Persiapan Menghadapi Musim Hujan di Kota Semarang
Pemerintah Kota Semarang telah mengambil langkah-langkah strategis untuk menghadapi ancaman banjir yang sering terjadi pada musim hujan. Salah satu upaya utama adalah penyiapan sebanyak 220 pompa air, baik yang tetap maupun portabel. Pompa-pompa ini ditempatkan di berbagai titik rawan banjir agar dapat berfungsi secara optimal dalam mengalirkan air dan mencegah genangan.
Pemantauan dan Penempatan Pompa Air
Dari total 220 pompa tersebut, terdapat 119 pompa tetap dan 101 pompa portabel. Selain itu, pihak pemerintah juga menambahkan pompa baru di kawasan Tawang Mas dan Peterongan. Penambahan ini dilakukan sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk meningkatkan kapasitas penanggulangan banjir.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, menjelaskan bahwa persiapan ini tidak hanya bersifat darurat, melainkan juga mencakup perbaikan infrastruktur permanen. Langkah ini diambil setelah pengalaman banjir di akhir tahun 2024 hingga awal 2025, yang menjadi pelajaran berharga bagi pemerintah daerah.
Perbaikan Infrastruktur Jangka Panjang
Salah satu proyek besar yang sedang berlangsung adalah pelebaran outlet di wilayah Kaligawe. Outlet yang sebelumnya hanya selebar 10 meter kini diperluas menjadi 40 meter, sehingga mampu mengalirkan air dengan lebih efisien dan mencegah terulangnya genangan parah.
Selain itu, sistem polder juga diperbarui dengan melakukan pengerukan dan peningkatan kedalaman “umpung-umpung” atau waduk mini di kawasan Mijen, termasuk di Jatingaleh. Upaya ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas penyerapan air dan mengurangi risiko banjir.
Penguatan Armada Pompa dan Pembersihan Saluran
Untuk memperkuat infrastruktur tetap, Dinas Pekerjaan Umum (DPU) juga menambahkan pompa-pompa baru di beberapa titik rawan seperti Tawang Mas dan Peterongan. Pembenahan ini dilakukan agar bisa memberikan respons cepat ketika terjadi curah hujan tinggi.
Selain itu, pembersihan dan normalisasi saluran utama secara intensif dilakukan di berbagai wilayah, seperti Simpang Lima, Jalan Gajahmada, Pandanaran, serta sepanjang Banjir Kanal Timur. Kegiatan ini bertujuan untuk menjaga kelancaran aliran air dan mencegah tersumbatnya saluran.
Kolaborasi Lintas Instansi
Agustina menekankan bahwa keberhasilan dalam menangani banjir di Semarang tidak hanya bergantung pada tindakan pemerintah, tetapi juga pada kolaborasi yang kuat antara berbagai instansi. Koordinasi rutin dilakukan dengan BBWS (Balai Besar Wilayah Sungai), BPJN, Kodim, dan instansi lainnya guna memastikan respons yang terintegrasi dan cepat.
Peran Masyarakat dalam Pencegahan Banjir
Di luar upaya teknis dan kerja sama institusi, Wali Kota juga mengajak seluruh warga Semarang untuk menjadi mitra aktif dalam pencegahan banjir. Ia menekankan pentingnya kesadaran kolektif masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan dan tidak membuang sampah ke saluran air.
“Kesiapan teknis pemerintah harus diimbangi dengan kesadaran kolektif warga,” ujarnya. Dengan begitu, upaya pencegahan banjir akan lebih efektif dan berkelanjutan.



