Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Kamis, 26 Maret 2026
Trending
  • Harga tiket masuk Obelix Sea View saat Lebaran, pemandangan indah untuk sunsetan
  • Kolam Ikan Minimalis di Lahan Sempit? Inspirasi Ini Bisa Jadi Jawabannya!
  • 6 Fakta dan Sinopsis Film ‘Tak Kenal Maka Taaruf’, Cinta Tanpa Pacaran
  • Emas turun tajam pekan ini, terburuk sejak 1983
  • Korupsi dan Tantangan Penegakan Hukum di Indonesia: Regulasi vs. Realita
  • Amerika kehilangan Rp 470 triliun dalam 18 hari perang vs Iran, cukup untuk biaya MBG setahun di Indonesia
  • 5 Penyebab Kolesterol Naik Pasca-Lebaran
  • Berita Liga Italia: AC Milan Dapat Keuntungan Besar dari Pemain Pinjaman Musim Panas
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Politik»Amerika kehilangan Rp 470 triliun dalam 18 hari perang vs Iran, cukup untuk biaya MBG setahun di Indonesia
Politik

Amerika kehilangan Rp 470 triliun dalam 18 hari perang vs Iran, cukup untuk biaya MBG setahun di Indonesia

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover26 Maret 2026Tidak ada komentar5 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Perang di Selat Hormuz: Kapan Berakhir?

Perang terbuka di Selat Hormuz memasuki hari ke-21 sejak dimulainya konflik antara Republik Islam Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Pada akhir pekan ini, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melalui Pentagon, kembali mengajukan tambahan anggaran perang senilai US$200 miliar (Rp3.391 triliun) ke parlemen AS. Anggaran ini akan diputuskan dalam minggu depan.

Perang udara antara Iran dan Amerika-Israel diprediksi masih berlanjut hingga melewati momentum perayaan Hari Kemerdekaan Amerika, 4 Juli 2026 mendatang. Bagi warga Iran, situasi ini lebih emosional dan spiritual karena bertepatan dengan dua momen besar, yaitu Idul Fitri 1447 Hijriyah dan Nowruz, Tahun Baru Persia 2026.

Presiden Trump Mengajukan Tambahan Anggaran Perang

Di Washington DC, akhir pekan ini, Presiden Donald Trump (76) baru saja mengajukan anggaran perang tambahan ke kongres. Nominalnya, lebih lima kali lipat dari estimasi kerugian sebesar USD 28 miliar sejak genderang perang ditabuh pada 28 Februari 2026 lalu. Pengajuan ini bertepatan dengan keputusan Trump dan Pentagon untuk mengirim personel tambahan pasukan elite Marinir ke Timur Tengah.

Trump juga menunjukkan ambiguitas dalam unggahan akun X-nya, Jumat (21/3). Ia menyebutkan bahwa Selat Hormuz harus dijaga bersama sebagai jalur vital transportasi yang mencakup sekitar seperlima aliran minyak dan gas global. Ia terbuka meminta bantuan militer negara-negara “pelintas”.

“Selat Hormuz harus dijaga dan diawasi, jika perlu, oleh negara-negara lain yang menggunakannya — bukan Amerika Serikat saja,” ujarnya.

Pidato Ayatollah Mojtaba Khamenei

Di Teheran, pemimpin tertinggi revolusi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei (57), memberikan pidato virtual untuk menegaskan upaya perlawanan sengit militernya belum surut. Putra Ayatollah Ali Khamenei (1939-28/2/2026) ini justru memuji ketabahan semangat perang syahid dan meminta kesabaran kolektif 92,2 juta warganya.

“Musuh kita mulai retak. Ini saatnya kita memasuki tahun baru ekonomi perlawanan di bawah bendera persatuan dan keamanan nasional,” ujarnya dalam siaran resmi negara, lansiran AlJazerah, Sabtu (21/3/2026).

Sejak wafatnya ayah dan enam elite spiritualis Iran, Mojtabah belum pernah tampil terbuka ke publik. Media Amerika dan Israel melaporkan bahwa sosok generasi ketiga pemimpin teologis Republik Islam Iran ini masih terluka pascainsiden bom terkontrol Israel, 3 pekan lalu.

Pernyataan Presiden Iran Masoud Pezeshkian

Presiden Iran Masoud Pezeshkian juga menyampaikan pesan Nowruz, menegaskan kembali bahwa negaranya tidak menginginkan senjata nuklir. Ia juga mengulangi pernyataan Khamenei bahwa Iran tidak mencari perang dengan negara-negara tetangganya. Namun jika ada yang memulai, Iran takkan gentar.

“Kesulitan kita adalah akibat campur tangan musuh. Tetangga-tetangga terkasih (Timur Tengah) yang mengelilingi kita, kalian adalah saudara-saudara kami. Kami datang untuk menyelesaikan semua perbedaan ini dengan kalian,” kata Pezeshkian.

Analisis CSIS-BBC

Melansir laporan studi dari Center for Strategic & International Studies (CSIS) dan analisis BBC, menyebutkan bahwa proposal tambahan alokasi anggaran perang Gedung Putih dan Pentagon senilai US$200 miliar (Rp3.391 triliun) yang akan diputuskan Parlemen AS, pekan depan.

