Indonesiadiscover.com.CO.ID – JAKARTA
Pemerintah Indonesia akan menerapkan kebijakan bea keluar ekspor batubara pada tahun 2026. Kebijakan ini diperkirakan menjadi beban tambahan bagi perusahaan-perusahaan sektor batubara. Inav Haria Chandra, Analis Sinarmas Sekuritas, memperkirakan bahwa sektor batubara Indonesia akan menghadapi risiko kebijakan tambahan setelah Komisi XI DPR menyetujui rencana pemerintah untuk kembali memberlakukan bea ekspor batubara.
Usulan bea tersebut masih dalam pembahasan antar kementerian, dengan struktur dan tingkat pemicu yang belum sepenuhnya ditentukan. Inav menjelaskan bahwa para pejabat telah menyatakan bahwa bea tersebut hanya akan diaktifkan selama periode harga batubara yang tinggi. Hal ini bertujuan untuk membatasi dampak negatif jangka pendek, tetapi juga memperkenalkan variabel yang dapat membatasi potensi kenaikan harga di masa depan.
Di sisi lain, Inav melihat rencana pemerintah untuk meluncurkan mandat biodiesel B50 pada semester II tahun 2026 sebagai beban biaya struktural. Meskipun tujuan dari kebijakan ini adalah untuk mengurangi impor diesel, industri telah menyoroti beberapa kekurangan operasional, termasuk penurunan daya sebesar 10% hingga 20% dan peningkatan biaya pemeliharaan peralatan berdasarkan uji lapangan awal.
“Karena perusahaan pertambangan tidak tercakup oleh subsidi bahan bakar publik, biaya-biaya ini diperkirakan akan langsung berdampak pada laba bersih,” ujar Inav.
Lebih lanjut, Inav menyampaikan bahwa saham batubara Indonesia mencatatkan kenaikan moderat pada tahun 2025, mengungguli indeks EIDO dan tolok ukur batubara global, terutama pada semester II tahun 2025. Kinerja ini didorong oleh perusahaan tambang yang terdiversifikasi dengan eksposur terhadap logam dasar, yang membantu mengimbangi pelemahan harga batubara termal.
Sebaliknya, perusahaan tambang batubara murni menunjukkan pengembalian yang rendah, mengikuti tren harga batubara. Pada tahun 2025, saham batubara Indonesia berkinerja terbaik, terutama PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Indika Energi Tbk (INDY), yang secara signifikan mengungguli harga batubara Newcastle sebagai tolok ukur.
Kinerja yang lebih baik ini kurang didorong oleh fundamental batubara dan lebih didorong oleh eksposur terhadap segmen non-batubara. “INDY dan BUMI telah mendapatkan daya tarik sebagai saham yang terkait dengan emas, didukung oleh kenaikan harga emas,” kata Inav.
Sementara saham batubara termal murni seperti PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) tetap lebih erat berkorelasi dengan volatilitas tolok ukur.
Analis Ajaib Sekuritas Asia, Rizal Rafly, mengatakan pasar batubara memasuki fase yang lebih ketat dan lebih didorong oleh kebijakan karena negara-negara ekonomi utama menyeimbangkan tujuan transisi energi dengan kebutuhan menjaga keandalan jaringan listrik. India menargetkan kapasitas batubara sebesar 307 Gigawatt (GW) pada tahun 2035, naik 46% dari 210 GW saat ini. Serta menggandakan pembangkit listrik non-fosil menjadi 500 GW pada tahun 2030, yang menggarisbawahi mengapa Asia masih menyumbang lebih dari 60% penggunaan batubara global.
Permintaan batubara China diperkirakan akan mencapai puncaknya hanya pada tahun 2030, dan Indonesia, eksportir batubara termal terbesar di dunia, sedang membentuk kembali dinamika pengiriman melalui laut dengan rencana pajak ekspor 1%–5% mulai tahun 2026.
INDY Chart
by TradingView
“Pasar batubara semakin ketat, dengan pembatasan ekspor Indonesia kemungkinan akan menaikkan harga pada tahun 2026 menuju US$ 120–US$ 125/ton,” kata Rizal dalam risetnya pada 12 Desember 2025.
Inav merekomendasikan Buy saham PT Indika Energi Tbk (INDY) dengan target harga Rp 3.300 per saham. Sedangkan Rizal merekomendasikan Buy saham PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) dengan target harga Rp 24.300 per saham.



