Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Selasa, 24 Februari 2026
Trending
  • Rindu Panggung, Jerome Kurnia Ingin Kembali ke Teater yang Membawanya Terkenal
  • Ramalan Zodiak Jumat 20 Februari 2026: Capricorn Mulai Proyek Baru, Sagitarius Diminta Hemat
  • Bareskrim Buru Dua Bandar Narkoba Diduga Setor Uang ke Mantan Kapolres Bima Kota
  • Contoh Soal TKA SMA Bahasa Indonesia: Keindahan Kampung Ciptagelar
  • Semen Padang FC Dekati Zona Aman, Kesempatan Kabau Sirah Salip PSBS Biak
  • 5 fakta menarik Cartagena, kota kolonial di tepi laut Karibia
  • 12 Ramalan Shio Penuh Cinta, Karier, dan Nomor Hoki 21 Februari 2026
  • Tiga Shio Paling Beruntung: Membaca Jalannya Rezeki dan Kesempatan Hidup Kaya Raya
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Ekonomi»Rupiah menggelegar seminggu, sentimen global dan defisit APBN jadi perhatian
Ekonomi

Rupiah menggelegar seminggu, sentimen global dan defisit APBN jadi perhatian

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover24 Februari 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Pergerakan Rupiah yang Fluktuatif dalam Sepekan Terakhir



Nilai tukar rupiah dalam sepekan terakhir mengalami pergerakan yang fluktuatif. Hal ini dipengaruhi oleh kombinasi dari sentimen global dan faktor domestik. Ketidakpastian geopolitik serta ekspektasi kebijakan suku bunga Amerika Serikat (AS) menjadi penentu utama arah pergerakan mata uang Garuda.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot menguat tipis sebesar 0,04% secara harian ke level Rp 16.888 per dolar AS. Namun, secara mingguan, rupiah tercatat melemah sebesar 0,30% dibanding posisi Rp 16.836 per dolar AS pada Jumat (13/2/2026). Sementara itu, berdasarkan kurs referensi Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah menguat 0,23% secara harian ke Rp 16.885 per dolar AS. Meski demikian, dalam sepekan rupiah tetap melemah 0,24% dari posisi Rp 16.844 per dolar AS pada akhir pekan sebelumnya.

Sentimen Geopolitik AS–Iran Mempengaruhi Pasar

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, menilai bahwa pergerakan rupiah sepekan terakhir dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal, terutama dinamika geopolitik antara AS dan Iran. Pelaku pasar sempat bersikap skeptis terhadap potensi kemajuan pembicaraan nuklir antara kedua negara tersebut.

Isu ini menjadi perhatian pasar energi global karena Iran merupakan salah satu produsen minyak utama dunia dan berada di kawasan strategis Selat Hormuz, jalur pelayaran yang dilalui sekitar seperlima konsumsi minyak global setiap hari. Risiko militer juga masih membayangi setelah laporan mengenai latihan militer yang dilakukan Garda Revolusi Iran di kawasan tersebut, sementara pasukan AS tetap ditempatkan dalam jumlah besar di Timur Tengah.

Kondisi ini memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi dan meningkatkan volatilitas aset berisiko, termasuk mata uang emerging market seperti rupiah. Di sisi lain, negosiasi perdamaian antara Ukraina dan Rusia yang dimediasi AS di Jenewa turut menjadi perhatian investor. Presiden AS, Donald Trump, juga mendesak percepatan kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama empat tahun.

“Investor berhati-hati menjelang rilis risalah dari pertemuan kebijakan Federal Reserve Januari yang dapat memberikan wawasan baru tentang waktu dan skala potensi pelonggaran moneter,” ujar Ibrahim kepada Indonesiadiscover.com, Jumat (20/2/2026).

IMF Soroti Defisit APBN, Usulkan Kenaikan PPh 21

Selain faktor eksternal, sentimen domestik juga memengaruhi pergerakan rupiah, terutama terkait defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dana Moneter Internasional (IMF) mengusulkan agar Indonesia menaikkan Pajak Penghasilan (PPh) karyawan atau PPh 21 guna menjaga defisit APBN tetap di bawah 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Isu fiskal ini menambah kehati-hatian pelaku pasar, meskipun fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih relatif stabil. Ibrahim memproyeksikan rupiah pada sepekan ke depan bergerak dalam rentang Rp 16.790 hingga Rp 16.980 per dolar AS.

Tekanan Dolar AS dan Proyeksi Sepekan

Senada, Research and Development ICDX, Taufan Dimas Hareva, memperkirakan nilai tukar rupiah akan bergerak relatif stabil dengan kecenderungan melemah terbatas pada rentang Rp 16.800–Rp 16.950 per dolar AS. “Tekanan terhadap rupiah masih berasal dari penguatan dolar AS di pasar global, seiring ekspektasi suku bunga Amerika Serikat yang bertahan lebih tinggi dalam waktu lebih lama,” ucap Taufan kepada Indonesiadiscover.com, Jumat (20/2/2026).

Meski demikian, ia menilai pelemahan rupiah tidak akan terlalu dalam karena pelaku pasar domestik masih mencermati langkah stabilisasi otoritas moneter serta kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang relatif terjaga. Dari sisi domestik, sentimen utama berasal dari kebijakan suku bunga Bank Indonesia, stabilitas inflasi, serta arus modal asing di pasar obligasi dan saham. Permintaan valuta asing (valas) dari korporasi untuk kebutuhan impor dan pembayaran kewajiban luar negeri juga memberi tekanan jangka pendek.

Namun, surplus neraca perdagangan serta komitmen Bank Indonesia menjaga stabilitas nilai tukar menjadi faktor penahan volatilitas rupiah di tengah dinamika global. Dalam sepekan ke depan, pelaku pasar akan mencermati rilis data ekonomi AS, termasuk inflasi dan indikator ketenagakerjaan, yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan Federal Reserve dan pergerakan dolar AS. Selain itu, dinamika imbal hasil obligasi AS, sentimen risiko global, serta pergerakan harga komoditas juga akan menjadi katalis penting bagi rupiah.

“Kombinasi faktor eksternal dan domestik tersebut berpotensi menjaga rupiah dalam rentang fluktuasi yang moderat, dengan bias pergerakan masih sensitif terhadap arah dolar AS,” terang Taufan.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

OJK Bocorkan Pertemuan dengan Robinhood untuk Ekspansi ke Indonesia

24 Februari 2026

8 cara bertahan hingga akhir Ramadan dengan gaji pas-pasan

24 Februari 2026

Pembangkit Captive Meledak, Transisi Energi Semakin Berat

24 Februari 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Rindu Panggung, Jerome Kurnia Ingin Kembali ke Teater yang Membawanya Terkenal

24 Februari 2026

Ramalan Zodiak Jumat 20 Februari 2026: Capricorn Mulai Proyek Baru, Sagitarius Diminta Hemat

24 Februari 2026

Bareskrim Buru Dua Bandar Narkoba Diduga Setor Uang ke Mantan Kapolres Bima Kota

24 Februari 2026

Contoh Soal TKA SMA Bahasa Indonesia: Keindahan Kampung Ciptagelar

24 Februari 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?