Industri Sinema Irak: Kekuatan dan Ketangguhan di Tengah Trauma Perang
Industri sinema Irak memang tidak sepopuler negara-negara tetangganya. Banyak faktor yang menyebabkan hal ini, seperti keterbatasan infrastruktur pendukung hingga luka trauma akibat perang yang berkepanjangan. Namun, meskipun begitu, beberapa film dari Irak berhasil menarik perhatian dunia internasional. Film-film tersebut mendapatkan apresiasi yang luar biasa, membuktikan bahwa para sineas Irak tetap mampu berkarya meski dalam kondisi yang penuh tantangan.
Jika kamu tertarik untuk mengenal lebih dekat dengan kehidupan warga Irak melalui film, berikut adalah lima judul film terbaik dari Irak yang harus masuk daftar tontonanmu:
1. Turtles Can Fly (2004)
Film Turtles Can Fly bercerita tentang tiga anak Kurdi di wilayah perbatasan Irak-Turki yang kehilangan orang tua mereka akibat genosida yang dilakukan pemerintah Irak pada era Saddam Hussein pada 1980-an. Mereka bersama anak-anak lainnya bekerja sebagai pengepul ranjau darat untuk bertahan hidup. Profesi ini sangat berisiko dan tidak layak bagi anak-anak di bawah umur. Di tengah cerita, sebuah rahasia kelam akan terbongkar yang membuat penonton tercengang dan tak percaya.
- Genre: Drama, Tragedi
- Pemain: Soran Ebrahim, Avaz Latif, Hiresh Feysal Rahman
- Sutradara: Majid Majidi
2. The President’s Cake (2025)

The President’s Cake bisa dibilang salah satu karya yang menandai resiliensi sineas Irak. Film ini sempat tayang perdana di sesi Director’s Fortnight Cannes Film Festival 2025 dan mendapat sambutan positif. Film ini mengingatkan kita pada film-film lawas Iran yang minimalis dan berkutat pada konflik yang terlihat sepele, tetapi begitu mengena.
Judulnya sendiri menggambarkan perjuangan seorang anak SD yang harus menyelesaikan tugas sekolahnya dengan membawa kue untuk merayakan ulang tahun diktator Irak era 90-an, Saddam Hussein.
- Genre: Drama
- Pemain: Baneen Ahmad Nayyef, Sajad Mohamad Qasem
- Sutradara: Hasan Hadi
3. Bashu, The Little Stranger (1989)

Film ini berlatar belakang Perang Irak-Iran 1980 di wilayah bernama Khuzestan. Ceritanya mengikuti Bashu, seorang bocah Irak yang menjadi yatim piatu setelah seluruh keluarganya terbunuh dalam konflik berdarah. Ia berhasil menyelamatkan diri dan menjadi penumpang gelap di sebuah truk kargo. Truk itu tanpa sengaja membawanya ke desa yang dihuni oleh penduduk minoritas Iran, Gilak. Di sana, ia terpaksa meminta belas kasih penduduk setempat. Awalnya enggan, seorang ibu muda akhirnya bersedia menampung Bashu karena iba.
- Genre: Drama, Antiperang
- Pemain: Susan Taslimi, Adnan Afravian, Parviz Pourhosseini
- Sutradara: Bahram Bezai
4. Kick Off (2009)

Judul Kick Off diambil dari latar filmnya, yaitu sebuah stadion di Kirkuk, Irak. Stadion yang terbengkalai itu perlahan menjadi tempat tinggal pengungsi Kurdi yang terusir dari rumah mereka. Bosan dengan kehidupannya, salah satu pemuda di sana, Asu, menginisiasi turnamen sepak bola dan melibatkan beberapa etnis minoritas lain yang bernasib sama dengannya.
- Genre: Drama
- Pemain: Shwan Atuf, Govar Anwar, Rojan Hamajaza
- Sutradara: Shawkat Amin Korki
5. My Sweet Pepper Land (2013)

Dibuat oleh Huner Saleem yang menggunakan perspektif orang Kurdi Irak seperti dirinya, My Sweet Pepper Land adalah balada Baran, seorang veteran perang kemerdekaan Kurdi yang kini mendiami salah satu desa di perbatasan Irak-Turki sepeninggal rezim Saddam Hussein. Ia ditunjuk menjadi petinggi kepolisian di wilayah itu, tetapi ternyata posisinya tidak selaras dengan keinginan sesepuh desa. Di tengah konflik politik itu, ia menemukan dirinya jatuh cinta pada gadis lokal yang bekerja sebagai guru.
- Genre: Aksi, Drama, Romance
- Pemain: Korkmaz Arsland, Golshifteh Faharani
- Sutradara: Huner Saleem
Bila kamu memperhatikan, sinema Irak memang masih didominasi oleh isu trauma perang akibat konflik dan perang sipil yang berkepanjangan, terutama selama dan setelah rezim Saddam Hussein. Tak sedikit dari film-film ini yang mengekspos nasib warga kelas dua alias minoritas yang tersisih di negeri itu. Meskipun pilu, film-film ini juga membuktikan resiliensi mereka untuk mempertahankan eksistensi masing-masing.



