Perkembangan Industri Perbankan Syariah di Momen Ramadan
Industri perbankan syariah di Indonesia menunjukkan peningkatan aktivitas bisnis menjelang bulan Ramadan. Hal ini dipengaruhi oleh meningkatnya kebutuhan konsumsi dan transaksi masyarakat. Momentum ini dinilai menjadi peluang strategis untuk mendongkrak pembiayaan, menghimpun dana pihak ketiga (DPK), serta meningkatkan pendapatan berbasis komisi, khususnya dari transaksi digital dan layanan zakat.
Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk. (BRIS) Anggoro Eko Cahyo menyatakan bahwa kinerja perseroan sepanjang 2025 tumbuh solid dan sehat, didukung oleh konsistensi dalam mendukung program Asta Cita Pemerintah. “Kinerja PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI) sepanjang 2025 solid dan tumbuh sehat. Hampir semua indikator kinerja tumbuh dobel digit jauh di atas industri,” ujarnya.
Per Desember 2025, BSI mencatat penyaluran pembiayaan sebesar Rp318,84 triliun atau tumbuh 14,49% secara tahunan (year-on-year/YoY). Mayoritas pembiayaan atau sekitar 90% disalurkan ke segmen pro-rakyat, meliputi BUMN, rumah sakit, institusi pendidikan, UMKM, pegawai ASN dan BUMN, serta TNI/Polri.
Dari sisi kualitas aset, rasio pembiayaan bermasalah (non-performing financing/NPF) gross tercatat 1,81%, membaik dibandingkan tahun sebelumnya, dengan NPF nett di level 0,47%. Memasuki Ramadan dan Idulfitri, Anggoro menilai rasio keuangan perseroan berada dalam kondisi memadai. “Berdasarkan data internal kami, dari sisi DPK cukup ample dan pembiayaan memiliki tren positif. Momen ini menjadi peluang bagi BSI ambil peran dalam pertumbuhan islamic ecosystem,” katanya kepada Bisnis, Minggu (22/2/2026).
Fokus pada Peningkatan Layanan dan Produk
Menurut dia, optimalisasi UMKM, penguatan layanan ZISWAF melalui superapps BYOND, serta kebutuhan pembiayaan konsumer terutama di ekosistem bisnis emas menjadi fokus utama. Produk seperti BSI Emas, Cicil Emas, maupun Gadai Emas diproyeksikan terdorong selama Ramadan.
Selain itu BSI juga memiliki jangkauan layanan luas melalui kantor cabang, superapps BYOND, serta e-channel lainnya, termasuk 127.000 BSI Agen, 20.000 EDC, 563.000 QRIS, 6.000 ATM, dan layanan cash management BEWIZE dengan 43.000 pengguna. Hal ini mempermudah nasabah untuk melakukan transaksi selama bulan Ramadan.
“Inovasi layanan ini memberikan pengaruh positif untuk fee based BSI naik sekitar 25,06% YoY pada tahun 2025,” tutur Anggoro. Dia menambahkan, perseroan optimistis kinerja pada awal tahun ini tetap tumbuh seiring stimulus dan kebijakan pemerintah yang pro-rakyat. “Hal ini menumbuhkan daya beli masyarakat cukup baik dan tentunya memberikan multiplier effect positif di BSI,” ujarnya.
Strategi Peningkatan Dana dan Literasi Produk
Optimisme serupa disampaikan Direktur PT Bank BCA Syariah Pranata. Dia mengatakan momentum Ramadan dimanfaatkan untuk mendorong pertumbuhan DPK, pembiayaan konsumer, sekaligus meningkatkan literasi produk dan layanan. “Momentum Ramadan ini kami pergunakan sebaik-baiknya untuk mendorong pertumbuhan baik dari DPK, pembiayaan konsumer dan meningkatkan literasi produk dan layanan BCA Syariah,” kata Pranata.
Perseroan mendorong peningkatan dana tabungan melalui optimalisasi fitur mobile banking BSya, termasuk promo belanja Ramadan dan fitur donasi untuk pembayaran zakat, infak, dan sedekah. Selain itu, penguatan literasi dilakukan melalui kolaborasi dengan sejumlah brand dan penyelenggaraan expo di beberapa kota.
Dari sisi pembiayaan, BCA Syariah mengikuti tren pasar dengan meningkatkan pembiayaan murabahah emas (Emas iB). “Tercatat pembiayaan Emas iB di Januari 2026 tumbuh 365% dibandingkan tahun lalu (YoY) dan nilainya mencapai Rp721 miliar,” ungkapnya.
Adapun dari sisi likuiditas dan manajemen risiko, Pranata memastikan kondisi permodalan tetap kuat. Capital Adequacy Ratio (CAR) per Januari 2026 tercatat 27,4%, sehingga ruang ekspansi bisnis masih terbuka lebar. “Likuiditas BCA Syariah masih terjaga dengan baik sehingga kami masih dapat melakukan ekspansi bisnis dan mengantisipasi berbagai risiko pasar yang mungkin timbul. Kemampuan menjaga penyaluran pembiayaan yang prudent juga tercermin pada kualitas pembiayaan dengan NPF yang terjaga,” pungkasnya.