Kalau proposal perang USD 200 miliar diterima, ini diprediksi mampu membiayai perang panjang hingga Agustus 2026, atau beberapa pekan usai perayaan Independent Day. Jika anggaran perang tambahan itu dikonversi ke sejarah fiskal Indonesia, ini setara postur APBN 2024.

Saat itu, target belanja negara ditetapkan sebesar Rp3.325,1 triliun. Di pihak Amerika, ekses kerugian perang selama 19 hari, sejak Sabtu (28/2/2026) hingga Jumat (20/3/2026) sudah tembus US$28,1 miliar dolar atau setara Rp470 Triliun.

Kerugian dan Kerusakan Akibat Perang

“Perlu uang untuk menumpas musuh,” kata Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth Kamis (19/03) di Pentagon. Dia menambahkan nominal proposal tersebut “masih dapat berubah.” Nominal ini, ternyata melampaui biaya setahun program Makan Bergizi Gratis (MBG) pemerintah Indonesia, Rp339 Triliun, dalam postur APBN 2026 ini.

CSIS menyebut tambahan alokasi ongkos tempur ini adalah analisa biaya dan kerugian dan kerusakan akibat perang selama 18 hari. Melansir analisa dari CSIS yang dirangkum laporan Daniel Bush dan Alex Murray, dua koresponden BBC di Washington DC, Sabtu (21/3/2026), menyebut kerusakan akibat serangan balasan Iran hanya mencakup sebagian kecil dari keseluruhan biaya yang harus ditanggung AS untuk inisiatif perang terbuka tanpa notifikasi setuju dari Kongres.

Korban dan Kerusakan Militer

Lembaga Human Rights Activists News Agency (Hrana) yang berbasis di AS memperkirakan total korban tewas dari pihak Iran dan Israel dan militer telah mendekati 3.200 orang, termasuk 1.400 warga sipil. AS juga telah kehilangan 13 personel militer sejak Presiden Donald Trump bergabung dengan Israel.

Analisis BBC menunjukkan sebagian besar kerusakan terjadi saat serangan balasan awal Iran, atau sepekan pertama pasca-Fury Epic Operation AS dan Israel. Sejauh ini, gambaran lengkap mengenai kerusakan terhadap aset-aset AS di kawasan tersebut masih kabur dan belum sepenuhnya terkonfirmasi terbuka.

Namun, estimasi kerugian sebesar US$800 juta pada infrastruktur militer AS—angka yang lebih tinggi dibanding laporan sebelumnya—menggambarkan skala besarnya biaya tanggungan Washington seiring berlarutnya konflik.

“Kerusakan pada pangkalan-pangkalan AS di kawasan Timur Tengah ini selama ini kurang diberitakan,” kata Mark Cancian, penasihat senior CSIS sekaligus salah satu penulis laporan lembaga tersebut.

BBC menulis, gelombang serangan Iran terhadap pangkalan-pangkalan militer yang digunakan Amerika Serikat di Timur Tengah menimbulkan kerusakan sekitar US$800 juta (Rp13,5 triliun) selama dua minggu pertama perang.

Bobot kerusakan terbesar ditimbulkan dari serangan atas sejumlah fasilitas radar militer AS yang menjadi bagian dari sistem pertahanan rudal Thaad di pangkalan udara Yordania. Sistem radar AN/TPY 2 bernilai sekitar US$485 juta (Rp8,2 triliun), menurut telaah CSIS atas dokumen anggaran Departemen Pertahanan AS.

Sistem pertahanan udara itu digunakan untuk mencegat rudal balistik jarak jauh. Serangan berulang ini menegaskan upaya keras Teheran membidik aset-aset spesifik milik AS.

Moskow dan Beijing bahkan dilaporkan mulai berbagi intelijen dengan Teheran mengenai keberadaan pasukan Amerika di kawasan semenanjung Timur Tengah. Citra satelit menunjukkan tiga pangkalan udara—Pangkalan Ali Al Salim di Kuwait, Al Udeid di Qatar, dan Pangkalan Prince Sultan di Arab Saudi—mengalami kerusakan baru pada berbagai fase konflik.


Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Menteri Luar Negeri Arab dan Turki Buka Suara Soal Zionis Halangi Damai AS-Iran

25 Maret 2026

Menteri Luar Negeri Arab dan Turki: Zionis Pengaruhi AS dalam Tidak Berdamai dengan Iran

25 Maret 2026

Pelanggaran Anwar BAB di TV Jadi Sorotan MUI, Terancam Sanksi KPI

25 Maret 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Harga tiket masuk Obelix Sea View saat Lebaran, pemandangan indah untuk sunsetan

26 Maret 2026

Kolam Ikan Minimalis di Lahan Sempit? Inspirasi Ini Bisa Jadi Jawabannya!

26 Maret 2026

6 Fakta dan Sinopsis Film ‘Tak Kenal Maka Taaruf’, Cinta Tanpa Pacaran

26 Maret 2026

Emas turun tajam pekan ini, terburuk sejak 1983

26 Maret 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?