Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Selasa, 24 Maret 2026
Trending
  • Mitos vs Fakta: Pria Lebih Sabar Menghadapi Macet Saat Mudik
  • Hasil FP2 Moto3 Veda Ega Pratama di P12 Jelang Kualifikasi MotoGP Brasil 2026
  • 10 rumah modern dengan tumbuhan dalam ruangan, menginspirasi!
  • Berita Duka: Chuck Norris Meninggal, Legenda Film Bruce Lee dan The Expendables 2
  • Ekonomi Pasca Lebaran: Peluang Tumbuh atau Hanya Peningkatan Sementara?
  • Ubedilah Badrun Beberkan 3 Kemungkinan Pelaku di Balik Kasus Andrie Yunus
  • Harga minyak naik, B50 harus dipercepat implementasinya
  • 10 Film Korea Seru untuk Libur Lebaran 2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Hari Ibu, Suara Perempuan Indonesia Berkumandang
Nasional

Hari Ibu, Suara Perempuan Indonesia Berkumandang

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover27 Desember 2025Tidak ada komentar2 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Peringatan Hari Ibu: Sejarah, Makna, dan Peran Perempuan dalam Masyarakat

Hari Ibu diperingati setiap tanggal 22 Desember. Peringatan ini memiliki makna penting dalam sejarah bangsa Indonesia. Puncak perayaan bermula dari Kongres Wanita Indonesia yang diadakan di Yogyakarta pada 22 hingga 25 Desember 1928. Kongres ini menjadi dasar terbentuknya peringatan Hari Ibu Nasional.

Kongres tersebut dihadiri berbagai organisasi wanita seperti Kowani, Dharma Wanita, Darma Pertiwi, HWK, IWAPI, GOW, Muslimat, A’isyiyah, dan lainnya. Gerakan ini bertujuan memperjuangkan hak-hak perempuan, kesetaraan, pendidikan, serta perbaikan sosial. Momentum ini juga menjadi penghargaan bagi kaum perempuan yang memiliki peran ganda dalam kehidupan berumah tangga, masyarakat, bangsa, dan bernegara.

Perempuan tidak hanya sebagai ibu rumah tangga, tetapi juga sebagai pelaku utama dalam pembangunan. Banyak perempuan di masa lalu telah memberikan kontribusi besar bagi bangsa. Salah satunya adalah Ibu RA Kartini, yang dengan tegas menyampaikan gagasannya melalui tulisan. Karya-karyanya seperti “Habis Gelap Terbitlah Terang” menjadi inspirasi bagi banyak orang.

Sejarah menunjukkan bahwa perempuan sering kali menghadapi tantangan. Di era Fir’aun, Masyithah, seorang pembantu istana, berani menyuarakan kebenaran dengan menyatakan bahwa Allah SWT adalah Rabb satu-satunya. Perjuangannya berbuah manis, bahkan Rasulullah SAW mencium aroma wangi di Surga.

Di masa jahiliyah, perempuan sering dihina dan dijadikan gundik. Namun kini, emansipasi wanita telah terasa. Banyak perempuan sukses dalam berbagai bidang, seperti karir, pendidikan, kesehatan, bisnis, dan profesi lainnya. Hal ini membuktikan bahwa perempuan mampu bersaing dan berkembang di tengah masyarakat.

Undang-Undang Dasar 1945, khususnya Pasal 28 E ayat (3), menjamin setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat. Pasal 28 F juga menjamin hak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi. Kebebasan ini menjadi pilar demokrasi yang memungkinkan masyarakat berinteraksi dan menyampaikan pandangan terhadap isu-isu yang berkembang.

Perempuan juga memiliki peran penting dalam membangun negara. Rasulullah SAW pernah menyatakan, “Wanita adalah tiang negara. Apabila wanitanya baik, maka negara akan baik, dan apabila wanitanya rusak, maka negaranya rusak.” Kalimat ini menekankan bahwa perempuan adalah fondasi utama dalam pembangunan bangsa.

Tidak semua orang bisa berbicara atau menyampaikan gagasan secara terbuka. Beberapa alasan yang membuat seseorang membatasi orang lain bersuara antara lain: tidak sejajar, suara dipolitisasi, tersaingi, atau dianggap gila. Fenomena ini juga dialami oleh beberapa nabi. Meskipun begitu, penting bagi kita untuk berani menyampaikan pendapat meski menghadapi ketidakadilan.

Hari Ibu bukan hanya sekadar momen perayaan, tetapi juga momentum untuk merenungkan peran perempuan dalam masyarakat. Para ibu seharusnya bersyukur atas kontribusi mereka dalam keluarga dan bangsa. Selamat Hari Ibu!

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Mitos vs Fakta: Pria Lebih Sabar Menghadapi Macet Saat Mudik

24 Maret 2026

Ekonomi Pasca Lebaran: Peluang Tumbuh atau Hanya Peningkatan Sementara?

24 Maret 2026

Harga minyak naik, B50 harus dipercepat implementasinya

24 Maret 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Mitos vs Fakta: Pria Lebih Sabar Menghadapi Macet Saat Mudik

24 Maret 2026

Hasil FP2 Moto3 Veda Ega Pratama di P12 Jelang Kualifikasi MotoGP Brasil 2026

24 Maret 2026

10 rumah modern dengan tumbuhan dalam ruangan, menginspirasi!

24 Maret 2026

Berita Duka: Chuck Norris Meninggal, Legenda Film Bruce Lee dan The Expendables 2

24 Maret 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?