Indonesiadiscover.com.CO.ID – JAKARTA.
Regulator kembali meningkatkan target pertumbuhan kredit pada 2026, yang menunjukkan optimisme terhadap prospek ekonomi tahun ini. Namun, sejalan dengan realisasi kredit yang beragam pada tahun 2025 lalu, tahun ini perbankan juga memasang target yang bervariasi.
Bank Indonesia (BI) sebelumnya telah menetapkan target pertumbuhan kredit 2026 di level 8%-12%, lebih tinggi dari target 2025 yang berada di 8% – 11%. Pada 2025, BI mencatat kredit tumbuh sesuai target yakni 9,69% secara tahunan. Baru-baru ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga mengumumkan pencapaian kredit 2025, yang tumbuh 9,63%, sesuai target 9%, 11%. Untuk 2026, OJK memasang target pertumbuhan kredit lebih tinggi di level 10% – 12%.
Sejumlah bank terpantau juga menaikkan target kreditnya. Contohnya adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Pada 2025, BCA mematok pertumbuhan kredit di level 6% – 8%, hasilnya kredit tumbuh sesuai target 7,7%. Untuk 2026, BCA menaikkan targetnya menjadi 8% – 10%.
Menurut Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong, target tersebut sejalan dengan ketahanan BCA dalam mencetak kinerja positif sepanjang 2025 di tengah dinamika domestik maupun global yang bergejolak. “Di setiap perubahan, dinamika, kami diminta untuk selalu melihat ada kesempatan dan peluang bisnis yang kita bisa garap,” ujar Hendra dalam paparan kinerja BCA belum lama ini.
Apalagi, kata Hendra, ada peluang dari penurunan suku bunga acuan dalam setahun terakhir. Ia mengaku bahwa hal itu bakal dimanfaatkan bank untuk meningkatkan volume kredit. “Kami akan coba lebih agresif lagi untuk mengejar bisnis para nasabah agar bertransaksi di BCA,” katanya.
Bank Mandiri, di sisi lain, bahkan memasang target yang lebih optimistis. Direktur Corporate Banking Bank Mandiri Mochamad Rizaldi mengungkapkan, pihaknya optimistis kredit bisa tumbuh di atas rata-rata industri pada tahun 2026 ini. Itu, kata Rizaldi, sejalan dengan hasil 2025, yang mana kredit Bank Mandiri tumbuh di atas rerata industri yakni mencapai 13,4%.
Tahun ini, Rizaldi menjelaskan pertumbuhan kredit Bank Mandiri bakal ditopang oleh segmen wholesale maupun retail melalui pengelolaan portfolio mix guna memperluas ekosistem bisnis secara optimal. Fokus penyaluran kredit diarahkan pada penguatan pembiayaan usaha produktif, khususnya sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta sektor-sektor bernilai tambah.
Khusus untuk UMKM, bank bakal memperluas akses permodalan dan penguatan ekosistem secara selektif, terukur, serta berlandaskan prinsip kehati-hatian. Rizaldi menyebut strategi tersebut dijalankan dengan memanfaatkan basis nasabah eksisting, sinergi anak perusahaan, serta penguatan ekosistem bisnis untuk mendorong pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan.
Dari sisi sektor, pembiayaan akan difokuskan pada sektor-sektor prospektif dan resilien seperti industri perdagangan dan jasa, industri pengolahan manufaktur, serta sektor infrastruktur dan energi. “Sesuai loan portfolio guideline kami,” sebut Rizaldi dalam paparan kinerja pekan lalu.
PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) agak berbeda. Tahun ini, bank mempertahankan target pertumbuhan 8% – 10%, sama dengan tahun lalu. Padahal tahun lalu BNI berhasil melampaui target dengan pertumbuhan kredit mencapai 15,9%. BNI tak mengungkapkan alasan penetapan target ini. Yang pasti, Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan menjelaskan prospek kredit tahun ini masih bakal sejalan dengan tahun lalu dengan kredit BUMN menjadi motor penggerak utama.
“Karena BUMN menetapkan rencana ekspansi yang sejalan dengan inisiatif pemerintah,” tutur Putrama. Secara sektor, yang diincar di antaranya komunikasi telekomunikasi, sumber daya alam, dan manufaktur. Putrama bilang ketiga sektor tersebut menjadi pipeline utama di paruh awal tahun.
Lain lagi dengan bank-bank dengan skala yang lebih kecil. Misal Bank Mega. Direktur Utama PT Bank Mega, Kostaman Thayib mengaku hingga akhir 2025 pertumbuhan kredit hanya di kisaran 4%. Menurutnya, persaingan kredit tahun lalu memang menantang. “Sekarang sebagian besar bank-bank pemerintah. Mereka kan agresif sekali pertumbuhannya. Jadi bank swasta seperti Bank Mega ya kami lebih kecil,” jelas Kostaman saat ditemui, Kamis (5/2/2026).
Namun begitu, Kostaman juga melihat itu sebagai peluang memperluas kredit sindikasi. Menurutnya, sinergi memang menjadi kunci untuk menjaga kinerja tetap positif kini.
PT CIMB Niaga pun tampaknya mengalami kondisi serupa. Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan, menyebut, pada 2025 kredit bank tumbuh kisaran 4,5%. Pun, pihaknya memproyeksi realisasi tahun ini tak bakal jauh berbeda. “Animo kredit awal tahun masih belum tinggi,” ungkap Lani.
Menurutnya, lesunya permintaan kredit tak lain merupakan buntut dari lemahnya daya beli. Meski begitu, dengan berbagai kebijakan dan program strategis pemerintah yang diharapkan berjalan optimal ke depan, Lani melihat potensi pemulihan daya beli yang bisa mendorong kinerja tahun ini.



