Mimpi Buruk Netanyahu Terwujud, Partai Arab Meraih 13 Kursi di Knesset
Ringkasan Berita:
- Blok Netanyahu diperkirakan hanya mendapatkan 43 kursi, atau 48 kursi jika partai Ofer Winter bergabung, tetap di bawah jumlah mayoritas 61 kursi.
- Partai-partai Arab diperkirakan akan memperoleh 13 kursi, yang berpotensi menjadi salah satu faktor penting dalam susunan Knesset yang terpecah belah.
- Tantangan yang dihadapi Netanyahu adalah perpecahan politik, karena semakin banyaknya partai berarti semakin rumit upaya membentuk koalisi mayoritas dan menjaga kestabilan pemerintahan.
Indonesiadiscover.com– Peta politik Israel berpotensi semakin terpecah.
Hasil survei terkini menunjukkan kubu yang dipimpin Perdana Menteri Benjamin Netanyahu belum mampu mencapai ambang batas mayoritas di parlemen.
Di sisi lain, munculnya partai politik baru dan meningkatnya perwakilan politik orang Arab dapat menyebabkan proses pembentukan aliansi menjadi lebih sulit.
Beberapa analisis mengatakan, situasi politik Israel saat ini adalah mimpi buruk Netanyahu yang menjadi kenyataan, di mana kubu partainya semakin kesulitan memegang kendali terhadap struktur kekuatan di parlemen Israel (Knesset)
Di dalam sistem politik Israel, sebuah pemerintah memerlukan dukungan minimal 61 dari 120 kursi di Knesset agar bisa memperoleh mayoritas.
Oleh karena itu, hasil survei terbaru menjadi tantangan bagi Netanyahu, terutama jika susunan tersebut tetap berlangsung hingga pemilu.
Jajak pendapat yang dikutip Khaberni, Jumat (28/8/2026), memprediksi kubu koalisi Netanyahu akan meraih 43 kursi.
Angka tersebut naik menjadi 48 kursi jika partai baru yang dipimpin Ofer Winter dimasukkan dalam perhitungan.
Maknanya, meskipun ada penambahan kekuatan dari partai Winter, blok tersebut tetap memerlukan setidaknya 13 kursi lagi agar mencapai mayoritas sebanyak 61 kursi.
Keadaan ini menjadi salah satu alasan mengapa perubahan kecil dalam distribusi kursi dapat berdampak signifikan terhadap pembentukan pemerintahan berikutnya.
Munculnya Ofer Winter Mengubah Peta Kekuatan Golongan Kanan
Ofer Winter, mantan anggota militer Israel, kini memasuki dunia politik melalui partai Amach Yisrael.
Partai tersebut diharapkan meraih lima kursi berdasarkan hasil survei.
Kehadiran Winter berpotensi meningkatkan kekuatan pihak Netanyahu.
Namun, pada saat yang bersamaan, munculnya partai baru juga bisa memperluas perpecahan di kalangan partai-partai sayap kanan.
Partai Zionisme Religius yang dipimpin oleh Bezalel Smotrich, misalnya, diperkirakan hanya akan mendapatkan sekitar 3 persen suara, sehingga berada di bawah ambang batas untuk memperoleh kursi di Knesset.
Situasi ini mampu mengubah pembagian kursi di antara partai-partai sayap kanan serta memengaruhi proses negosiasi aliansi.
Oleh karena itu, penambahan lima kursi bagi blok Netanyahu tidak secara langsung berarti koalisi menjadi lebih stabil.
Struktur partai yang semakin beragam justru bisa menyulitkan proses negosiasi politik.
Partai Arab Diperkirakan Mendapatkan 13 Kursi
Perubahan penting lainnya datang dari kelompok politik Arab.
Jajak pendapat memprediksi konsorsium tiga kelompok—Front Demokratik untuk Perdamaian, Kesetaraan dan Keadilan, Gerakan dan Seruan, serta negara—mendapatkan delapan kursi.
