Serangan Amerika Serikat ke Fasilitas Sipil Iran Menimbulkan Korban Jiwa dan Kerusakan Besar
Serangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat terhadap fasilitas-fasilitas sipil di Iran telah menimbulkan kekhawatiran besar dalam dunia internasional. Hal ini dikarenakan tindakan tersebut dianggap melanggar hukum internasional, khususnya dalam konteks kejahatan perang. Yang terbaru, serangan AS menyasar jembatan gantung terbesar di Iran, yaitu jembatan B1 yang menghubungkan Teheran dengan provinsi Alborz.
Presiden AS, Donald Trump, mengakui bahwa pihaknya bertanggung jawab atas penghancuran jembatan tersebut. Ia memberikan pernyataan setelah mengancam akan mengebom negara itu “kembali ke zaman batu” jika kesepakatan untuk mengakhiri perang selama lima minggu tidak tercapai. Dalam pernyataannya, Trump membagikan rekaman tentang jembatan B1 yang runtuh secara dramatis ke jalan lintas di bawahnya, dengan kepulan asap hitam yang semakin memperparah situasi.
Menurut laporan dari media pemerintah Iran, delapan orang tewas dan 95 lainnya luka-luka akibat serangan tersebut. Bagian tengah jembatan dihantam sebanyak dua kali, sehingga membuat jembatan tersebut tidak dapat digunakan lagi. Trump juga memperingatkan bahwa akan ada lebih banyak serangan jika penyelesaian tidak tercapai.
Menurut kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, Deputi Urusan Keamanan di Provinsi Alborz membenarkan bahwa serangan semalam menargetkan jembatan B1 di Karaj. Proyek infrastruktur besar ini hampir selesai, namun korban termasuk warga desa Bilghan, penumpang, dan keluarga yang berkumpul di sekitar lokasi untuk memperingati Hari Alam.
Militer AS disebut melakukan kembali pemboman berganda dalam serangan tersebut. Warga yang sedang berupaya menolong korban dalam pengeboman pertama kembali dihantam rudal kedua.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa serangan AS terhadap infrastruktur sipil tidak akan memaksa Iran untuk menyerah. Ia menegaskan bahwa menyerang bangunan sipil, termasuk jembatan yang belum selesai, tidak akan memaksa warga Iran untuk menyerah. Justru, tindakan seperti itu menunjukkan kekalahan dan keruntuhan moral musuh yang makin kacau.

Warga Iran berduka saat pemakaman korban serangan Israel dan AS, di pemakaman Behesht Zahra di selatan Teheran, Iran, 26 Maret 2026. – (EPA/ABEDIN TAHERKENAREH)
Dalam lebih dari 15.000 serangan bom sejak dimulainya perang, setidaknya 1.900 orang telah terbunuh dan 20.000 lainnya terluka di Iran sejak dimulainya perang, menurut perkiraan kasar Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional. Lebih dari 600 sekolah dan pusat pendidikan telah terkena serangan AS-Israel sejak 28 Februari, kata Kementerian Luar Negeri Iran.
Serangan Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran juga telah menimbulkan eskalasi konflik yang melibatkan sejumlah negara di kawasan Timur Tengah. Data terbaru menunjukkan sedikitnya 1.345 orang meninggal di seluruh wilayah Lebanon akibat agresi Israel, termasuk 125 anak-anak. Sementara lebih dari 4.040 orang lainnya terluka akibat serangan udara, artileri, dan bentrokan bersenjata yang terus berlangsung.
Sebagian besar korban di Lebanon berasal dari wilayah selatan yang menjadi lokasi utama pertempuran antara militer Israel dan Hizbullah, kelompok bersenjata yang bersekutu dengan Iran. Serangan udara Israel yang menargetkan basis militer, gudang senjata, serta infrastruktur yang diduga digunakan kelompok milisi sering kali mengenai kawasan permukiman. Ledakan di daerah padat penduduk inilah yang menyebabkan banyak korban sipil, termasuk anak-anak.
Di pihak Israel, tercatat 28 orang tewas. Dari jumlah itu, 10 tentara Israel dilaporkan tewas dalam pertempuran di wilayah Lebanon selatan saat operasi darat dilawan Hizbullah. Selain korban jiwa, 3.223 orang lainnya mengalami luka-luka dan harus menjalani perawatan di rumah sakit akibat serangan roket, drone, serta bentrokan langsung di garis depan.
Sementara itu, korban juga tercatat di kalangan militer Amerika Serikat yang ikut terlibat dalam operasi militer ke Iran. Sedikitnya 13 tentara AS tewas akibat serangan balasan Iran, sementara dua lainnya meninggal akibat insiden non-pertempuran, seperti kecelakaan atau kondisi medis saat bertugas. Selain itu, lebih dari 200 personel militer AS dilaporkan terluka akibat serangan roket, drone, maupun ledakan di pangkalan militer.
Dampak konflik juga merembet ke wilayah Tepi Barat, wilayah Palestina yang diduduki, di mana empat orang dilaporkan tewas dalam bentrokan antara pasukan keamanan Israel dan warga Palestina selama gelombang ketegangan yang meningkat sejak perang meluas di kawasan.
Sejumlah negara Teluk juga melaporkan korban akibat keterlibatan militer maupun dampak serangan balasan Iran ke pangkalan dan aset AS di wilayah. Uni Emirat Arab mencatat 12 orang tewas dan 169 lainnya terluka, sebagian besar merupakan personel militer yang bertugas dalam operasi gabungan regional.
Di Bahrain, tiga orang dilaporkan tewas, sementara negara tetangganya Arab Saudi melaporkan dua korban jiwa dan 20 orang terluka. Korban juga tercatat di Kuwait dengan enam orang tewas, serta tiga korban jiwa di Oman.

Asap membubung di langit setelah ledakan terdengar di Manama, Bahrain, 28 Februari 2026. Ledakan itu diduga akibat serangan balasan Iran atas serangan AS-Israel. – ( REUTERS/Stringer)
Sementara itu, Qatar melaporkan 16 orang mengalami luka-luka, dan Yordania mencatat 20 orang cedera, sebagian besar akibat serangan rudal atau insiden keamanan yang berkaitan dengan meningkatnya ketegangan di kawasan.
Di Suriah, sedikitnya empat orang tewas akibat serangan udara yang menyasar fasilitas militer dan konvoi bersenjata yang diduga terkait kelompok sekutu Iran.
Korban terbesar di luar Lebanon tercatat di Irak, di mana lebih dari 107 orang dilaporkan tewas. Sebagian besar korban berasal dari milisi bersenjata pro-Iran yang diserang militer AS serta akibat serangan udara yang menargetkan basis militer di berbagai wilayah negara tersebut.



