Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Selasa, 17 Februari 2026
Trending
  • Jika Masih Pilih Pensil Daripada Ponsel, Ini 7 Kepribadian Anda Menurut Psikologi
  • Kolaborasi ITK-PFsains Dorong Ekonomi Sirkular dengan Olah Sampah Jadi Bahan Bakar Pellet
  • 5 Alasan Kang Shin Jin Layak Dihukum Mati di Akhir The Judge Returns
  • MBG Lawan Pemberdayaan Kantin Sekolah
  • Aneh! Poin Persebaya di luar kandang jauh lebih baik daripada di kandang!
  • Catat Jadwal dan Cara Daftar Mudik Gratis 2026 dari Jasa Raharja
  • Mulai Senin 16 Februari, 3 zodiak berikut masuk gerbang kesuksesan baru, asalkan percaya diri dan tidak ragu melangkah!
  • Apa Agenda Prabowo di Amerika?
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Olahraga»Aneh! Poin Persebaya di luar kandang jauh lebih baik daripada di kandang!
Olahraga

Aneh! Poin Persebaya di luar kandang jauh lebih baik daripada di kandang!

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover17 Februari 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Persebaya Surabaya Mengalami Kekalahan di Kandang Sendiri

Sebuah fakta yang tidak masuk akal namun harus diterima dengan lapang dada terungkap: poin tandang Persebaya Surabaya justru lebih baik daripada saat bermain di kandang sendiri. Statistik ini semakin menohok setelah Green Force kalah di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) dan kembali kehilangan angka di depan ribuan Bonek.

Persebaya Surabaya harus mengakui keunggulan Bhayangkara FC dengan skor tipis 1-2 pada Sabtu (14/2/2026). Kekalahan itu terasa pahit karena terjadi di kandang sendiri, tempat yang seharusnya menjadi benteng paling kokoh. Dua gol tim tamu dicetak Henry Doumbia pada menit ke-26 dan Moussa Sidibe pada menit 42+5. Satu gol balasan Persebaya Surabaya lahir dari kaki Mihailo Perovic pada menit ke-44, namun tak cukup menyelamatkan laga.

Hasil ini membuat Persebaya Surabaya gagal memangkas margin poin dari Malut United di papan klasemen. Green Force tetap tertahan di posisi kelima dengan 35 poin, terpaut lima angka dari Malut United di peringkat keempat. Situasi makin riskan karena Persita Tangerang belum memainkan laga pekan ke-21. Dengan selisih tiga poin, Persita berpeluang menyamai koleksi 35 poin Persebaya Surabaya jika mampu meraih kemenangan. Meski begitu, Persita dipastikan belum bisa menggeser posisi Green Force karena kalah selisih gol 7 berbanding 12. Ancaman tetap nyata dan menambah tekanan bagi skuad Persebaya Surabaya.

Di tengah kekecewaan itu, sorotan Bonek justru mengarah pada dua hal di luar dugaan. Selain performa kandang yang angin-anginan, penggunaan jersey merah saat laga home ikut jadi sasaran kritik. Beberapa suporter menilai keputusan mengenakan jersey merah di GBT seolah menghilangkan identitas kebanggaan tim. Warna hijau yang identik dengan Persebaya Surabaya dianggap sebagai simbol yang tak bisa ditawar.

Komentar bernada sarkas pun membanjiri media sosial resmi klub selepas laga. “Home kok merah, merah tanda berhenti, berhenti rekormu,” tulis salah satu Bonek. Sindiran lain tak kalah pedas dan terasa getir. “Wes feeling sii nek ganti jersey mesti kalah,” tulis salah satu Bonek. Ada pula yang menyarankan langkah ekstrem demi mendongkrak performa. “Mene away terus ae loh ga usah home,” tulis salah satu Bonek.

