Perubahan Outlook dari Lembaga Pemeringkat dan Pandangan OJK
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan bahwa perubahan outlook yang dilakukan oleh lembaga pemeringkat internasional seperti Fitch Ratings dan Moody’s terhadap sejumlah bank besar di Indonesia, termasuk empat bank Himbara, lebih mencerminkan perubahan outlook terhadap Indonesia secara keseluruhan daripada pelemahan fundamental industri perbankan nasional.
Beberapa waktu lalu, Moody’s telah menurunkan outlook beberapa bank besar di Indonesia. Kini giliran Fitch yang juga melakukan penyesuaian outlook untuk tiga bank pelat merah, yaitu PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI). Meski demikian, Fitch tetap mempertahankan peringkat ketiga bank tersebut.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae menjelaskan bahwa penyesuaian outlook tersebut terjadi seiring perubahan outlook sovereign Indonesia dari stabil menjadi negatif. Hal ini disebabkan oleh faktor eksternal, dinamika makroekonomi global, serta keterkaitannya dengan profil perekonomian negara.
“Penyesuaian tersebut lebih mencerminkan faktor eksternal dan dinamika makroekonomi global, serta keterkaitan dengan profil sovereign, dan bukan karena penurunan fundamental kinerja bank-bank dimaksud,” ujarnya dalam jawaban tertulisnya.
Dian menegaskan bahwa meskipun ada ketidakpastian global, bank Himbara tetap menunjukkan kinerja intermediasi yang stabil dan menjalankan peran strategis dalam mendukung pembiayaan sektor riil dan program prioritas pemerintah. Oleh karena itu, OJK melihat outlook negatif sebagai sinyal kewaspadaan terhadap risiko eksternal dan fiskal, bukan indikasi langsung adanya tekanan pada kesehatan bank-bank BUMN.
Dampak Perubahan Outlook terhadap Pasar Modal
OJK mengakui bahwa perubahan outlook sovereign dapat mendorong kenaikan risk premium yang berpotensi meningkatkan cost of fund secara moderat. Selain itu, kondisi tersebut juga dapat memicu volatilitas jangka pendek pada saham-saham bank Himbara di pasar modal.
Namun, Dian menegaskan bahwa akses pendanaan bank-bank Himbara ke pasar global masih tetap terjaga. Hal ini tercermin dari peringkat kredit masing-masing bank yang masih dipertahankan pada level investment grade.
Ia menambahkan bahwa valuasi saham bank Himbara juga masih menarik, didukung oleh kondisi permodalan yang solid, likuiditas yang memadai, kualitas aset yang terjaga, serta profitabilitas yang tetap resilien. Minat investor global terhadap emerging market seperti Indonesia juga masih cukup baik.
Keunggulan Struktural Bank Himbara
Dian menjelaskan bahwa bank Himbara memiliki keunggulan struktural berupa jaringan yang luas dan terdiversifikasi, baik di dalam negeri maupun di sejumlah pusat keuangan internasional. Jaringan tersebut dinilai menjadi modal penting untuk memperluas basis nasabah, memperdalam penghimpunan dana pihak ketiga, serta menjaga efisiensi struktur pendanaan.
Pertumbuhan dana murah atau CASA yang berkelanjutan mencerminkan tingkat kepercayaan publik yang tetap kuat terhadap Bank Himbara, sekaligus memperkuat struktur pendanaan yang efisien dan stabil.
Kondisi Keuangan dan Pengawasan OJK
Dari sisi pengawasan, OJK memastikan tata kelola, manajemen risiko, dan pencadangan bank dilakukan secara prudent dan sesuai standar internasional. OJK juga menilai ketahanan perbankan nasional, termasuk bank Himbara, masih berada pada level yang kuat.
Hingga akhir 2025, mayoritas bank Himbara tercatat membukukan pertumbuhan kredit double digit, melampaui pertumbuhan kredit industri perbankan yang sebesar 9,6%. Pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) juga tetap tinggi, dengan rasio kecukupan modal (CAR) di kisaran 18% hingga 21%, jauh di atas ketentuan minimum. Rasio kredit bermasalah atau NPL gross berada di kisaran di bawah 1% hingga 3%, dengan loan at risk (LaR) yang tetap terkendali serta didukung cadangan yang memadai.
“Hingga akhir tahun 2025, OJK menegaskan bahwa kinerja fundamental Bank Himbara tetap solid, resilien, dan terkelola dengan baik,” kata Dian.
Prospek Masa Depan
OJK pun memandang penyesuaian outlook ini masih bersifat reversible atau dapat berubah kembali, seiring perbaikan prospek ekonomi global dan domestik serta penguatan indikator fiskal dan eksternal Indonesia.
“Outlook tersebut berpotensi kembali stabil maupun positif apabila prospek perekonomian global dan domestik membaik serta indikator fiskal dan eksternal menguat,” tutup Dian.



