Kolaborasi Internasional untuk Pengembangan Batik Dermo
Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri bekerja sama dengan Universiti Teknologi PETRONAS (UTP) Malaysia dalam upaya mengembangkan UMKM batik di Kampung Batik Dermo, Kota Kediri. Kolaborasi ini bertujuan untuk memperkuat rebranding, inovasi desain, serta pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI) agar Batik Dermo mampu bersaing di pasar regional ASEAN.
Program ini melibatkan mahasiswa dari kedua universitas yang terjun langsung mendampingi para perajin batik di Kelurahan Dermo. Mereka tidak hanya mempelajari proses membatik tradisional, tetapi juga mengembangkan motif baru berbasis teknologi digital yang lebih adaptif terhadap selera pasar internasional.
Penguatan Identitas Merek dan Daya Saing Produk
Dekan Fakultas Teknik UNP Kediri, Dr. Sulistiono, M.Si., menyatakan bahwa Batik Dermo memiliki potensi besar namun masih membutuhkan penguatan dari sisi identitas merek dan daya saing produk. Ia menilai inovasi menjadi kunci agar batik lokal mampu menembus pasar lebih luas.
“Mahasiswa diarahkan mendesain motif batik menggunakan AI. Hasil desain ini nantinya ditawarkan kepada pengrajin di Dermo untuk dijadikan motif baru. Harapannya, Batik Dermo bisa memiliki branding yang lebih kuat, setidaknya bisa Go ASEAN,” ujar Sulistiono.
Pengembangan Desain dan Teknik Membatik
Selain pengembangan desain batik, mahasiswa dari kedua negara juga mempelajari teknik membatik kain hingga pembuatan wayang kulit secara langsung bersama perajin lokal. Kegiatan ini menjadi sarana pertukaran budaya sekaligus penguatan pengabdian masyarakat berbasis kearifan lokal.
Vice Provost Student Affairs UTP Malaysia, Saravanan Muthiah, mengapresiasi keterampilan masyarakat Kelurahan Dermo dalam menjaga tradisi batik yang bernilai seni tinggi. Ia menilai pengalaman tersebut sangat berharga bagi mahasiswa UTP Malaysia.
“Kami melihat masyarakat di sini sangat cerdas dan terampil dalam bidang batik. Ini merupakan pengalaman luar biasa bagi mahasiswa kami untuk mempelajari teknik pembuatan batik yang bernilai seni tinggi,” ungkap Saravanan.
Kolaborasi yang Berkelanjutan
Ia menambahkan, kegiatan di Kampung Batik Dermo merupakan kolaborasi kedua antara UTP Malaysia dan UNP Kediri. Menurutnya, kesiapan UNP Kediri membuat mahasiswa UTP dapat menyerap nilai-nilai pengabdian masyarakat secara optimal.
Sebanyak 30 mahasiswa dan empat staf UTP Malaysia mengikuti rangkaian pengenalan budaya di UNP Kediri dan Kampung Batik Dermo. Melalui kerja sama ini, diharapkan akan tercipta inovasi yang berkelanjutan dan meningkatkan kualitas produk batik Dermo.
Teknologi Kecerdasan Buatan dalam Desain Batik
Salah satu inisiatif utama dalam kolaborasi ini adalah penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk mendesain motif batik. Mahasiswa dari UNP Kediri dan UTP Malaysia bekerja sama untuk menciptakan pola dan warna yang sesuai dengan tren pasar global. Hasil desain ini kemudian disampaikan kepada para perajin untuk diimplementasikan dalam produksi mereka.
Proses ini tidak hanya memberikan peluang baru bagi perajin, tetapi juga membuka jalan bagi batik Dermo untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Dengan kombinasi antara tradisi dan teknologi, diharapkan Batik Dermo dapat menjadi ikon yang dikenal baik di tingkat nasional maupun internasional.
Pertukaran Budaya dan Penguatan Hubungan
Kolaborasi ini juga menjadi wadah untuk pertukaran budaya antara mahasiswa dari Indonesia dan Malaysia. Melalui interaksi langsung dengan perajin dan masyarakat setempat, mahasiswa belajar tentang nilai-nilai kearifan lokal dan pentingnya menjaga warisan budaya.
Melalui program ini, UNP Kediri dan UTP Malaysia menunjukkan komitmen mereka untuk mengembangkan UMKM melalui inovasi dan kolaborasi lintas batas. Dengan pendekatan yang holistik dan berkelanjutan, diharapkan Batik Dermo dapat menjadi contoh sukses dalam penguatan ekonomi kreatif daerah.