Kritik soal identitas warna juga kembali digaungkan dengan nada tegas. “Main home malah gae jersey guduk ijo,” tulis salah satu Bonek. Sebagian suporter bahkan mencoba menyelipkan humor di tengah rasa kecewa. “Rilis jersey edisi ramadan ae ben barokah,” tulis salah satu Bonek. Tak sedikit yang menyoroti mental bermain di kandang sendiri. “Grogi didelok bonek ta? Main home mesti melempem,” tulis salah satu Bonek. Ada pula yang menilai terlalu banyak eksperimen justru merugikan tim. “Kakean polah ngubah Jersey,” tulis salah satu Bonek.

Seruan agar kembali ke identitas asli terdengar berulang-ulang. “Home yo ijo to,” tulis salah satu Bonek. Nada emosional juga muncul dalam komentar lain yang penuh penekanan. “Identitase persebaya iku ijooo duduk abang!! Ayo ndang bangkit jool!!” tulis salah satu Bonek. Kegelisahan itu makin terasa ketika membandingkan performa kandang dan tandang Persebaya Surabaya musim ini. “Luweh dredeg ndelok Persebaya lek main home, lek away enak maine,” tulis salah satu Bonek.

Data Super League 2025/2026 memperkuat anggapan tersebut. Dari 11 laga kandang, Persebaya Surabaya mencatat lima kemenangan, tiga imbang, dan tiga kekalahan dengan rata-rata poin 1,64. Produktivitas gol di kandang sebenarnya cukup baik dengan 20 gol dan 14 kali kebobolan. Rata-rata penonton pun mencapai 16.632 orang, menunjukkan dukungan luar biasa dari Bonek.

Namun catatan tandang justru terlihat lebih solid dan efisien. Dari 10 laga away, Persebaya Surabaya mengemas empat kemenangan, lima imbang, dan hanya satu kekalahan dengan rata-rata poin 1,70. Jumlah gol tandang memang hanya 12, tetapi pertahanan tampil lebih disiplin dengan kebobolan enam gol saja. Rata-rata penonton saat tandang hanya 5.910 orang, jauh lebih kecil dibanding atmosfer GBT.

Perbandingan angka tersebut memunculkan tanda tanya besar di kalangan suporter. Mengapa Persebaya Surabaya justru lebih efektif saat jauh dari rumah sendiri? Secara psikologis, tekanan bermain di hadapan puluhan ribu pendukung bisa menjadi pedang bermata dua. Dukungan besar dapat memompa semangat, namun juga memicu beban ketika hasil tak kunjung maksimal.

Kekalahan dari Bhayangkara FC mempertegas anomali tersebut. Di saat butuh kemenangan untuk menjaga jarak dari pesaing dan mendekati empat besar, poin justru melayang di kandang. Tak masuk logika ketika poin tandang Persebaya Surabaya lebih baik daripada main di kandang. Fakta ini menjadi alarm keras bagi manajemen dan tim pelatih untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh.

Identitas, mentalitas, hingga strategi permainan di GBT layak dibedah secara jujur. Jika tak segera dibenahi, mimpi finis di papan atas bisa makin menjauh dari jangkauan Green Force. Musim masih menyisakan banyak pertandingan dan peluang belum tertutup. Namun tanpa perbaikan nyata, ironi poin tandang lebih baik dari kandang akan terus jadi bahan sindiran dan kegelisahan Bonek.




Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

1 Nama Jadi Tumbal Jika Persib Gagal Kalahkan Ratchaburi di GBLA, Calon Tak Bekerja

17 Februari 2026

Di Balik Langkah PUMA Menuju Podium Planet Sports Run 2026

17 Februari 2026

30 Ribu Siswa SMK Tampilkan Keterampilan di Festival Vokasi Satu Hati 2026

17 Februari 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Jika Masih Pilih Pensil Daripada Ponsel, Ini 7 Kepribadian Anda Menurut Psikologi

17 Februari 2026

Kolaborasi ITK-PFsains Dorong Ekonomi Sirkular dengan Olah Sampah Jadi Bahan Bakar Pellet

17 Februari 2026

5 Alasan Kang Shin Jin Layak Dihukum Mati di Akhir The Judge Returns

17 Februari 2026

MBG Lawan Pemberdayaan Kantin Sekolah

17 Februari 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?