Transportasi udara sering kali dianggap sebagai salah satu cara perjalanan yang paling aman di dunia. Meskipun pesawat terbang membawa ratusan ton logam di ketinggian 35.000 kaki, angka kecelakaan jauh lebih rendah dibandingkan transportasi darat atau laut. Statistik menunjukkan bahwa risiko tewas saat berkendara ke supermarket jauh lebih tinggi daripada saat terbang melintasi benua.
Rahasia keamanan ini bukanlah karena pilot adalah manusia sempurna yang tidak pernah membuat kesalahan. Justru sebaliknya, industri penerbangan menjadi sangat aman karena mereka sadar bahwa kesalahan manusia adalah hal yang wajar. Mereka memahami bahwa setiap kesalahan kecil, bahkan hanya satu baut yang longgar, bisa berakibat fatal. Oleh karena itu, setiap insiden akan dianalisis secara mendalam untuk mencegah terulangnya kesalahan yang sama.
Di darat, ketika terjadi kecelakaan mobil, orang cenderung saling menyalahkan dan mencari siapa yang bersalah. Asuransi kemudian mengganti kerugian, dan semuanya selesai. Di laut, kapal tenggelam sering dianggap sebagai takdir atau akibat cuaca buruk. Namun di udara, setiap kesalahan kecil akan memicu investigasi menyeluruh oleh seluruh industri. Mereka tidak mencari pelaku kesalahan, tetapi fokus pada data dari kotak hitam untuk memahami penyebabnya dan mencegah terulangnya kejadian serupa.
Penerbangan tidak pernah menutupi kesalahan. Sebaliknya, mereka belajar dari puing-puing dan berbagi pengetahuan tersebut ke seluruh dunia agar tidak ada pilot lain yang melakukan kesalahan yang sama. Ini adalah prinsip utama dari “Black Box Thinking”, sebuah pendekatan yang mengajarkan untuk menghadapi kesalahan dengan objektivitas dan kejujuran.
Sebagai penulis, kita sering kali mengabaikan prinsip ini. Ketika tulisan kita tidak mendapat respons atau malah mendapat kritik, kita cenderung membela diri dengan ego. Kita justru membangun benteng pertahanan untuk melindungi harga diri, alih-alih mencari akar masalah.
Jebakan “Menulis dengan Hati”, Terluka karena Ego
Kita sering diajarkan untuk “menulis dengan hati”. Masalahnya, ketika kita terlalu melibatkan perasaan, tulisan itu jadi terasa seperti bagian dari diri kita sendiri. Saat seseorang mengkritik tulisan kita, rasanya seperti mereka sedang mengkritik kita langsung. Inilah yang sering membuat kita stagnan dalam proses belajar.
Penulis dengan “Black Box Thinking” justru melihat tulisan secara objektif. Jika artikel kita tidak ada yang membaca, alih-alih menyalahkan algoritma atau selera pembaca, kita harus bertanya: “Apakah judul saya kurang menarik?” atau “Apakah saya terlalu banyak berputar-putar di awal?”
Jika kita masih merasa sakit hati saat menerima masukan, itu bisa menjadi tanda bahwa kita lebih mencintai ego daripada proses belajar. Dengan mengakui kekurangan, kita bisa memperbaiki diri dan berkembang.
Berhenti Menjadi “Pengacara” bagi Kesalahan Sendiri
Sering kali, kita menjadi pengacara terbaik bagi tulisan buruk kita sendiri. Ketika seseorang mengatakan tulisan kita sulit dipahami, kita membela diri dengan berkata, “Ah, mereka saja yang tidak paham estetika.” Itu adalah cara aman untuk melindungi perasaan, tetapi juga cara cepat untuk berhenti berkembang.
“Black Box Thinking” mengajak kita untuk melakukan investigasi radikal. Kita harus berani menjadi “Jaksa Penuntut” bagi naskah kita sendiri. Kita harus punya keberanian untuk mengakui: “Ya, bagian ini memang membosankan,” atau “Argumen saya di paragraf ini lemah.” Mengakui kekurangan dalam tulisan adalah langkah pertama yang paling jujur untuk memperbaikinya di artikel berikutnya.
Sukses Adalah Hasil dari “Gagal yang Terekam”
Penerbangan menjadi aman karena mereka memiliki data dari setiap kegagalan. Setiap kesalahan di masa lalu adalah pelajaran berharga untuk masa depan. Apakah kita sudah memperlakukan tulisan kita yang “gagal” sebagai pelajaran? Ataukah kita langsung ingin melupakannya karena merasa malu?
Seorang penulis yang tumbuh tidak butuh pujian kosong. Kita butuh diagnosa yang jujur. Satu masukan jujur dari sesama penulis atau pembaca jauh lebih berharga daripada seribu like dari orang yang bahkan tidak membaca tulisan kita sampai habis.
Mari Membedah, Bukan Sekadar Menulis
Menulis adalah perjalanan panjang tanpa ujung. Saya pun masih sering merasa tulisan saya jauh dari sempurna. Namun, saya belajar bahwa “roh” dalam sebuah tulisan hanya bisa tumbuh jika kita punya nyali untuk membedah “Kotak Hitam” kita sendiri.
Mari kita buang rasa “baper” yang berlebihan. Mari kita lihat setiap kritik atau tulisan yang sepi peminat sebagai Sinyal Error sebuah kompas yang memberitahu kita bagian mana yang harus diperbaiki.
Dunia literasi tidak butuh penulis yang sempurna, tapi butuh penulis yang berani jujur pada kekurangannya dan terus memperbaiki diri.
Mari kita berhenti membela ego, dan mulai membedah kotak hitam kita masing-masing. Selamat belajar menulis!



