Penggunaan mobil listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV) di Indonesia semakin meningkat. Hal ini terlihat dari semakin banyaknya pilihan model kendaraan listrik dengan harga yang lebih terjangkau. Kondisi ini turut mendorong pertumbuhan penjualan kendaraan listrik pada awal tahun 2026.
Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil listrik BEV secara grosir mencapai 12.272 unit pada Februari 2026. Angka ini meningkat sebesar 135,8% dibandingkan dengan 5.203 unit pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pasar mobil listrik nasional masih didominasi oleh produsen asal Tiongkok. BYD mempertahankan posisi teratas melalui model Atto 1, yang mencatatkan distribusi sebanyak 3.700 unit pada Februari 2026. Model ini pertama kali diperkenalkan dalam ajang GIIAS 2025 pada Juli 2025. Keberadaannya menarik perhatian karena harganya berada di segmen yang mirip dengan LCGC, dengan banderol mulai dari Rp199 juta untuk varian Dynamic dan Rp235 juta OTR Jakarta untuk varian Premium.
Di posisi berikutnya, Jaecoo yang dimiliki oleh Grup Chery mulai menantang dominasi BYD melalui model Jaecoo J5 EV yang terjual sebanyak 2.926 unit. Harga model tersebut dimulai dari Rp249,9 juta saat peluncuran. Sementara itu, Wuling juga ikut meramaikan pasar melalui model Darion EV yang mencatatkan penjualan sebanyak 1.019 unit. Selanjutnya, Geely EX2 mencatatkan penjualan sebanyak 776 unit, sementara BYD M6 mencatatkan distribusi sebanyak 523 unit.
Menurut Yannes Martinus Pasaribu, pakar otomotif sekaligus akademisi Institut Teknologi Bandung (ITB), penjualan mobil listrik diprediksi akan terus meningkat seiring eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah yang menyebabkan kenaikan harga minyak dunia. Hal ini dinilai dapat mempercepat peralihan konsumen ke kendaraan listrik.
Ia menjelaskan bahwa efisiensi total biaya kepemilikan kendaraan listrik mulai menjadi pertimbangan utama. Kendaraan listrik disebut lebih hemat sekitar 60%–70% dibandingkan kendaraan konvensional, terutama ketika biaya operasional meningkat.
“Artinya, secara struktural BEV akan muncul sebagai pemenang jangka panjang dalam lanskap industri. Jadi, konflik di Timur Tengah ini tidak hanya menjadi risiko, tetapi juga secara tidak langsung mempercepat transisi energi domestik, bukan lagi sekadar instrumen lindung nilai bagi segmen tertentu saja,” ujarnya.
Selain itu, penguatan ekosistem kendaraan listrik dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak (BBM). Langkah ini juga dinilai dapat menjaga keberlanjutan pertumbuhan pasar kendaraan listrik domestik.
Beberapa produsen kendaraan listrik juga mulai membangun fasilitas produksi di Indonesia. Misalnya, BYD tengah mempersiapkan pengoperasian pabrik di Subang, Jawa Barat, dengan kapasitas terpasang 150.000 unit per tahun yang ditargetkan mulai produksi dalam waktu dekat.
Selain BYD, VinFast asal Vietnam juga merealisasikan investasi lebih dari US$300 juta dengan kapasitas produksi awal sekitar 50.000 unit per tahun. Pabrik VinFast yang berlokasi di Subang, Jawa Barat, dibangun di atas lahan seluas 171 hektare.
Berikut adalah daftar 10 mobil listrik terlaris di Indonesia pada Februari 2026:
- BYD Atto 1: 3.700 unit
- Jaecoo J5: 2.926 unit
- Wuling Darion EV: 1.019 unit
- Geely EX2: 776 unit
- BYD M6: 523 unit
- Aion UT: 407 unit
- BYD Sealion 7: 343 unit
- Geely EX5: 335 unit
- Aion V: 332 unit
- Denza D9: 270 unit



