Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Senin, 9 Februari 2026
Trending
  • Bobotoh Pecahkan Rekor, Sindir Persib di Luar Dugaan
  • Prediksi Skor Bali United vs Persebaya Live di Super League Indonesia
  • Jadwal Badminton Semifinal BATC 2026 Hari Ini: Putri vs Korea, Putra vs Jepang, Live TV & Skor
  • BCA tingkatkan UMKM dan desa binaan melalui BCA Expoversary 2026
  • Cakra Buana (CBRE) Siap Ekspansi ke Sektor Offshore
  • Ramalan Zodiak Taurus Lengkap Besok Senin 9 Februari 2026: Finansial, Karir, Kesehatan, dan Cinta
  • Menteri Keuangan Purbaya Lantik 43 Pejabat Pajak dan Anggaran
  • Menteri Keuangan Purbaya Lantik 40 Pejabat Pajak dan 3 Dirjen Anggaran
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Ekonomi»Ekspedisi Maluku Barat Daya Temukan Habitat Dugong Terbesar di Asia Tenggara
Ekonomi

Ekspedisi Maluku Barat Daya Temukan Habitat Dugong Terbesar di Asia Tenggara

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover9 Februari 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Ekspedisi KKP dan WWF Indonesia Mengungkap Habitat Dugong Terbesar di Asia Tenggara



Ekspedisi yang dilakukan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama Yayasan WWF Indonesia di kawasan konservasi Kepulauan Romang dan Damer, Maluku Barat Daya pada tahun 2025 berhasil menemukan habitat dugong terbesar di Indonesia, bahkan di seluruh Asia Tenggara. Penelitian ini berlangsung selama sebulan dan semakin memperkuat posisi perairan Maluku Barat Daya sebagai salah satu ekosistem laut paling resilien di dunia.

Para peneliti mampu membuktikan bahwa perairan Maluku Barat Daya menjadi pertahanan terakhir bagi keanekaragaman hayati laut dunia dalam menghadapi ancaman perubahan iklim global. Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan, Koswara, menyampaikan bahwa KKP terus mendorong pengelolaan kawasan konservasi perairan yang berbasis data ilmiah, melibatkan masyarakat sebagai aktor utama, serta memberikan manfaat nyata bagi keberlanjutan sumber daya dan ekonomi lokal, sejalan dengan implementasi ekonomi biru.

Perairan Maluku Barat Daya sebagai Koridor Migrasi Laut

Perairan Maluku Barat Daya menjadi koridor migrasi utama untuk 24 spesies laut yang terancam punah dan dilindungi, termasuk paus biru, orca, hiu martil, beberapa jenis penyu, hingga dugong. Ekspedisi ilmiah yang dilaksanakan pada 3 Oktober-3 November 2025 ini berhasil menyingkap habitat dugong terbesar di Indonesia. Dalam satu area, peneliti menjumpai dugong sebanyak 32 ekor. Berdasarkan catatan para peneliti, populasi dugong dalam jumlah besar menjadi temuan langka, bahkan untuk ukuran dunia.

Kualitas Perairan yang Masih Terjaga

Temuan penting ini juga menunjukkan bahwa kualitas perairan Maluku Barat Daya masih relatif terjaga. Kawasan laut ini mampu memasok nutrisi bagi spesies kunci hingga menjadi rumah yang nyaman untuk sejumlah biota. Para peneliti telah mencatat ekosistem lamun, yang menjadi rumah dugong, berada dalam kondisi sangat baik dengan tutupan di atas 50%. Tim ekspedisi berhasil menemukan sembilan dari 14 jenis lamun yang tercatat ada di Indonesia.

Data ekspedisi lainnya menunjukkan bahwa ekosistem terumbu karang di perairan Kepulauan Romang dan Damer dalam kondisi sedang-baik. Hal ini tercermin dari angka rata-rata tutupan terumbu karang tertinggi mencapai 51,4%. Angka temuan ini di atas rata-rata regional (34%). Dalam analisis tingkat lanjut, peneliti menemukan sebagian koloni karang di perairan itu berusia sekitar 100-200 tahun. Fakta tersebut menunjukkan bahwa ekosistem perairan dangkal di kawasan itu telah bertahan sejak lama. Ekosistem tua ini mampu memberikan manfaat ekologis yang tinggi, seperti penjaga kawasan pantai, daerah pemijahan hewan-hewan laut penting dan bernilai ekonomis. Perairan dangkal yang sehat ini juga memiliki peran krusial bagi masa depan Indonesia.

