Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Kamis, 29 Januari 2026
Trending
  • Musyawarah Kerja KONI Sultra: Program 2026 dan Penentuan Tujuan Pekan Olahraga Provinsi
  • Persib Bandung Kembali ke Puncak, Berguinho Jadi Pahlawan Kemenangan Lawan PSBS Biak
  • Giveaway Disangka Settingan, Willie Salim: Ini Bentuk Hiburan, Bukan Niat Menipu
  • Lima Tanda Serangan Jantung Saat Olahraga yang Sering Diabaikan
  • Indonesia Masters 2026 – Alwi Farhan Belajar dari Kekalahan Lawan Chen Yu Fei untuk Tampil di Thailand Masters 2026
  • Gol Penentu Kemenangan Guinho di Laga Persib Bandung vs PSBS Biak
  • 5 Tempat Jogging di Surabaya untuk Olahraga Ringan Setelah Kerja
  • Kompolnas: Kasus Suami Korban Jambret Jadi Peringatan untuk Polisi
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Beranda ยป Generasi Tanpa Uang Tunai: Scan Terus, Menangis Terus!
Teknologi

Generasi Tanpa Uang Tunai: Scan Terus, Menangis Terus!

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover15 Januari 2026Tidak ada komentar5 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Perubahan Masa Kini dalam Pengelolaan Keuangan



Di era modern ini, kehidupan manusia semakin mudah dan efisien. Dompet yang dulu menjadi simbol kekayaan kini hanya berfungsi sebagai tempat menyimpan kartu identitas penting. Yang terpenting saat ini adalah ponsel dengan saldo di rekening atau limit Paylater yang cukup panjang. Pergeseran ini terjadi begitu cepat dan senyap. Jika sepuluh tahun lalu kita panik saat tertinggal dompet, hari ini kita jauh lebih panik saat tertinggal ponsel. Kita hidup di zaman di mana kekayaan tidak lagi ditakar dari seberapa tebal lipatan kertas di saku belakang celana, melainkan dari deretan angka digital di layar ponsel.

Namun, di balik kemudahan “Ting!” dari mesin EDC atau notifikasi “Pembayaran Berhasil” dari pemindaian QRIS, tersimpan sebuah jebakan psikologis yang membuat generasi masa kini merasa kaya, padahal sedang miskin pelan-pelan. Misalnya saja sedang berjalan-jalan di sebuah festival kuliner atau mal. Mata tertuju pada stand kopi susu gula aren yang sedang promo. Harganya hanya Rp25.000. Tangan langsung merogoh saku, bukan untuk mengambil dompet kulit yang tebal, melainkan ponsel pintar. Buka aplikasi, pindai kode kotak-kotak hitam putih, ketik nominal (atau otomatis muncul), masukkan PIN, dan… Ting! “Pembayaran Berhasil”.

Proses itu memakan waktu kurang dari 10 detik. Tidak ada uang fisik yang berpindah tangan. Tidak ada kembalian receh yang berisik. Rasanya bersih, cepat, dan anehnya tidak terasa seperti membuang uang. Rasanya seperti menggunakan uang di permainan monopoli atau poin dalam video game. Saat berbaring di malam hari sebelum tidur, lalu iseng mengecek saldo rekening di m-banking. Jantung seketika berhenti sejenak. Angka yang tadi pagi masih tujuh digit, kini menyusut drastis. Sebuah era di mana menjadi miskin terasa sangat mudah, cepat, dan tanpa rasa sakit.

Seharusnya otak manusia merespons pelepasan aset (uang) dengan sinyal ketidaknyamanan yang mirip dengan rasa sakit fisik ringan. Seperti momen ketika harus membayar tunai. Saat Anda menyerahkannya kepada kasir untuk membayar, lalu melihat fisik uang berpindah tangan. Dompet terasa menipis, memberikan sinyal visual yang kuat ke otak bahwa uang berkurang. Inilah rem alami kita. Teknologi cashless memutus sirkuit rasa sakit ini. Saat memindai QRIS atau menempelkan kartu, tidak ada benda fisik yang hilang dari genggaman. Ponsel tetap di tangan, kartu tetap di dompet. Yang berubah hanyalah angka di saldo. Otak kita gagal memproses transaksi digital sebagai sebuah kehilangan. Rasanya terlalu bersih, terlalu steril, dan terlalu cepat. Akibatnya, rem blong. Kita menjadi konsumen yang impulsif karena uangnya terasa tidak nyata.

