Pergerakan IHSG Pasca Libur Lebaran 2026 Masih Mengalami Ketidakstabilan
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) setelah libur Lebaran 2026 terus menunjukkan ketidakstabilan. Pada hari pertama perdagangan, indeks sempat menguat, tetapi kemudian berbalik arah dan kembali tertekan tajam.
Pada perdagangan Kamis (26/3/2026), IHSG ditutup turun sebesar 1,89% ke level 7.164,09. Pelemahan ini memperdalam koreksi sepanjang tahun berjalan (year-to-date/ytd) menjadi 17,15%. Tekanan di pasar saham semakin berat akibat arus dana asing yang keluar dari Bursa Efek Indonesia (BEI). Nilainya mencapai Rp 20,71 triliun pasca-Lebaran, sehingga total dana asing yang hengkang sepanjang 2026 telah menyentuh Rp 29,12 triliun.
Secara historis, tekanan yang dialami IHSG saat ini termasuk dalam kategori penurunan yang signifikan. Berdasarkan perhitungan riset Stockbit, indeks telah terkoreksi sekitar 23,1% dari posisi puncak sepanjang masa di level 9.135 pada 20 Januari 2026, hingga sempat turun ke kisaran 7.022 jelang libur Lebaran.
Mengacu data sejak tahun 2000, fase penurunan ini setara dengan periode gejolak besar sebelumnya, seperti taper tantrum 2013 (turun 24%), China scare 2015 (-25%), dan selloff 2025 (-25%). Ketiga fase tersebut dikenal sebagai periode tekanan berat, namun belum masuk kategori krisis besar.
Tim riset Stockbit menilai bahwa secara pola historis, posisi IHSG saat ini sudah berada di area mendekati titik terendah (bottom). Penurunan yang lebih dalam dari 25% biasanya hanya terjadi saat krisis besar, seperti pecahnya gelembung dotcom awal 2000, krisis keuangan global 2008, dan pandemi Covid-19 2020.
Meski begitu, belum ada jaminan bahwa IHSG telah mencapai titik terendahnya. Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia, menilai koreksi saat ini memang sudah masuk kategori dalam dan mendekati fase bottoming secara historis. Namun, tekanan eksternal dinilai belum sepenuhnya mereda. Kombinasi faktor seperti ketegangan geopolitik, lonjakan harga energi, dan penyesuaian suku bunga global masih membayangi pasar.
“IHSG sudah mendekati area bottom secara valuasi, tapi belum tentu final secara timing,” ujarnya.
Senada dengan pendapat Liza, Direktur Utama RHB Sekuritas Thomas Nugroho melihat indikator sentimen pasar global menunjukkan kondisi sangat tertekan. Indeks fear & greed CNN per 26 Maret 2026 sudah berada di zona extreme fear, yang secara teknis kerap menjadi sinyal awal potensi rebound. Namun, ia mengingatkan bahwa kondisi tersebut belum bisa dijadikan konfirmasi titik balik. Risiko jebakan volatilitas (volatility trap) masih tinggi, terutama bagi investor yang masuk terlalu dini.
Analisis Teknis dan Prediksi Perkembangan IHSG
Dari sisi teknikal, level 7.000 menjadi area psikologis krusial bagi IHSG. Jika level ini ditembus, indeks berisiko turun lebih lanjut ke kisaran 6.700–6.900. Sebaliknya, jika mampu bertahan, peluang penguatan ke area 7.400–7.500 terbuka.
Sementara itu, area support terdekat diperkirakan berada di rentang 7.100–7.060. Skenario pemulihan baru dianggap valid jika IHSG mampu kembali menembus level 7.300 dan berlanjut ke 7.530.
Di tengah kondisi pasar yang masih rapuh, investor disarankan lebih selektif. Fokus diarahkan pada saham dengan fundamental kuat, terutama yang tahan terhadap siklus energi dan memiliki arus kas solid, sambil tetap menjaga likuiditas. “Market saat ini sangat dipengaruhi sentimen dan rawan pergerakan tajam,” kata Liza.



