Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Selasa, 24 Maret 2026
Trending
  • Geely Siap Tekan Dominasi BYD di Pasar Mobil Tiongkok
  • 7 Inspirasi Lampu Gantung 3D Modern yang Menarik
  • Alasan Aurelie Moeremans Angkat “Broken Strings” Jadi Film: Edukasi Bahaya Child Grooming
  • Emas melonjak, batu permata jadi pilihan investasi 2026
  • Usaha Kambing Bangkrut, Pemilik Koper Akui Bawa Sabu 785,71 Gram
  • Profil Ayep Zaki, Wali Kota Sukabumi Dihujat Pembohong Gara-Gara Izin Salat Ied, Hartanya Rp13 Miliar
  • Bacaan Injil Katolik 23 Maret 2026: Renungan Harian yang Lengkap
  • Jadwal Bola Malam Ini: Bou vs Man Utd dan Napoli di Liga Italia Live SCTV dan ANTV
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Ekonomi»Emas melonjak, batu permata jadi pilihan investasi 2026
Ekonomi

Emas melonjak, batu permata jadi pilihan investasi 2026

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover24 Maret 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link



Perhiasan Mewah Jadi Alternatif Investasi di Tengah Ketidakpastian Global

Di tengah gejolak pasar global dan lonjakan harga emas, konsumen ultra-kaya kini semakin melirik perhiasan mewah sebagai alternatif investasi. Tak hanya emas, batu permata berwarna seperti rubi, safir, dan zamrud menjadi primadona baru yang dinilai mampu memberikan nilai jangka panjang.

Fenomena ini terlihat jelas di pasar lelang. Sebuah kalung dari Tiffany & Co. yang menampilkan tourmaline Paraiba langka dan berlian terjual lebih dari US$4,2 juta di Christie’s, atau sekitar 10 kali lipat dari estimasi awal. Sepasang anting serasi bahkan mencatat lonjakan harga serupa. Capaian tersebut memperkuat sinyal bahwa perhiasan mewah kini tak sekadar aksesori, melainkan mulai diposisikan sebagai aset investasi yang diperhitungkan di kalangan kolektor global.

Didorong Inflasi dan Ketidakpastian Global

Ketertarikan terhadap perhiasan sebagai investasi tidak lepas dari meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan volatilitas ekonomi. Dalam kondisi seperti ini, investor cenderung beralih ke aset berwujud yang dinilai lebih stabil, termasuk logam mulia dan batu permata langka.

Perhiasan dari merek ternama seperti Cartier, Van Cleef & Arpels, Tiffany & Co., dan Bulgari bahkan dikenal memiliki nilai jual kembali yang kuat di pasar sekunder. Keempat merek tersebut disebut mendominasi hingga sekitar 90% transaksi penjualan kembali perhiasan bermerek.

Berbeda dengan tas atau aksesori fesyen yang terpengaruh tren musiman, perhiasan ikonik cenderung memiliki siklus hidup panjang dan mengalami kenaikan harga tahunan dalam jangka panjang. Dalam banyak kasus, kolektor yang menyimpan perhiasan selama lima hingga 10 tahun mampu menjualnya kembali di atas harga beli.

Harga Emas Jadi Katalis

Lonjakan harga emas turut memperkuat tren ini. Harga logam mulia tersebut sempat menembus level tertinggi di atas US$5.100 per ons sebelum terkoreksi, namun masih bertahan di kisaran tinggi. Kondisi ini meningkatkan daya tarik perhiasan berbasis emas sebagai aset dengan nilai dasar yang relatif terjaga.

Di sisi lain, kenaikan harga juga mendorong sebagian kolektor lama melepas koleksinya, sekaligus membuka peluang bagi pembeli baru yang mencari lindung nilai terhadap inflasi.

Batu Permata Berwarna Jadi Sorotan

Di dalam segmen perhiasan, batu permata berwarna muncul sebagai kategori dengan pertumbuhan paling pesat. Permintaan terhadap rubi, safir, dan zamrud meningkat seiring kombinasi antara kelangkaan dan daya tarik estetika.

Tidak seperti berlian yang kini dapat diproduksi di laboratorium, batu permata berwarna berkualitas tinggi relatif sulit direplikasi. Karakter unik dari setiap batu, termasuk inklusi alami di dalamnya, justru menjadi nilai tambah yang meningkatkan harga.

Di rumah lelang besar seperti Christie’s, batu permata berwarna bahkan kerap terjual hingga dua sampai tiga kali lipat dari estimasi tertinggi. Hal ini jadi fenomena yang tergolong jarang terjadi. Tren ini juga didorong oleh pengaruh budaya populer. Sejumlah selebritis seperti Kate Middleton, Eva Longoria, Halle Berry, Rita Ora, dan Halsey turut mempopulerkan cincin pertunangan dengan batu permata berwarna.

Saat ini, sekitar 15% cincin pertunangan menggunakan batu permata berwarna, meningkat signifikan dibandingkan hanya 5% satu dekade lalu.

Generasi Muda Mulai Masuk

Minat terhadap perhiasan sebagai investasi juga mulai meluas ke generasi yang lebih muda. Data Christie’s menunjukkan bahwa pembeli dari kalangan milenial dan Gen Z menyumbang sekitar 44% dari total pembeli barang mewah pada 2025. Hal ini menandakan perubahan pola pikir, di mana generasi baru mulai memandang perhiasan bukan sekadar simbol gaya, tetapi juga sebagai instrumen penyimpan nilai.

Tetap Bukan Pengganti Instrumen Keuangan

Meski menjanjikan, para ahli mengingatkan bahwa perhiasan tidak bisa disamakan dengan instrumen investasi konvensional seperti saham atau properti. Perhiasan tidak menghasilkan pendapatan, serta memiliki tantangan dalam hal likuiditas, biaya penyimpanan, hingga keamanan.

Selain itu, biaya transaksi dalam jual beli perhiasan juga relatif tinggi, sehingga investor disarankan menjadikannya sebagai pelengkap portofolio, bukan pengganti aset utama.

Namun demikian, daya tarik perhiasan tetap sulit diabaikan. Selain nilai ekonominya, setiap batu permata membawa cerita dan sejarah tersendiri, yang jadi sebuah kombinasi menarik antara seni, kelangkaan, dan nilai yang tak lekang oleh waktu.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Ekonomi Pasca Lebaran: Peluang Tumbuh atau Hanya Peningkatan Sementara?

24 Maret 2026

Sumitronomics & MBG: Mesin Ekonomi Rakyat atau Bom Waktu Fiskal?

23 Maret 2026

Pemerintah Dianggap Tidak Adil, Rekrutmen CPNS 2026 Terhambat Anggaran, Namun Kemhan Terima 30.000 SPPI untuk Koperasi Merah Putih

23 Maret 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Geely Siap Tekan Dominasi BYD di Pasar Mobil Tiongkok

24 Maret 2026

7 Inspirasi Lampu Gantung 3D Modern yang Menarik

24 Maret 2026

Alasan Aurelie Moeremans Angkat “Broken Strings” Jadi Film: Edukasi Bahaya Child Grooming

24 Maret 2026

Emas melonjak, batu permata jadi pilihan investasi 2026

24 Maret 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?