Libur Imlek dan Dampaknya pada Perekonomian Tiongkok
Pemerintah Tiongkok berharap libur panjang Tahun Baru Imlek tahun ini akan memberikan dorongan signifikan bagi perekonomian nasional. Salah satu prioritas utama ekonomi Tiongkok untuk tahun mendatang adalah meningkatkan belanja domestik. Selama Festival Musim Semi yang berlangsung selama 40 hari, pemerintah memperkirakan akan terjadi rekor sebanyak 9,5 miliar perjalanan penumpang di seluruh negeri, meningkat dari 9 miliar perjalanan pada tahun lalu.
Ratusan juta orang akan melakukan perjalanan lintas wilayah untuk pulang kampung, yang bagi banyak warga merupakan satu-satunya kesempatan dalam setahun untuk berkumpul bersama keluarga saat perayaan Imlek.
Migrasi Terbesar di Dunia
Meskipun Tiongkok bukan lagi negara dengan populasi terbesar di dunia, gelar tersebut beralih ke India pada 2023, arus mudik tahunan yang dikenal sebagai chunyun tetap menjadi migrasi manusia terbesar di dunia. Tahun ini, libur resmi Imlek diperpanjang menjadi sembilan hari, dari biasanya delapan hari. Masa libur berlangsung pada 15–23 Februari, dengan Hari Tahun Baru jatuh pada 17 Februari.
Libur yang lebih panjang ini diharapkan memberi waktu lebih bagi masyarakat untuk membelanjakan hongbao (angpao), amplop merah berisi uang tunai yang dibagikan kepada kerabat selama periode perayaan. Tiongkok juga akan memasuki Tahun Kuda, yang diyakini melambangkan optimisme dan peluang, setelah sebelumnya menjalani Tahun Ular yang diasosiasikan dengan transformasi, layaknya kebiasaan reptil berganti kulit.
Sebuah artikel yang diterbitkan oleh departemen propaganda Provinsi Jiangsu secara terbuka menyampaikan harapan pemerintah terhadap momentum ini. “Didorong oleh konsumsi selama liburan, bulan konsumsi budaya dan pariwisata Festival Musim Semi memimpin dalam mengaktifkan permintaan domestik,” tulis departemen tersebut.
Libur ini juga diharapkan dapat melepaskan vitalitas yang meluap-luap yang mendorong ekonomi Tiongkok maju, menggunakan sebuah idiom yang secara harfiah berarti sepuluh ribu kuda berlari kencang ke depan.
Pemerintah China Terbitkan Voucher Belanja

Untuk mendukung peningkatan belanja, pemerintah pusat menyatakan akan menerbitkan lebih dari 360 juta yuan atau sekitar Rp876,6 triliun dalam bentuk voucher konsumen pada Februari. George Magnus, peneliti di Pusat Studi China Universitas Oxford, mengatakan bahwa momentum Imlek memang berdampak signifikan bagi sektor ritel.
“Tidak diragukan lagi bahwa (Tahun Baru Imlek) memberikan dorongan besar bagi peritel dan penyedia layanan konsumen yang jika tidak mungkin akan mengalami Februari yang cukup sepi,” ujarnya.
Namun secara makro, ekonomi Tiongkok masih menghadapi tantangan struktural. Rumah tangga Tiongkok menyimpan sekitar sepertiga dari pendapatan mereka—angka yang tergolong tinggi—sementara pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) masih banyak ditopang oleh ekspor. Pada tahun lalu, penjualan ritel nasional—yang menjadi indikator belanja konsumen—tumbuh 3,7 persen, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan PDB keseluruhan sebesar 5 persen.
Peningkatan permintaan domestik akan menjadi prioritas dalam rencana pembangunan lima tahun berikutnya yang akan disetujui parlemen Tiongkok pada Maret. Partai Komunis telah menyatakan akan fokus pada upaya untuk secara kuat meningkatkan konsumsi. Pada Januari, Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional menyampaikan mereka akan merumuskan rencana aksi untuk memperluas permintaan domestik dalam lima tahun ke depan.
Salah satu peluang pertumbuhan berada di sektor jasa seperti perawatan lansia, hiburan, dan layanan kesehatan, yang tumbuh 5,5 persen tahun lalu dan dinilai masih memiliki ruang ekspansi lebih besar dibandingkan sektor barang konsumsi.
Kontroversi Jasa “Kunjungan Imlek”

Bioskop menjadi salah satu aktivitas favorit selama libur Imlek. Tahun lalu, film animasi Ne Zha 2 tentang seorang anak iblis mencatat kesuksesan besar setelah dirilis saat Imlek. Film tersebut meraup 4,8 miliar yuan pada pekan pertama penayangan dan akhirnya menembus lebih dari 14 miliar yuan, menjadikannya film terlaris dalam sejarah perfilman Tiongkok.
Tahun ini, perhatian tertuju pada film komedi-aksi Pegasus 3 dan film bertema keamanan nasional Scare Out, yang akan bersaing menarik penonton. Di sisi lain, sebuah layanan unik sempat memicu kontroversi. Platform pengiriman UU Paotui meluncurkan layanan bernama ‘kunjungan Imlek perwakilan’. Dengan biaya 999 yuan, pengguna dapat memesan seseorang untuk mengunjungi kerabat lanjut usia dan melakukan ritual tradisional kowtow, bersujud kepada orang tua, sambil menyiarkan kunjungan tersebut secara langsung kepada pelanggan.
Namun setelah muncul kecaman karena dianggap merendahkan nilai ritual tradisional, perusahaan tersebut menarik layanan itu. Libur panjang Imlek kini diharapkan benar-benar mampu menjadi momentum untuk menggerakkan konsumsi domestik, di tengah upaya pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih bertumpu pada pasar dalam negeri.



