Kehidupan di Balik ‘Be Get Mart’
Di sebuah sudut lingkungan SMK Negeri 1 Peusangan, Kabupaten Bireuen, pernah berdiri sebuah ruang kecil yang sarat makna. Namanya sederhana, tetapi cita-citanya besar: “Be Get Mart”. Tempat ini bukan sekadar etalase penjualan atau hanya ruang praktik kewirausahaan. Ia adalah panggung awal bagi mimpi-mimpi siswa SMK, yaitu tempat gagasan belajar berubah menjadi produk nyata, tempat teori di kelas diuji oleh pasar yang sesungguhnya.
“Be Get Mart” dibangun dari semangat kemandirian dan keberanian mencoba. Di sanalah hasil karya siswa SMKN 1 Peusangan dipajang dan dipasarkan, mulai dari produk olahan pangan, kerajinan tangan, hingga berbagai inovasi kreatif yang lahir dari pembelajaran berbasis projek.
Setiap barang yang terpajang bukan sekadar komoditas, melainkan jejak proses belajar, kerja keras, dan kebanggaan. Bagi siswa, ‘Be Get Mart’ adalah ruang belajar yang hidup. Mereka belajar menghitung modal, menentukan harga jual, memahami selera konsumen, hingga mencatat omzet, dan laba.
Mereka belajar bahwa kewirausahaan bukan hanya tentang untung dan rugi, melainkan juga tentang kejujuran, tanggung jawab, dan ketekunan. Di balik rak-rak sederhana itu, karakter dan mental wirausaha pelan-pelan ditempa.
Dalam perjalanannya, ‘Be Get Mart’ menunjukkan hasil yang menggembirakan. Omzet yang dihasilkan terbilang lumayan untuk ukuran unit usaha sekolah. Produk siswa mulai dikenal, tidak hanya oleh warga sekolah, tetapi juga oleh masyarakat sekitar. Ada kebanggaan tersendiri ketika hasil karya anak-anak sekolah kejuruan mendapat tempat di hati konsumen. Di titik inilah ‘Be Get Mart’ bukan lagi sekadar program sekolah, melainkan simbol harapan bahwa pendidikan vokasi benar-benar mampu mencetak generasi yang siap kerja dan siap usaha.
Namun, seperti kehidupan itu sendiri, perjalanan ‘Be Get Mart’ tidak selalu berjalan mulus. Musibah datang tanpa aba-aba. Banjir besar yang melanda wilayah ini pada akhir November tahun lalu menjadi ujian berat yang tak pernah kami bayangkan sebelumnya. Air datang dengan cepat, merendam seluruh area sekolah. ‘Be Get Mart’ pun tak luput dari terjangan dan endapan lumpur.
Perlengkapan usaha yang selama ini menjadi tulang punggung aktivitas—rak pajangan, etalase, peralatan pendukung, hingga sebagian stok produk—rusak total. Yang tersisa hanyalah puing-puing dan kenangan akan semangat yang sempat tumbuh subur. Dalam sekejap, ruang belajar kewirausahaan itu terpaksa ditutup. Aktivitas terhenti, dan mimpi para siswa harus menunggu waktu untuk kembali berdenyut.
Bagi sekolah, musibah ini bukan sekadar kerugian materiel. Ada duka yang lebih dalam, yakni terhentinya proses belajar kontekstual yang selama ini menjadi kebanggaan sekaligus andalan sekolah ini. Anak-anak yang sebelumnya begitu antusias kini hanya bisa bertanya, kapan ‘Be Get Mart’ akan dibuka kembali. Sebuah pertanyaan sederhana, tetapi jawabannya tidaklah mudah.
Upaya penanganan tentu telah kami lakukan semampu yang kami bisa. Harus kami akui dengan jujur bahwa pendanaan dari sekolah sangatlah terbatas. Dana operasional sekolah memiliki banyak prioritas lain yang tak kalah mendesak seperti pemeliharaan fasilitas belajar, kebutuhan pembelajaran, hingga penataan kembali lingkungan sekolah yang rusak. Untuk membangun kembali ‘Be Get Mart’ dari nol, kemampuan internal sekolah sungguh tidak memadai.
Di sinilah kami sampai pada satu kesadaran penting bahwa membangkitkan kembali ‘Be Get Mart’ membutuhkan uluran tangan banyak pihak. Ini bukan semata tentang membangun kembali sebuah ruang usaha, melainkan tentang menyelamatkan sebuah ekosistem pembelajaran yang telah terbukti memberi dampak nyata bagi siswa.
