Perkembangan AI di Tengah Persaingan Global
Elon Musk, seorang miliarder dan pemilik X/Twitter, mengungkapkan pandangannya tentang keunggulan China dalam bidang kecerdasan buatan (AI). Menurutnya, China memiliki peluang besar untuk unggul karena memiliki daya komputasi dan pasokan listrik yang lebih besar dibanding negara lain. Musk menilai bahwa kemampuan China dalam meningkatkan kapasitas pembangkit listrik akan sangat mendukung operasional pusat data AI yang membutuhkan energi besar.
Faktor infrastruktur dan energi menjadi kunci keunggulan China, seiring dengan keterbatasan pasokan listrik di AS yang dinilai menghambat pengembangan proyek AI. Pandangan Musk ini diamini oleh peneliti China, Zhou Mi, yang menilai infrastruktur listrik China mendukung ekspansi kapasitas komputasi jangka panjang.
Pandangan dari CEO Nvidia
CEO Nvidia, Jensen Huang, juga menyampaikan pandangan serupa. Ia mengatakan bahwa China bisa memenangkan perlombaan AI karena kebijakan pemerintahnya lebih mendukung, termasuk subsidi energi dan insentif listrik bagi pusat data. Sebaliknya, pembatasan ekspor chip dan regulasi berlapis di AS dinilai justru memperlambat inovasi AI.
Huang melontarkan pernyataan tersebut dalam sebuah wawancara pada November 2025 lalu. Ia menegaskan bahwa China akan memenangkan perlombaan AI. Pandangan Huang datang di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Beijing terkait pembatasan ekspor chip AI canggih.
Pemerintahan Presiden Donald Trump tetap melarang Nvidia menjual chip kelas atasnya ke China, termasuk seri terbaru Blackwell. Chip AI tersebut sedianya digunakan untuk melatih model AI besar (large language model/LLM).
Kebijakan Pemerintah China yang Mendukung
Huang juga menyoroti kontrasnya kebijakan AS dan langkah China. Bos Nvidia itu mengatakan, pemerintah China kini melonggarkan aturan dan meningkatkan subsidi energi untuk pusat data yang dijalankan oleh perusahaan-perusahaan besar seperti ByteDance, Alibaba, dan Tencent.
Menurut laporan Financial Times, beberapa pemerintah daerah di China bahkan memberikan potongan harga listrik untuk mendorong adopsi chip lokal buatan Huawei dan Cambricon. Chip tersebut dikenal kurang efisien soal energi listrik, dibandingkan produk Nvidia. Namun, supaya tetap diadopsi, pemerintah memilih memberikan insentif berupa diskon harga listrik.
“Di China, tenaga listrik hampir gratis,” ujar Huang.
Regulasi di AS yang Menghambat Inovasi
Sebaliknya, di AS, Huang menilai munculnya berbagai regulasi baru di tingkat negara bagian justru memperlambat inovasi. Ia menyatakan bahwa AS bisa punya 50 peraturan AI yang berbeda. Itu tidak efisien, menurutnya.
Huang menekankan bahwa sikap “sarkastis dan sinis” di negara Barat justru menghambat inovasi. “Kita butuh lebih banyak optimisme,” ujarnya.
Faktor Infrastruktur dan Energi
Infrastruktur dan pasokan listrik China kerap disebut sebagai elemen yang dapat mendukung perluasan kapasitas komputasi jangka panjang. Hal ini didasarkan pada hambatan yang dialami saat mengembangkan proyek AI di AS. Kendala pasokan listrik di banyak bagian AS, dikombinasikan dengan konsentrasi perusahaan teknologi besar dan kebutuhan listrik yang sangat besar dari data center AI, kemungkinan telah membatasi perluasan beberapa proyek.
Musk bahkan memprediksi bahwa China bisa menghasilkan output listrik tiga kali lipat dibanding AS pada tahun 2026. Hal tersebut bisa menunjang data center AI yang perlu banyak energi.
Kesimpulan
Dari berbagai pandangan yang disampaikan oleh tokoh-tokoh ternama di dunia teknologi, terlihat bahwa China memiliki keunggulan signifikan dalam persaingan AI. Dukungan infrastruktur, pasokan listrik yang stabil, serta kebijakan pemerintah yang mendukung menjadi faktor utama yang mendorong pertumbuhan AI di Negeri Tirai Bambu. Sementara itu, AS masih menghadapi tantangan dalam bentuk regulasi dan keterbatasan pasokan listrik.



