Kondisi Warga Sipil di Tigray yang Terjebak dalam Ketegangan
Warga sipil di Tigray terjebak dalam situasi yang penuh ketegangan antara Etiopia dan Eritrea. Ancaman bahaya memaksa warga untuk bertahan di ibu kota Mekelle, meski perang bisa kembali meletus setiap saat.
Kamp pengungsian Tshehaye dulunya merupakan sekolah negeri di salah satu wilayah Tigray, Shire. Kini, ruang-ruang kelas telah berubah menjadi tempat tinggal. Keluarga-keluarga pengungsi tidur di dalam bangunan penuh retak, dengan papan tulis yang masih menempel dinding. Deretan tenda memenuhi bekas halaman sekolah yang dipenuhi debu.
Di luar tempat penampungan, seorang ibu dengan tiga anak duduk terdiam. Ia meminta agar namanya tidak disebutkan. Ini adalah kali pertama bagi mereka mengungsi ketika perang antara pemerintah federal Ethiopia dan pasukan di wilayah utara Tigray meletus di tahun 2020.
Setelah Perjanjian Pretoria mengakhiri konflik yang berlangsung selama dua tahun pada 2022, sang ibu dan ketiga anaknya mencoba kembali ke desanya yang terletak di Tigray barat, salah satu pasukan dari wilayah tetangganya, Amhara. Namun tanahnya telah diambil alih. Mustahil untuk kembali tinggal di sana. Delapan bulan lalu ia pun melarikan diri dan kembali ke Shire.
Suaminya, katanya, telah ditangkap “karena dia orang Tigray.” Setelah dibebaskan, keluarga itu mengikutinya ke utara Tigray.
“Jika memungkinkan, saya ingin hidup damai dan kembali ke rumah serta mengolah tanah saya seperti dulu,” katanya. “Sangat sulit hidup seperti ini bersama anak-anak saya.”

Para pengungsi Tigray menghadapi kondisi yang sulit
Ketakutan dirasakan oleh ribuan orang di kamp Tshehaye. Sekitar 800.000 orang masih mengungsi dari wilayah Tigray dan tidak dapat kembali ke tanah mereka di Tigray barat. Pengungsian yang belum terselesaikan ini telah menjadi salah satu sumber utama ketegangan antara wilayah tersebut dan pemerintah federal Ethiopia.
Kehidupan di kamp sangat berat, air langka dan distribusi makanan tidak teratur. Obat-obatan terbatas. Kondisi kemanusiaan memburuk setelah pemotongan bantuan tahun lalu. Keluarga-keluarga bergantung pada jatah kecil dan jaringan solidaritas informal untuk bertahan hidup.
“Tempat penampungan dibangun setiap bulan, setiap ada kedatangan baru para pengungsi,” kata Hagos Gebremichael, koordinator kamp tersebut. Keluarga-keluarga baru terus berdatangan dari Tigray barat dan dari Sudan. Banyak orang mencari perlindungan selama perang.
Gebremichael sendiri dulu memiliki rumah di Tigray barat.
“Dulu, saya hidup normal di sana,” katanya. “Sekarang saya tinggal di sini tanpa dukungan, tanpa pekerjaan, tanpa apa pun. Jika tidak ada yang membawa saya pulang, saya mau mati di sini. Saya akan mencoba kembali, meskipun itu mengorbankan nyawa saya.”

Pertempuran antara TDF dan ENDF
Pada akhir Januari 2026, bentrokan kembali pecah di Tselemti antara Pasukan Pertahanan Nasional Ethiopia (ENDF) dan Pasukan Pertahanan Tigray (TDF). Pertempuran juga dilaporkan terjadi di dekat perbatasan selatan dengan Afar antara TDF dan mantan anggota TDF setelah terjadinya perpecahan di dalam kelompok paramiliter dan partai politik: Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF).
Serangan pesawat nirawak terjadi selama bentrokan, mengingatkan kembali pada taktik yang digunakan selama perang 2020-2022. Para analis keamanan memperingatkan bahwa konfrontasi lokal ini berisiko meluas jika ketegangan politik terus meningkat.
Pada pertengahan Februari 2026, ketua Komisi Uni Afrika menyerukan “tindakan segera untuk menghindari perang yang akan segera terjadi.” Di waktu bersamaan, menteri luar negeri Ethiopia secara terbuka mendesak Eritrea untuk menarik pasukannya dari wilayah sengketa dan mengancam akan mengambil tindakan.
