Profil Mega Mokoginta: Srikandi Perempuan yang Menggerakkan Perubahan
Mega Mokoginta adalah sosok yang tak hanya dikenal sebagai aktivis, tetapi juga sebagai penggerak perempuan dan advokasi isu kemanusiaan di daerah Gorontalo. Ia memainkan peran penting dalam berbagai organisasi dan komunitas, baik formal maupun informal, untuk memperkuat advokasi berbasis riset dan edukasi. Dengan dedikasi yang tinggi, ia menjadi contoh nyata bahwa perempuan bisa menjadi kekuatan perubahan dalam masyarakat.
Kiprah dalam Berbagai Organisasi
Mega memimpin FPMIK Gorontalo, sebuah organisasi yang fokus pada isu-isu kemanusiaan dan hak asasi manusia. Di sana, ia terbukti vokal dalam menyuarakan ketimpangan yang terjadi di masyarakat, baik di perkotaan maupun pelosok. Selain itu, ia juga mendirikan komunitas “Arah Langkah Anak Muda Indonesia”, yang bertujuan untuk memberikan ruang bagi generasi Z dan milenial untuk berani berpendapat dan mengasah nalar kritis.
Ia juga aktif di KOHATI (Korps-HMI Wati) sebagai Sekretaris Umum. Di organisasi ini, ia belajar tentang struktur patriarki dan bagaimana melawannya melalui pendidikan. Selanjutnya, ia bergabung dengan Women Institute for Research and Empowerment of Gorontalo (WIRE-G), lembaga non-pemerintah yang memberinya perspektif baru mengenai pentingnya data dan riset dalam advokasi perempuan.
Kepedulian pada Pendidikan Informal
Selain bergerak di organisasi formal, Mega juga menunjukkan kepeduliannya pada sektor pendidikan informal. Ia menjadi salah satu penggerak di Sekolah Kampung Kawan Alam Gorontalo, sebuah inisiatif yang sangat inspiratif. Sekolah tersebut menawarkan ruang pendidikan alternatif yang aman dan inklusif bagi anak-anak muda setempat. Di sana, Mega menekankan pentingnya menjaga kearifan lokal sembari tetap berpikiran terbuka terhadap kemajuan zaman.
Prestasi Nasional dan Internasional
Prestasi Mega tidak hanya berhenti di tingkat lokal. Ia tercatat sebagai perwakilan Gorontalo dalam kegiatan Young Progressive Academy Batch 4 yang diselenggarakan oleh Friedrich-Ebert-Stiftung (FES), yayasan politik tertua di Jerman. Melalui forum tersebut, ia membawa isu perlindungan hak perempuan desa ke permukaan, menekankan bahwa perempuan di pelosok seringkali mengalami kerentanan ganda yang jarang tersentuh kebijakan pusat.
Selain itu, Mega juga menjadi Duta Maritim Indonesia oleh ASPEKSINDO. Peran ini ia manfaatkan untuk mengadvokasi perempuan pesisir yang menggantungkan hidup pada sumber daya laut. Kemenpora juga memberikan gelar Duta Inspirasi Indonesia kepadanya, yang menjadi bukti bahwa kiprah Mega telah menginspirasi banyak anak muda di seluruh nusantara.
Menulis Sebagai Senjata Advokasi
Bagi Mega, menulis adalah cara ia bernapas sekaligus senjata utama untuk melakukan advokasi. Kata-kata yang tertulis memiliki umur yang lebih panjang daripada suara yang diteriakkan. Perjalanan kepenulisannya bermula dari profesinya sebagai jurnalis di media lokal Gorontalo. Pengalaman lapangan sebagai kuli tinta mengasah kepekaannya terhadap ketidakadilan sosial.
Dari jurnalisme, ia mulai merambah ke ranah analisa gender yang lebih mendalam. Ia mengeksplorasi bagaimana konstruksi sosial membentuk beban ganda bagi perempuan dalam kehidupan sehari-hari. Kreativitasnya memuncak dengan lahirnya karya sajak perdana bertajuk “Bapak, Sungai.” Buku ini bukan sekadar kumpulan kata indah, melainkan refleksi batin yang sangat personal.
Melalui sajak tersebut, Mega mengajak pembaca menyelami kedalaman dialog tentang perjuangan hidup. Ia seringkali menuangkan keresahannya ke dalam larik-larik puisi yang menyentuh sisi humanisme pembaca.
Pesan untuk Generasi Muda
Mega memandang hidup bukan sebagai kanvas hitam-putih yang kaku. Ia melihat dunia sebagai spektrum warna yang luas, di mana setiap orang memiliki peran untuk memberikan nilai kebermanfaatan. Sebagai bagian dari masyarakat sipil, ia merasakan betul bagaimana struktur ketidakadilan bekerja secara sistemik. Hal inilah yang memicu semangatnya untuk terus melanjutkan mimpi-mimpinya tanpa rasa lelah.
Ia memiliki prinsip hidup yang sangat kuat, yakni menjadi manusia yang adil sejak dalam pikiran. Prinsip ini ia terapkan baik untuk dirinya sendiri, orang tua, maupun masyarakat luas di sekitarnya.
Kepada generasi muda, khususnya mahasiswa, Mega sering memberikan pesan-pesan yang menggugah. Ia mengingatkan bahwa status mahasiswa adalah sebuah privilese yang membawa tanggung jawab moral besar. Ia menegaskan bahwa masa kuliah adalah kesempatan emas untuk bereksplorasi. Mahasiswa tidak boleh terjebak dalam rutinitas akademik semata tanpa peduli pada realitas sosial di luar kampus.
Mega mengajak para pemuda untuk terus mengasah nalar kritis setiap hari. Menurutnya, pikiran yang tajam adalah modal utama untuk melawan segala bentuk penindasan dan ketimpangan. Aktif berdiskusi adalah kunci agar generasi muda tidak buta dengan keadaan negara. Ia percaya bahwa perubahan besar selalu dimulai dari percakapan-percakapan kecil yang konsisten.
“Berkelanalah dan buka dirimu terhadap realitas sosial,” tandas Mega.



