitar lima yard—jarak yang sangat dekat dengan gawang—Valle malah menendang bola melebar. Marcus Thuram akhirnya dimasukkan dari bangku cadangan untuk menambah daya gedor Inter. Penyerang asal Prancis itu sempat melepaskan tembakan, namun upayanya diblok oleh Diego Carlos.
Meski kedua tim saling bergantian menciptakan peluang, skor tetap tidak berubah hingga peluit panjang dibunyikan.
Penentuan di San Siro
Hasil 0-0 membuat segalanya masih terbuka. Leg kedua semifinal ini, satu-satunya tahap turnamen yang dimainkan kandang dan tandang, akan berlangsung pada tanggal 21 atau 22 April. Pertandingan tersebut akan digelar di San Siro, stadion kebanggaan Inter yang dikenal memiliki atmosfer intimidatif bagi tim tamu.
Pemenang duel ini akan menghadapi Lazio atau Atalanta di partai final Coppa Italia. Dengan agregat masih imbang tanpa gol, pertandingan di San Siro dipastikan menjadi laga hidup-mati bagi kedua tim.
Bagi Como, hasil ini merupakan pencapaian penting sekaligus suntikan kepercayaan diri. Mereka mampu menahan salah satu raksasa Italia tanpa kebobolan. Sementara bagi Inter Milan, hasil imbang tandang tetap memberikan keuntungan karena mereka akan memainkan leg kedua di hadapan pendukung sendiri.
Pada akhirnya, semifinal ini masih jauh dari kata selesai. Segalanya akan ditentukan di San Siro bulan depan—siapa yang mampu menjaga konsistensi, memaksimalkan peluang, dan tampil lebih efektif, dialah yang berhak melangkah ke final Coppa Italia.



