Sejarah Masuknya Islam ke Kabupaten Ketapang
Islam masuk ke Kabupaten Ketapang melalui jalur perdagangan maritim sejak abad ke-14 hingga ke-17. Peran penting diambil oleh para pedagang dari Kesultanan Malaka, Kesultanan Demak, dan Kesultanan Banjarmasin. Proses penyebaran agama ini tidak hanya melalui perdagangan, tetapi juga melalui interaksi budaya dan pernikahan yang damai antara masyarakat lokal dengan para pedagang Muslim.
Perkembangan Islam di wilayah ini semakin kuat dengan berdirinya Kesultanan Matan Tanjungpura, yang menjadi pusat kekuasaan Islam di wilayah tersebut. Kesultanan ini diperkirakan berdiri sekitar abad ke-15 dan menjadi pusat pemerintahan yang memperkuat ajaran Islam dalam struktur kehidupan masyarakat.
Salah satu tokoh penting dalam sejarah Islam di Ketapang adalah Panembahan Giri Kusuma, yang dikenal sebagai penguasa yang memperkuat ajaran Islam dalam pemerintahan dan kehidupan masyarakat. Dengan adanya kesultanan ini, Islam berkembang pesat dan menjadi agama mayoritas di wilayah Ketapang.
Peran Masjid dalam Penyebaran Islam
Seiring berkembangnya Islam, pembangunan masjid menjadi simbol penting penyebaran dan penguatan ajaran agama. Masjid merupakan tempat ibadah umat Islam yang tersebar di berbagai wilayah di Tanah Air. Bentuknya bervariasi, namun biasanya memiliki arsitektur yang megah dengan berbagai ciri khas seperti kubah, mimbar, dan menara.
Masjid-masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pendidikan dan penyebaran syiar Islam. Bahkan, pada masa Rasulullah saw, masjid menjadi pusat pemberdayaan masyarakat. Di Kabupaten Ketapang, beberapa masjid bersejarah menjadi saksi bisu perkembangan Islam di wilayah ini.
Daftar Masjid Bersejarah di Kabupaten Ketapang
Masjid Agung Al-Ikhlas Ketapang
Masjid Agung Al-Ikhlas ini berdiri di Pusat Kota Ketapang. Masjid ini merupakan yang terbesar di Kabupaten Ketapang. Didominasi warna hijau, konsep bangunan masjid ini merupakan perpaduan beberapa etnik di Kabupaten Ketapang. Masjid yang berdiri di atas tanah seluas tiga hektar dibangun dalam kurun waktu enam tahun dan menelan biaya lebih dari Rp62 miliar.
Masjid ini memiliki peran strategis dalam pertumbuhan peradaban umat Islam. Selain sebagai tempat shalat, masjid berperan sebagai pusat pendidikan dan penyebaran syiar Islam.
Masjid At-Taqwa
Masjid At-Taqwa adalah sebuah masjid yang berada di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, Indonesia, dan merupakan masjid tertua di Ketapang. Masjid ini merupakan peninggalan bersejarah Kerajaan Matan V. Awalnya masjid ini berada di pinggiran Sungai Pawan, Kampung Kauman. Namun karena abrasi dipindahkan ke lokasi lain dan berganti nama menjadi Masjid At Taqwa.
Pemindahan ini dilakukan atas prakarsa seorang tokoh agama, Mualim Haji Muhammad Ali Usman, untuk menjaga keberlangsungan masjid dari ancaman abrasi. Pelaksanaan pembangunan berjalan agak tertatih-tatih, tetapi dengan kemauan kuat dan kerja keras akhirnya rampunglah pekerjaan pembangunan Masjid At Taqwa.
Masjid Nurul Huda
Masjid Nurul Huda adalah sebuah masjid yang terletak di Kampung Sungai Jawi, kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Masjid ini merupakan salah satu masjid tertua di Kabupaten Ketapang dan dibangun pada tahun 1932. Masjid ini telah ada sejak pemerintahan Panembahan Gusti Muhammad Saunan (1924-1943).
Awalnya bernama Masjid Kuning, masjid ini lebih dikenal sebagai Masjid Nurul Huda di Desa Sungai Jawi. Pada masa lalu, masyarakat harus menempuh perjalanan jauh untuk menunaikan Salat Jumat. Akhirnya, ide untuk membangun masjid di kampung mereka muncul, dan diwujudkan oleh Haji Muhammad Saleh.
Masjid Babul Chair
Masjid Babul Chair adalah sebuah masjid yang terletak di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, tepatnya di kelurahan Tengah, kecamatan Delta Pawan. Nama Babul Chair memang tak asing lagi bagi masyarakat Kota Ketapang. Keberadaannya yang persis berada di tengah-tengah Kota Ketapang, di tengah hiruk pikuk serta kesibukan masyarakat di pusat Kota Ale-Ale.
Keberadaannya bak menjadi saksi pergantian waktu yang terjadi di Kota Ketapang pada perkembangannya. Setiap waktu masyarakat di sekitar Kota Ketapang akan selalu dapat melihat serta mendengar lantunan azan dari bangunan bersejarah tersebut. Masjid ini dipercaya masyarakat di kawasan utara sebagai yang tertua setelah Masjid Jamik Kerajaan Matan di Kelurahan Kauman.
Masjid-Masjid Lain di Kabupaten Ketapang
Selain masjid yang diulas diatas, Kabupaten Ketapang terdapat banyak masjid lain (misalnya Masjid Baiturrahim, Masjid Nurul Falah, Masjid Al-Fulailah, Masjid Nurul Islam, Masjid Al-Falah, Masjid Nurul Jihad, dan lainnya) menurut daftar masjid umum wilayah tersebut.
Keberadaan masjid-masjid bersejarah ini menjadi bukti bahwa penyebaran Islam di Ketapang berlangsung secara damai melalui perdagangan, budaya, dan pemerintahan kesultanan, serta meninggalkan jejak kuat dalam kehidupan masyarakat hingga kini.