Sementara Partai Persatuan yang diketuai Mansour Abbas diperkirakan memperoleh lima kursi.
Jika dikumpulkan, kelompok-kelompok politik Arab tersebut memiliki kemampuan untuk meraih 13 kursi.
Pencapaian tersebut menjadi penting karena mampu memengaruhi keseimbangan kekuasaan di Knesset.
Di parlemen yang terpecah menjadi berbagai kekuatan yang lebih kecil, kelompok yang memiliki jumlah kursi sedang pun bisa memegang posisi tawar jika dua blok utama sama-sama kesulitan mencapai mayoritas.
Bagi Netanyahu, penguatan partai Arab bukan hanya terkait dengan jumlah kursi. Masalah yang lebih besar adalah semakin banyaknya konfigurasi politik yang perlu dipertimbangkan dalam membentuk pemerintahan.
Oposisi Masih Memimpin dalam Perkiraan
Jajak pendapat yang sama memprediksi partai oposisi mendapatkan 59 kursi, atau hanya selisih dua kursi dari ambang batas mayoritas 61.
Dengan susunan seperti itu, persaingan politik di Israel tidak hanya ditentukan oleh partai terbesar, tetapi juga oleh kemampuan setiap kubu dalam membentuk kemitraan.
Dalam perhitungan per partai, Yeshar! menduduki posisi terdepan dengan 25 kursi, diikuti oleh Likud yang dipimpin oleh Netanyahu dengan 20 kursi.
Partai Bersama diharapkan meraih 15 kursi, Demokrat 10 kursi, Yisrael Beiteinu sembilan kursi, sementara Otzma Yehudit dan Persatuan Torah Yudaisme masing-masing memperoleh delapan kursi.
Hadash-Ta’al-Balad diperkirakan akan meraih delapan kursi, Shas tujuh kursi, Amach Yisrael lima kursi, serta Partai Persatuan lima kursi.
Struktur tersebut menunjukkan bahwa tidak ada partai yang memiliki dominasi utama. Bahkan partai terbesar pun memerlukan kemitraan untuk membentuk pemerintahan.
Mengapa Keadaan Ini Menjadi Masalah bagi Netanyahu?
Dalam konteks tersebut, istilah “mimpi buruk Netanyahu” bisa diartikan sebagai gambaran mengenai semakin beratnya tugas untuk mempertahankan atau membentuk konsensus yang kuat.
Banyak kesempatan masih terbuka bagi Netanyahu untuk membentuk pemerintahan jika mampu menggabungkan partai-partai yang memiliki minat politik yang sejalan. Namun, survei menunjukkan bahwa jalannya menuju kekuasaan mayoritas masih jauh.
Kedatangan Winter dapat menambah lima kursi, tetapi belum cukup untuk membuat blok Netanyahu mencapai angka 61.
Di sisi lain, partai Zionisme Agama justru menghadapi ancaman kegagalan dalam melewati ambang batas, sehingga pembagian kursi di kubu kanan masih sangat terbuka.
Pada saat yang bersamaan, kelompok politik Arab yang diperkirakan meraih 13 kursi berpotensi menjadi elemen penting dalam susunan parlemen.
Keadaan ini menunjukkan bahwa tantangan terbesar Netanyahu bukan hanya kehilangan dukungan, tetapi juga menghadapi parlemen yang semakin terpecah menjadi berbagai kekuatan politik.
Jika pola tersebut terus berlangsung, pembentukan pemerintahan akan memerlukan negosiasi antar partai yang lebih rumit.
Setiap kursi memiliki peran penting, sementara perubahan sejumlah kecil persen suara saja dapat mengubah susunan Knesset secara signifikan.
Namun, hasil survei belum bisa dianggap sebagai gambaran akhir pemilu. Minat pemilih masih bisa berubah seiring perkembangan politik dan kampanye.


