Kekerasan di Lebanon: Dua Prajurit TNI Gugur dalam Serangan Israel
Dalam sebuah pernyataan yang dibagikan melalui media sosial, UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon) menyampaikan bahwa dua penjaga perdamaian tewas pada hari Senin ketika kendaraan mereka diledakkan oleh ledakan yang tidak diketahui sumbernya di dekat desa Bani Hayyan di Lebanon selatan. Pasukan PBB juga mengungkapkan bahwa satu penjaga perdamaian terluka parah dan satu lagi mengalami cedera ringan dalam kejadian tersebut.
“Kami menegaskan kembali bahwa tidak ada seorang pun yang harus mati demi perdamaian,” kata UNIFIL dalam pernyataannya.
Serangan mematikan ini terjadi beberapa jam setelah UNIFIL melaporkan kematian salah satu penjaga perdamaian dalam insiden terpisah. Insiden tersebut terjadi ketika proyektil meledak di posisi UNIFIL di dekat desa Aadshit al-Qusayr di Lebanon selatan. Meski asal usul proyektil belum diketahui secara pasti, penyelidikan telah dilakukan terhadap kejadian tersebut.
Kementerian Luar Negeri Indonesia kemudian mengonfirmasi bahwa salah satu korban tewas adalah warga negara Indonesia. Selain itu, tiga penjaga perdamaian Indonesia lainnya yang tergabung dalam UNIFIL juga terluka dalam serangan tersebut, yang digambarkan sebagai “tembakan artileri tidak langsung”.
Indonesia mengecam keras insiden tersebut dan menyerukan penyelidikan yang menyeluruh serta transparan. Pernyataan dari kementerian tersebut menyebutkan bahwa Indonesia kembali mengutuk serangan Israel di Lebanon selatan dan menyerukan semua pihak untuk menghormati kedaulatan dan integritas wilayah Lebanon. Selain itu, pemerintah Indonesia juga meminta agar serangan terhadap penduduk sipil dan infrastruktur dihentikan serta kembali melakukan dialog dan diplomasi untuk mencegah eskalasi lebih lanjut dan memajukan perdamaian.
Invasi Israel yang Semakin Dalam
Insiden mematikan ini terjadi saat Israel memperluas invasi daratnya ke Lebanon, mendorong lebih jauh ke wilayah selatan negara tersebut sebagai bagian dari kampanye yang bertujuan untuk mengamankan wilayah utara Israel dari serangan udara Hizbullah.
Serangan intensif Israel terhadap tetangganya di utara dimulai pada awal Maret setelah Hizbullah melepaskan tembakan ke Israel utara sebagai respons terhadap perang AS-Israel terhadap Iran, yang dimulai pada 28 Februari. Menurut data dari Kementerian Kesehatan Lebanon, lebih dari 1.200 orang tewas dalam serangan Israel yang terus berlanjut di Lebanon, sementara lebih dari 1,2 juta orang terpaksa meninggalkan rumah mereka di seluruh negeri.
Invasi darat Israel telah memicu konfrontasi yang semakin intensif dan kekerasan mematikan di selatan Lebanon. Obaida Hitto dari kota Tyre di selatan mengatakan bahwa situasi di wilayah tersebut sangat memprihatinkan.
Dalam insiden lain baru-baru ini, seorang tentara Lebanon tewas dalam serangan Israel di sebuah pos pemeriksaan militer di selatan pada hari Senin, demikian disampaikan oleh tentara Lebanon dalam sebuah pernyataan. Hitto menambahkan bahwa pos pemeriksaan tersebut jelas ditandai sebagai posisi tentara Lebanon. Ia juga mencatat bahwa 48 jam terakhir telah ditandai dengan beberapa insiden yang melibatkan UNIFIL dan militer Lebanon.
Kecaman Global terhadap Kekerasan
Para pemimpin dunia mengutuk meningkatnya kekerasan, dan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyerukan semua pihak yang berkonflik untuk mematuhi hukum internasional dan menjamin keamanan semua personel PBB.
“Ini hanyalah salah satu dari sejumlah insiden baru-baru ini yang membahayakan keselamatan & keamanan pasukan penjaga perdamaian,” tulis Guterres di X setelah penjaga perdamaian Indonesia terbunuh.
Prancis pada hari Senin meminta pertemuan mendesak Dewan Keamanan PBB, dengan Menteri Luar Negeri Jean-Noel Barrot menyatakan bahwa serangan terhadap posisi UNIFIL adalah “tidak dapat diterima dan tidak dapat dibenarkan”. Barrot juga menyerukan penyelidikan menyeluruh atas insiden mematikan tersebut.
Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez, seorang kritikus vokal terhadap pemboman Israel di Lebanon, mengatakan “garis merah baru telah dilewati” setelah serangan fatal pertama yang melibatkan UNIFIL minggu ini. Ia menulis di media sosial bahwa serangan terhadap misi penjaga perdamaian PBB adalah agresi yang tidak dapat dibenarkan terhadap seluruh komunitas internasional.
Perdana Menteri Republik Irlandia Micheal Martin juga memperingatkan terhadap “eskalasi kekerasan yang mengejutkan yang telah melukai sejumlah penjaga perdamaian dalam beberapa hari terakhir”.



