Pemimpin Tertinggi Iran Tewas dalam Serangan Israel
Serangan besar-besaran yang dilakukan oleh Israel dan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran telah mengakibatkan kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Selain itu, sejumlah pejabat tinggi Iran seperti Menteri Pertahanan Amir Hatami dan Komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Mohammed Pakpour juga tewas dalam serangan tersebut.
Serangan ini memicu reaksi cepat dari Teheran, yang langsung melancarkan serangan balasan ke Israel dan sejumlah situs militer AS di Timur Tengah. Akibatnya, beberapa negara Arab seperti Saudi Arabia, Kuwait, Bahrain, Uni Emirat Arab (UEA), hingga Siprus ikut diserang karena menjadi rumah bagi pangkalan militer AS.
Penembakan Komandan Pasukan Quds Iran
Dalam peristiwa terbaru, Israel mengklaim telah membunuh Daoud Ali Zadeh, komandan Pasukan Quds Iran di Lebanon, dalam serangan di Teheran. Daoud Ali Zadeh bertindak sebagai pengganti sementara Hassan Mahdavi, mantan komandan Korps Lebanon, yang tewas dalam serangan IDF sebelumnya.
Divisi yang dipimpin oleh Zadeh mendukung Hizbullah dalam membangun pasukannya dan berfungsi sebagai penghubung antara pimpinan senior IRGC dan Hizbullah. Menurut IDF, korps Lebanon adalah jembatan antara IRGC dan Hizbullah, milisi yang didukung Iran di Lebanon yang telah berulang kali menjadi sasaran Israel sejak Senin (2/3).
Sementara itu, Hizbullah menanggapi dengan menembakkan rudal dan drone ke situs militer Israel. Hal ini menunjukkan meningkatnya ketegangan di kawasan setelah serangan gabungan AS-Israel yang menewaskan Khamenei dan anggota keluarganya, termasuk istrinya, putrinya, menantunya, dan cucunya.
Serangan Udara Israel di Beirut
Serangan udara Israel terbaru mengguncang Beirut, dengan target beberapa lokasi di pinggiran selatan kota, termasuk kompleks perumahan di Hay Maadi dan Bourj el-Barajneh, serta kota Tyre. Tentara Israel menyatakan telah melancarkan serangan terhadap posisi Hizbullah di seluruh Lebanon, dan memperingatkan bahwa keselarasan kelompok tersebut dengan Iran akan membawa konsekuensi atas serangannya terhadap Israel.
Dalam serangan tersebut, tentara Israel juga membunuh Hussein Makled, kepala markas intelijen Hizbullah. Ledakan memaksa warga untuk mengungsi dengan berjalan kaki dan menggunakan kendaraan, menyebabkan kemacetan di jalan-jalan di tengah asap dan puing-puing.
Otoritas kesehatan Lebanon melaporkan setidaknya 15 warga sipil terluka, sementara tim darurat berupaya mengendalikan kebakaran dan menilai kerusakan struktural. Serangan tersebut merupakan balasan atas peluncuran rudal Hizbullah ke Israel utara, yang memperintensifkan permusuhan lintas perbatasan.
Peringatan dari Menteri Pertahanan Israel
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengeluarkan peringatan langsung kepada Sekretaris Jenderal Hizbullah, Naim Qasim, mengancamnya dengan “nasib yang sama seperti Khamenei,” merujuk pada serangan udara AS-Israel pada 28 Februari yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Katz menggambarkan kepemimpinan Qasim sebagai “sementara,” mengulangi ancaman yang muncul setelah suksesi Qasim pada tahun 2024 setelah kematian Hassan Nasrallah.
Hezbollah merespons dengan menantang, berjanji akan mengintensifkan serangan roket terhadap target Israel dan menyebut serangan tersebut sebagai “agresi Zionis” sebagai bentuk solidaritas dengan Iran. Kelompok itu mengaku bertanggung jawab atas serangan sebelumnya di Haifa dan memberi sinyal kesiapan untuk konflik berkelanjutan.
Pemerintah Lebanon mengutuk serangan udara tersebut sebagai “pelanggaran kedaulatan yang terang-terangan,” menyerukan gencatan senjata segera melalui PBB dan mendesak intervensi internasional untuk melindungi warga sipil.
Evakuasi WNI dari Teheran
Di tengah situasi yang masih berkembang, Kementerian Luar Negeri RI menyiapkan evakuasi terhadap 15 warga negara Indonesia (WNI) yang berada di Teheran, Iran, di tengah meningkatnya eskalasi konflik usai serangan AS-Israel dan penutupan ruang udara.
Menteri Luar Negeri RI Sugiono menjelaskan bahwa proses pemulangan tidak bisa dilakukan secara instan karena mempertimbangkan kondisi keamanan dan logistik di lapangan. Perjalanan darat menuju Baku (Azerbaijan) menjadi salah satu opsi karena keterbatasan penerbangan langsung akibat situasi keamanan.
Proses tersebut membutuhkan perhitungan matang, termasuk kondisi kesehatan para WNI serta kesiapan logistik. Sugiono menegaskan bahwa pemerintah hanya akan mengevakuasi WNI yang memang mengajukan permintaan. Ia menyebut tidak semua WNI di kawasan terdampak ingin dipulangkan.
Di tengah situasi yang masih berkembang, pemerintah terus berkoordinasi dengan perwakilan RI di kawasan serta menjalin komunikasi dengan berbagai pihak, termasuk negara-negara Teluk yang juga terdampak.



