Pengertian Saham Undervalued
Secara umum, saham memiliki harga yang sejalan dengan kinerja perusahaan. Namun, dalam beberapa kondisi, harga saham bisa dianggap tidak sesuai dengan nilai sebenarnya. Jika harga saham lebih rendah dari nilai intrinsiknya, maka saham tersebut disebut sebagai saham undervalued.
Saham undervalued sering kali menawarkan peluang besar bagi investor yang mampu mengenali potensi yang tersembunyi. Meskipun secara umum harga saham turun karena diremehkan, potensi untuk meningkatkan nilainya tetap tinggi. Oleh karena itu, investor perlu memahami apa yang dimaksud dengan saham undervalued, serta faktor-faktor yang menyebabkannya dan ciri-cirinya.
Definisi Saham Undervalued
Kata “undervalued” berasal dari bahasa Inggris yang berarti “di bawah nilai kewajarannya”. Dalam konteks saham, ini terjadi ketika harga saham di pasar lebih rendah daripada nilai asli (intrinsik) dari perusahaan tersebut.
Analogi Sederhana:
Bayangkan sebuah smartphone keluaran terbaru yang harganya resmi adalah Rp10.000.000. Namun, karena situasi tertentu seperti toko sedang cuci gudang atau pasar sedang sepi, smartphone tersebut dijual dengan harga Rp7.000.000. Kondisi ini disebut undervalued. Investor cerdas akan membeli smartphone tersebut di harga Rp7 juta, lalu menunggu hingga pasar normal kembali untuk menjualnya di harga Rp10 juta atau lebih.
Penyebab Saham Dianggap Undervalued
Ada beberapa faktor utama yang menyebabkan saham dianggap undervalued:
Perusahaan yang Kurang Terkenal
Investor sering kali lebih tertarik pada saham dari perusahaan besar dan terkenal. Hal ini membuat saham dari perusahaan yang kurang populer dianggap kurang menarik, meskipun perusahaan tersebut mungkin memiliki kinerja yang baik.Kondisi Makroekonomi
Kebijakan pemerintah atau situasi ekonomi global dapat memengaruhi sentimen pasar, sehingga memicu penurunan harga saham. Sebaliknya, kebijakan yang positif dapat meningkatkan harga saham.Sentimen Permintaan Barang dan Jasa
Penurunan permintaan atas produk atau layanan perusahaan dapat membuat investor menganggap sahamnya tidak menarik, sehingga memicu penurunan harga.Masalah Internal Perusahaan
Masalah seperti skandal atau isu tentang pengelolaan perusahaan dapat mengurangi minat investor, meskipun bisnis perusahaan masih bagus.
Indikator Kunci Saham Undervalued
Untuk memastikan bahwa saham benar-benar undervalued, analis menggunakan rasio keuangan seperti:
- PBV (Price to Book Value): Biasanya di bawah 1 (PBV < 1), artinya harga saham lebih murah dari total nilai aset bersih perusahaan.
- PER (Price to Earnings Ratio): Angkanya lebih rendah dibandingkan rata-rata PER saham lain di sektor industri yang sama (misal: PER < 10x).
- PEG (Price/Earnings to Growth): Biasanya di bawah 1 (PEG < 1), menunjukkan harga saham masih murah jika dibandingkan dengan potensi pertumbuhan labanya.
- DY (Dividend Yield): Tinggi, karena harga saham turun namun dividen tetap stabil.
Karakteristik Saham Undervalued
Saham undervalued memiliki beberapa karakteristik yang dapat menjadi indikator:
- Laba atau Pendapatan Stabil: Perusahaan dengan penghasilan stabil tapi harga saham rendah biasanya termasuk undervalued.
- Pengaruh Teknologi Minim: Perusahaan dengan bisnis yang tidak terlalu bergantung pada teknologi cenderung memiliki harga saham yang lebih stabil.
- Tidak Terlibat Skandal Keuangan: Perusahaan yang tidak terlibat skandal keuangan biasanya memiliki potensi nilai saham yang tinggi.
- Rasio P/E Rendah: Nilai P/E yang rendah menunjukkan potensi capital gain saat membeli saham di harga rendah.
- Nilai Kapitalisasi Pasar Kecil: Saham undervalued sering kali memiliki kapitalisasi pasar yang rendah dibanding total aset.
- Laba Bertumbuh: Perusahaan dengan laba yang terus meningkat memiliki potensi tinggi untuk meningkatkan nilai saham.
- Penilaian Lembaga Pemeringkat Tinggi: Perusahaan yang mendapat peringkat tinggi dari lembaga pemeringkat biasanya memiliki potensi saham yang baik.
- Tak Rentan Terkena Resesi: Perusahaan dengan saham undervalued umumnya tetap bertahan dalam kondisi ekonomi yang tidak stabil.
Manfaat Menggunakan Saham Undervalued dengan Value Investing
Strategi value investing melibatkan pencarian saham undervalued untuk dibeli dengan harga murah. Investor berharap dapat meningkatkan peluang imbal hasil melalui capital gain. Strategi ini juga digunakan untuk menghindari pembelian saham overvalued yang berisiko memberi kerugian.
Warren Buffett, salah satu investor ternama, dikenal menganjurkan strategi ini. Namun, perlu dipahami bahwa value investing berbeda dengan values-based investing. Value investing fokus pada harga saham yang lebih rendah dari nilai intrinsiknya, sementara values-based investing memilih saham berdasarkan nilai personal investor.
Kesimpulan
Saham undervalued merujuk pada kondisi di mana harga saham lebih rendah dari nilai intrinsiknya. Ini menandakan potensi besar untuk berkembang seiring waktu. Dengan memahami penyebab, karakteristik, dan indikator saham undervalued, investor dapat memanfaatkan momen ini untuk meningkatkan imbal hasil investasi. 