Bahaya terbesar dari transaksi digital bukanlah pembelian barang mewah. Karena untuk beli iPhone atau laptop, kita pasti mempertimbangkan lama. Bahayanya justru ada pada transaksi mikro. Pagi beli kopi, siang bayar ojek online, sore beli camilan viral, hingga malam checkout barang lucu di e-commerce. Jika dijumlah, menghabiskan uang cukup banyak dalam sehari tanpa sadar. Apalagi jika dihitung dalam perbulan.

Teknologi cashless juga membunuh konsep uang receh. Dulu, uang kembalian receh sering kita tabung atau kita jaga. Sekarang, karena saldo terpotong persis sesuai harga, kita kehilangan apresiasi terhadap nilai uang kecil. Kita lupa bahwa jutaan rupiah itu terbentuk dari ribuan perak yang dikumpulkan. Situasi diperparah dengan strategi aplikasi dompet digital yang jenius namun licik. Mereka mengubah aktivitas mengeluarkan uang menjadi sebuah permainan yang seru. Setiap kali membayar, seolah diberi hadiah. Entah itu poin, koin, telur yang harus dipecahkan, atau voucher cashback. Otak kita, yang menyukai dopamin instan, merespons ini dengan gembira.

Kita sering kali membeli barang yang sebenarnya tidak kita butuhkan, hanya demi mengejar promo atau supaya voucher-nya tidak hangus. Kita tidak lagi menjadi konsumen yang rasional, melainkan pemburu poin. Jika QRIS adalah obat bius yang menghilangkan rasa sakit membayar, maka Paylater (Bayar Nanti) adalah racun yang mematikan. Aplikasi pembayaran sekarang dengan agresif menawarkan opsi Paylater tepat di sebelah tombol saldo. Dulu, berutang itu ribet dan memalukan. Harus ke bank, isi formulir, atau pinjam teman dengan muka tebal. Sekarang, berutang semudah memindai jempol. Bahayanya, fitur ini masuk ke ranah konsumsi harian. Orang mulai terbiasa membeli makan siang (nasi padang/kopi) dengan cara mencicil atau bayar bulan depan.

Ini menciptakan ilusi kekayaan. Merasa punya daya beli, padahal itu adalah uang masa depan yang dicuri untuk kenikmatan sesaat hari ini. Saat gaji turun bulan depan, ia hanya numpang lewat karena langsung disedot otomatis untuk membayar tagihan seblak dan kopi susu bulan lalu. Selain aspek finansial, ketergantungan pada cashless menciptakan kerentanan baru. Generasi cashless adalah generasi yang paling rapuh saat terjadi gangguan teknis. Pernahkah melihat kepanikan di wajah seseorang di depan kasir minimarket saat sinyal internet tiba-tiba hilang atau aplikasi sedang maintenance? Atau saat baterai HP mati?

Mendadak menjadi orang tak mampu secara teknis. Meskipun saldo rekening ada jutaan, tetap tidak bisa membeli sebotol air minum pun karena tidak membawa uang tunai selembar pun. Dompet fisik hanya berisi KTP dan kartu-kartu, tanpa lembaran kertas bernilai tukar. Kemandirian finansial kita kini disandera oleh kekuatan sinyal 4G dan persentase baterai. QRIS dan dompet digital adalah inovasi luar biasa yang memudahkan hidup, mempercepat ekonomi UMKM, dan higienis. Namun, kita perlu menyadari bahwa teknologi ini pisau bermata dua. Kemudahan yang ditawarkan harus dibayar dengan kewaspadaan yang ekstra. Hiduplah sesuai kemampuan dompetmu, bukan sesuai limit Paylater-mu.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Laptop Toshiba Terbaik 2026 untuk Mahasiswa Desain: Kreativitas Tak Terbatas, Harga Cerdas

26 Januari 2026

Tampil Mewah! Yamaha NMAX Turbo Texmax 2026, Skutik Hitam Sporty

26 Januari 2026

Yamaha Perkenalkan TMAX Edisi Spesial dengan Jajaran Maxi Elegan dari XMax hingga NMax

26 Januari 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Musyawarah Kerja KONI Sultra: Program 2026 dan Penentuan Tujuan Pekan Olahraga Provinsi

29 Januari 2026

Persib Bandung Kembali ke Puncak, Berguinho Jadi Pahlawan Kemenangan Lawan PSBS Biak

29 Januari 2026

Giveaway Disangka Settingan, Willie Salim: Ini Bentuk Hiburan, Bukan Niat Menipu

29 Januari 2026

Lima Tanda Serangan Jantung Saat Olahraga yang Sering Diabaikan

29 Januari 2026
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?