Penggunaan AI sebagai Mentor Belajar
Muhammad Agha Nazih, seorang siswa SMAN 1 Kudus, berhasil meraih nilai sempurna 100 pada Tes Kemampuan Akademik (TKA) mata pelajaran Fisika. Ia mencapai prestasi ini tanpa mengikuti bimbingan belajar (bimbel), melainkan dengan belajar mandiri dan memanfaatkan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) sebagai mentor.
AI digunakan secara terstruktur lewat prompt yang jelas, mulai dari membuat soal bertahap, mengecek pemahaman, hingga mengulas konsep yang belum dikuasai. Metode ini membantu Agha dalam menyusun latihan soal dan memperdalam pemahaman materi secara efisien.
Persiapan Jangka Panjang
Persiapan TKA dimulai sejak tiga bulan sebelum ujian. Langkah awal yang dilakukan adalah memahami ketentuan dan peraturan TKA secara menyeluruh, termasuk durasi ujian serta kisi-kisi setiap mata pelajaran. Agha berusaha mempelajari materi sedini mungkin agar tidak panik saat hari ujian mendekat.
Dalam proses belajar, ia selalu memulai dengan menyusun rencana dan tujuan. Materi, durasi, serta target capaian ditulis di selembar kertas, lalu dijalankan secara disiplin. Setelah sesi belajar, ia selalu melakukan review ulang materi agar tidak lupa dan memastikan benar-benar paham.
Tips Menggunakan AI dalam Belajar
Menurut Agha, kunci utama agar AI benar-benar membantu adalah menyusun prompt secara jelas dan terstruktur. Contohnya, setelah belajar dari YouTube, ia meminta AI membuatkan soal. Misalnya, “Buatkan saya 10 soal pilihan ganda (5 opsi) tentang materi Fisika ini, dengan tingkat kesulitan dari mudah sampai sulit.”
Ia menilai prompt yang detail jauh lebih efektif dibanding perintah singkat. Selain itu, Agha juga menyarankan untuk mengaktifkan mode penalaran AI jika tersedia, karena kualitas jawabannya dinilai lebih baik dibanding mode cepat.
Hasil yang Memuaskan
Hasilnya, Agha berhasil mencetak nilai sempurna 100 untuk mata pelajaran Fisika di TKA. Tak hanya itu, ia juga mencatatkan hasil baik pada mata pelajaran lain. Untuk mata pelajaran wajib, ia memperoleh nilai Matematika 83,20, Bahasa Indonesia 80,13, dan Bahasa Inggris 57,63. Sementara pada mata pelajaran pilihan lainnya, yakni Matematika Tingkat Lanjut, ia meraih nilai 62,97.
Peran Orangtua dalam Dukungan Belajar
Prestasi akademik Agha tidak datang secara instan. Selama SMA, ia pernah meraih juara dua dan juara empat Olimpiade Sains Nasional (OSN) Matematika tingkat kabupaten selama dua tahun berturut-turut. Bahkan sejak SD dan SMP, ia sudah aktif mengikuti berbagai lomba Matematika dan IPA, mulai dari tingkat kabupaten hingga nasional.
Ketertarikannya pada Fisika, menurut Agha, berangkat dari karakter ilmu tersebut yang bersifat numerik dan konseptual. Ia lebih menyukai pelajaran yang menonjolkan perhitungan dibandingkan hafalan.
Rencana Pendidikan Ke depan
Meski sukses meraih nilai sempurna di Fisika, Agha berencana melanjutkan pendidikan ke Jurusan Ilmu Aktuaria Universitas Gadjah Mada (UGM) jika memenuhi syarat dan diterima. Ia tertarik pada kombinasi konsep matematika dan ekonomi yang ada di bidang aktuaria.
Agha juga menekankan pentingnya peran orangtua dalam mendukung proses belajarnya. Ia menyebut ayahnya, Arief Yudianto, S.E., dan ibunya, Hanik Hidayati, S.Pd.I., M.Pd., sebagai sosok yang selalu memberi dukungan tanpa tekanan. Mereka memberi ruang bagi Agha untuk belajar dan tidak pernah menuntut nilai sempurna.
Tips Bagi Siswa SMA
Agha membagikan tips bagi siswa SMA yang akan mengikuti TKA. Menurutnya, selain metode belajar dan pemanfaatan teknologi, hal terpenting adalah memahami tujuan belajar. Selalu tanyakan pada diri sendiri: apa tujuan Anda belajar TKA, mengapa ingin mendapat nilai tinggi, dan untuk siapa Anda berjuang. Kalau tujuan sudah jelas, kita akan lebih disiplin dan merasa punya tanggung jawab lebih besar untuk meraih hasil terbaik.