Meski selama perang di tahun 2020–2022, pasukan Eritrea bekerja sama dengan tentara federal Ethiopia bertempur melawan TPLF dengan pasukan pertahanannya, TDF. Kini, hubungan kedua pemerintahan tersebut memburuk. Tuduhan campur tangan dan pergeseran aliansi regional telah memperdalam ketidakpercayaan kedua negara.
Video yang beredar daring tampak menunjukkan pergerakan pasukan dalam jumlah besar di dekat wilayah perbatasan. Sementara pejabat Tigray membantah adanya aliansi dengan Eritrea, mereka memperingatkan bahwa jika perjanjian damai runtuh, mereka akan membela diri, yang berpotensi membentuk kembali garis pertempuran lama.
Warga Tigray dalam Bayang-Bayang Konflik
Setiap konfrontasi baru antara Ethiopia dan Eritrea kemungkinan besar akan terjadi di wilayah Tigray.
Ketegangan yang terjadi baru-baru ini telah mengubah mobilisasi warga di seluruh wilayah. Ketika penerbangan ke Tigray dihentikan selama lima hari pada akhir Januari setelah operasi militer federal yang melibatkan serangan drone, banyak warga bergegas pergi.
“Warga terkejut dengan ketegangan yang ada,” kata manajer sebuah perusahaan bus di Shire, yang minta identitasnya dirahasiakan. “Banyak yang mencoba meninggalkan Tigray karena takut terjebak dalam pengepungan yang pernah terjadi sebelumnya.” Bus menuju ibu kota, Addis Ababa, segera penuh.
Mekelle, ibu kota Tigray, nampak sunyi namun dipenuhi ketakutan. Di luar bank, antrean mengular. Penarikan uang terbatas. Para pengemudi ‘berburu’ bahan bakar di pasar gelap. Beberapa barang tidak ada lagi di rak toko, sementara barang lainnya menjadi sangat mahal di tengah gempuran inflasi yang meroket. Sistem air perkotaan hanya berfungsi sesekali.
Seife yang dulu bekerja sebagai pemandu wisata, kini bertahan hidup dari pekerjaan tidak tetap di kota. “Kurangnya uang tunai membuat hidup sangat sulit,” katanya. “Bisnis menuntut pembayaran tunai karena mereka tidak lagi bisa mengandalkan transfer bank. Semuanya bergantung pada uang tunai.”
Setelah ketegangan meningkat menjadi bentrokan, dengan cepat ketakutan itu kembali. “Perdamaian rapuh yang kita miliki bisa runtuh. Perang bisa dimulai lagi,” tambah Seife.
Perdamaian yang Penuh Ketidakpastian di Tigray
Perang 2020–2022 menewaskan sekitar 600.000 orang dan diwarnai pelanggaran berat hak asasi manusia serta dugaan kejahatan perang. Perang itu secara resmi berakhir dengan Perjanjian Pretoria. Namun, sejumlah ketentuan utama masih belum dilaksanakan, seperti proses pelucutan senjata dan reintegrasi. Pasukan Eritrea pun masih mempertahankan posisinya di utara.
Pemilihan umum nasional dijadwalkan pada 1 Juni, tetapi TPLF tidak diikutsertakan dalam pemungutan suara. Akhir Februari lalu, Dewan Federasi Ethiopia pun mencabut lima distrik yang berada di bawah administratif Tigray, mengecualikan partisipasi kelima distrik tersebut dalam pemilu. Langkah ini menurut pejabat lokal semakin kian menyulut ketegangan.
Dengan latar belakang tersebut dan memburuknya hubungan antara Etiopia dan Eritrea meningkatkan kekhawatiran bahwa Tigray sekali lagi akan menjadi area pusat konfrontasi.
Di dekat Monumen & Museum Martir Mekelle, monument dominasi politik Tigray di masa lalu seorang tukang kebun kota, Berhane, memangkas tanaman dan menyiram taman bunga. Monumen itu tampak sebagian besar kosong di tengah panasnya sore.
“Kami menunggu untuk melihat apakah akan ada perang lagi,” katanya. “Saya lahir di sini. Saya ingin membangun hidup saya di sini. Tetapi saya takut sesuatu yang lebih buruk bisa terjadi.”