Peran Masyarakat Adat dalam Perlindungan Ekosistem

Ekspedisi ini juga menyoroti peran penting masyarakat adat Maluku Barat Daya yang masih memegang teguh prinsip keberlanjutan melalui kearifan lokal. Di Pulau Romang dan Damer, praktik Sasi serta larangan adat (pemali) terhadap perburuan spesies tertentu menjadi pilar utama yang menjaga keseimbangan ekosistem sejak zaman nenek moyang.

Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Program Kelautan dan Perikanan, Yayasan WWF Indonesia, Candhika Yusuf, mengatakan hasil ekspedisi mampu menunjukkan Maluku Barat Daya memiliki pulau-pulau kecil yang dikelilingi perairan yang masih terjaga sejak zaman leluhur. Candhika menyaksikan bagaimana terumbu karang di sana tetap sehat dan tangguh di saat banyak wilayah lain mengalami pemutihan.

Ancaman yang Mengancam Keberlanjutan Ekosistem

Kini, keberlangsungan kekayaan alam di MBD menghadapi tantangan besar yang memerlukan tindakan kolektif segera. Ancaman nyata itu terdiri atas praktik penangkapan ikan menggunakan bahan peledak dan racun, perburuan penyu, hingga polusi sampah plastik yang mulai merambah pesisir terpencil. Hal-hal tersebut berisiko merusak resiliensi ekosistem yang telah terjaga selama berabad-abad.

Mengingat posisi Maluku Barat Daya sebagai pemasok nutrisi yang kaya dari samudra dan laut dalam, kerusakan di wilayah ini akan berdampak luas pada ketahanan pangan dan keseimbangan ekologi regional. Karena itu, penguatan pengawasan kolaboratif dan sinergi antara pemerintah, masyarakat, serta mitra pembangunan menjadi kunci utama untuk menyelamatkan kepulauan yang tersembunyi ini dari kerusakan permanen.

Program Sosialisasi Berbasis Lokal

Berangkat dari temuan ilmiah yang kuat, komitmen pemerintah, dan peran nyata masyarakat adat, Maluku Barat Daya kini menjadi simbol harapan bagi masa depan laut Indonesia. WWF Indonesia akan menyusun beberapa program sosialisasi dengan menggunakan pendekatan lokal, Kalwedo. Sosialisasi itu sebagai langkah strategis untuk memperluas jangkauan penyadartahuan masyarakat pesisir MBD terkait keberadaaan kawasan konservasi dan spesies kunci yang ada didalamnya.

Kalwedo berasal dari bahasa lokal yang merupakan ungkapan budaya masyarakat Maluku Barat Daya yang bermakna persaudaraan, kebersamaan, dan komitmen untuk hidup saling menghormati, serta saling menolong sebagai satu kesatuan. Integrasi kearifan lokal ini diharapkan dapat menjadi alat komunikasi yang efektif dalam menyampaikan pesan-pesan konservasi kepada masyarakat, khususnya generasi muda di MBD.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

BCA tingkatkan UMKM dan desa binaan melalui BCA Expoversary 2026

9 Februari 2026

Cakra Buana (CBRE) Siap Ekspansi ke Sektor Offshore

9 Februari 2026

Ramalan Zodiak Taurus Lengkap Besok Senin 9 Februari 2026: Finansial, Karir, Kesehatan, dan Cinta

9 Februari 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Bobotoh Pecahkan Rekor, Sindir Persib di Luar Dugaan

9 Februari 2026

Prediksi Skor Bali United vs Persebaya Live di Super League Indonesia

9 Februari 2026

Jadwal Badminton Semifinal BATC 2026 Hari Ini: Putri vs Korea, Putra vs Jepang, Live TV & Skor

9 Februari 2026

BCA tingkatkan UMKM dan desa binaan melalui BCA Expoversary 2026

9 Februari 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?