Perubahan Tren Pasar Properti di Indonesia
Perkembangan tren pasar properti di Indonesia saat ini menunjukkan pergeseran signifikan, terutama dalam hal jenis hunian yang diminati masyarakat. Seiring dengan program swasembada pangan yang membutuhkan penggunaan lahan yang luas, ketersediaan lahan untuk perumahan semakin terbatas. Hal ini mengakibatkan pergeseran dari hunian horizontal ke hunian vertikal.
Bambang Sriyanto, Wakil Ketua Bidang Regulasi dan Perizinan DPD Real Estate Indonesia (REI) Jawa Tengah, menyampaikan bahwa tren tersebut akan semakin kuat dalam lima tahun ke depan. Menurutnya, keterbatasan lahan dan kenaikan harga tanah akan membuat rumah berbasis lahan semakin sulit dijangkau masyarakat. Oleh karena itu, masyarakat akan lebih diarahkan ke hunian vertikal.
“Selama lima tahun ke depan, tidak ada rumah yang menyentuh tanah. Harga bangunan akan sangat mahal, biaya operasional juga tinggi, dan sosialisasi terbatas,” ujarnya.
Bambang menyarankan masyarakat untuk memanfaatkan kesempatan saat ini, ketika stok rumah tapak masih tersedia di pasar. Ia menilai penyelenggaraan REI EXPO 2026 menjadi momen strategis bagi calon pembeli sebelum perubahan struktur pasar properti semakin nyata.
“Di kesempatan expo ini, mumpung stok rumah developer masih menyentuh tanah, mohon dimanfaatkan semua yang hadir di mall ini. Silakan bertransaksi,” ajak Bambang.
Tantangan Struktural Industri Properti
Menurut Oma Nuryanto, Ketua Komisariat REI Solo Raya, tantangan struktural lain yang dihadapi industri properti saat ini adalah kondisi ekonomi global dan dalam negeri. Salah satu masalah utamanya adalah Lahan Sawah Dilindungi (LSD) dengan regulasi yang tumpang tindih antara tingkat pusat dan daerah.
“Banyak teman-teman pengembang yang telanjur ambil kredit yang akhirnya terhambat permasalahan ini dan berhenti di tengah jalan, berpotensi kredit macet,” ujarnya.
Melalui REI EXPO 2026 yang digelar pada 16 hingga 26 April 2026, diharapkan mampu mendongkrak penjualan properti di tengah tekanan industri yang masih terasa sejak awal tahun. Menurut Oma, momentum saat ini dinilai tepat bagi masyarakat untuk membeli rumah.
“Suku bunga relatif murah, sekitar 4 sampai 5 persen. Ini sangat menarik bagi konsumen untuk mengambil KPR, baik subsidi maupun komersial,” ujarnya.
Stimulus dan Promosi yang Menguntungkan
Selain bunga rendah, stimulus lain datang dari kebijakan pemerintah berupa insentif pajak. Program bebas Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang masih berlaku hingga akhir tahun turut menjadi daya tarik tambahan bagi calon pembeli.
Penyelenggara juga menawarkan promosi agresif, termasuk hadiah umrah bagi konsumen yang membeli rumah secara tunai senilai Rp 2 miliar. Langkah ini diharapkan mampu mendorong transaksi instan di lokasi pameran.
Optimisme pelaku industri juga didorong kebijakan terbaru Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait pelonggaran aturan Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK). Dalam kebijakan tersebut, masyarakat dengan catatan kredit kecil di bawah Rp 1 juta tetap berpeluang mengakses kredit pemilikan rumah (KPR) subsidi.
“Ini angin segar bagi pengembang, terutama segmen subsidi, karena selama ini banyak pengajuan kredit yang terhambat,” kata Oma.
Target Transaksi dan Partisipasi Peserta
REI EXPO 2026 diikuti oleh 30 peserta yang terdiri dari 15 pengembang perumahan dan 15 sektor pendukung, seperti perbankan, toko material bangunan, hingga biro perjalanan umrah. Penyelenggara menargetkan nilai transaksi mencapai Rp 50 miliar, meningkat dari capaian tahun lalu sebesar Rp 30 miliar.
Salah seorang pengunjung pameran, Nur Anggraini, mengatakan sedang mencari informasi tentang perumahan. Ia berencana membeli rumah tahun ini untuk investasi di wilayah Solo Raya.
“Banyak pilihan menarik. Saya cari informasi dulu untuk pertimbangan membeli rumah yang saya inginkan. Semoga ada yang cocok,” tutur Nur.