Kami percaya, pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Sekolah memang menjadi garda terdepan, tetapi dukungan dunia luar—terutama dunia usaha dan perbankan—memiliki peran yang sangat strategis. Dalam konteks inilah, kami menaruh harapan besar pada program ‘corporate social responsibility’ (CSR) dari lembaga-lembaga keuangan yang beroperasi dan tumbuh bersama masyarakat Aceh.
Bank Aceh, sebagai bank terbesar di Aceh saat ini, memiliki posisi yang sangat istimewa. Ia tidak hanya institusi keuangan, tetapi juga simbol kepercayaan masyarakat dan denyut ekonomi daerah. Keberadaan Bank Aceh Syariah telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Aceh, termasuk dunia pendidikan. Oleh karena itu, kami meyakini bahwa dukungan Bank Aceh melalui penyaluran dana CSR akan menjadi investasi sosial yang sangat bermakna.
Demikian pula Bank Syariah Indonesia (BSI), yang membawa semangat ekonomi syariah dan keberpihakan pada kemaslahatan umat. Dukungan CSR dari BSI Maslahat untuk pendidikan vokasi akan sejalan dengan misi besar mencetak generasi mandiri, produktif, dan berakhlak.
Bantuan yang kami harapkan bukanlah sesuatu yang berlebihan. Kami hanya bermimpi dapat membangun kembali ‘Be Get Mart’ agar kembali berfungsi sebagai laboratorium kewirausahaan siswa. Bantuan tersebut akan digunakan untuk pengadaan kembali perlengkapan usaha yang rusak, penataan ruang yang lebih layak, serta penguatan manajemen usaha siswa agar ke depan ‘Be Get Mart’ lebih tangguh dan berkelanjutan.
Kami membayangkan sebuah ‘Be Get Mart’ yang bangkit dengan wajah baru yang lebih rapi, lebih kuat, dan lebih siap menghadapi tantangan. Sebuah ruang belajar yang tidak hanya mengajarkan cara berjualan, tetapi juga mengajarkan cara bangkit setelah jatuh. Bukankah itu pelajaran hidup yang paling berharga?
Bagi pihak perbankan, dukungan ini bukan sekadar penyaluran dana CSR. Ini adalah bentuk nyata kontribusi dalam mencetak sumber daya manusia Aceh yang unggul dan mandiri. Siswa-siswa SMKN 1 Peusangan adalah calon pelaku ekonomi masa depan, calon pengusaha, pelaku UMKM, dan mitra potensial perbankan di tahun-tahun mendatang. Menyemai mereka hari ini berarti menuai manfaat sosial dan ekonomi di masa depan.
Kami percaya, ketika lembaga pendidikan dan dunia usaha berjalan beriringan, maka dampaknya akan jauh lebih besar. ‘Be Get Mart’ bisa menjadi contoh kolaborasi yang inspiratif: bagaimana CSR tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga benar-benar menyentuh akar persoalan dan memberi dampak jangka panjang.
Musibah banjir memang telah merobohkan fisik ‘Be Get Mart’, tetapi ia tidak pernah memadamkan semangat kami. Di balik keterbatasan, kami masih menyimpan harapan. Harapan bahwa kepedulian akan datang. Harapan bahwa mimpi-mimpi siswa SMKN 1 Peusangan tidak berhenti di tengah jalan.
Kami ingin kembali melihat rak-rak terisi produk karya siswa. Kami ingin kembali mendengar riuh diskusi kecil tentang harga dan strategi pemasaran di tempat mungil ini. Kami ingin kembali menyaksikan mata-mata muda yang berbinar karena merasa dipercaya dan dihargai. Semua itu hanya mungkin terwujud jika ‘Be Get Mart’ bisa bangkit kembali.
Akhirnya, melalui nukilan singkat ini, kami menyampaikan harapan. Semoga Bank Aceh, BSI, dan pihak-pihak terkait berkenan melihat ‘Be Get Mart’ tidak hanya sebagai unit usaha sekolah, tetapi juga sebagai ruang tumbuh bagi masa depan Aceh. Sedikit bantuan hari ini akan menjadi cerita besar esok hari. Cerita tentang pendidikan, kepedulian, dan mimpi yang kembali menemukan jalannya.



