Indonesiadiscover.com, Jakarta – Dokter Spesialis Anak Ian Suryadi Suteja menyampaikan bahwa lemak memainkan peran penting dalam makanan anak. “Anak butuh 30-45 persen lemak dari total kalorinya dalam sehari,” ujarnya dalam acara peluncuran Bumboo Fat Oil di Jakarta.
Lemak sering kali dianggap sebagai bahan yang tidak sehat. Namun, banyak orang tua terlalu takut untuk memberikan makanan berlemak kepada anak. Padahal, menurut Ian, hal ini justru bisa menyebabkan kekurangan gizi pada anak karena kurangnya asupan nutrisi yang dibutuhkan.
Peraturan Menteri Kesehatan No 28 tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi menetapkan standar konsumsi lemak untuk anak. Untuk anak berusia enam hingga sebelas bulan, kebutuhan lemak mencapai 35 gram. Anak usia satu hingga tiga tahun memerlukan 45 gram lemak. Sementara itu, anak berusia empat hingga enam tahun memerlukan sebanyak 50 gram lemak.
Lemak memiliki fungsi penting dalam perkembangan otak anak, di mana 60 persen struktur otak manusia terdiri dari lemak. Ian menjelaskan bahwa pemberian lemak sangat berguna bagi anak yang kurang gizi, karena membantu memenuhi kebutuhan kalori mereka.
Menurut Ian, manfaat lemak hewani termasuk kandungan Docosahexaenoic Acid atau DHA yang berperan penting dalam pertumbuhan anak, terutama bayi. DHA merupakan asam lemak yang menjadi komponen utama penyusun jaringan otak dan sistem saraf manusia, serta berperan dalam mengendalikan proses inflamasi. Oleh karena itu, bayi dan ibu hamil disarankan untuk mengonsumsi DHA dari lemak hewani karena lemak hewani adalah sumber DHA yang paling efektif dan mudah diserap oleh tubuh.
“Makanan yang memiliki lemak jenuh bukan berarti buruk,” kata Ian. Ia menambahkan bahwa lemak jenuh bisa menjadi masalah jika dikonsumsi secara berlebihan, terutama pada usia dewasa. Namun, anak-anak belum perlu khawatir dengan hal tersebut.
Sebagian besar lemak hewani merupakan lemak jenuh yang seringkali ditakuti oleh banyak orang. Nyatanya, lemak jenuh memiliki peran dan manfaat penting bagi tumbuh kembang anak, bahkan sangat diperlukan oleh bayi di bawah usia dua tahun. Ian menegaskan bahwa asupan lemak bagi bayi tidak boleh dibatasi seperti pada orang dewasa. Lemak jenuh mampu melarutkan vitamin A, D, E, dan K, yang dibutuhkan oleh tubuh. Jika tubuh kurang mengonsumsi lemak jenuh, nutrisi dari makanan-makanan yang mengandung vitamin tersebut akan kurang bermanfaat. Selain itu, lemak jenuh juga menjadi sumber kalori yang dibutuhkan untuk mencapai kenaikan berat badan optimal pada bayi. “Lemak itu wajib ada dalam makanan bayi,” ujar Dokter Ian.
Ian memberikan beberapa tips untuk menyertakan lemak ke dalam makanan bayi. Berdasarkan anjuran Kemenkes, anak usia 12 hingga 23 bulan memerlukan 70 persen Makanan Pendamping ASI dan 30 persen ASI. Penambahan lemak pada MPASI bisa dilakukan dengan menggunakan yoghurt full-fat tanpa gula atau puree alpukat sebagai campuran makanan yang tidak disukai bayi, menambahkan taburan kacang-kacangan yang telah dihancurkan ke makanan bayi, menggunakan minyak kelapa ataupun mentega untuk menumis, menambahkan parutan keju ke makanan, mencampurkan santan/minyak zaitun dalam bubur nasi bayi, dan memakai kaldu sapi ataupun ayam.
Ian mengingatkan orang tua agar tidak menghilangkan lemak dari menu makanan anak selama masa pertumbuhan, tetapi lebih fokus pada keseimbangan asupan gizi yang terdiri atas karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral sesuai kebutuhan usia anak.
CEO Bumboo Jeffry Sutanto memperkenalkan pembaruan Bumboo Fat Oil dan menyampaikan visi perusahaan untuk menghadirkan produk makanan yang alami, sehat, dan menarik bagi anak-anak. Menurutnya, produk yang baik tidak hanya memperhatikan kandungan nutrisi, tetapi juga harus dapat mendukung pengalaman makan yang menyenangkan bagi anak.
Timnya merilis formula baru, yakni produk minyak hewani mereka Beef Fat Oil dan Chicken Fat Oil, serta minyak EVOO atau Extra Virgin Olive Oil. Selain itu, ada pula kemasan kaca premium yang diklaim dapat menjaga kualitas minyak dengan lebih baik. Selain diskusi kesehatan dengan ahli, acara itu juga mengundang keluarga konten kreator YouTube, Umma Mega dan Ritsuki.



