Indonesia Discover,
JAKARTA — Para peneliti telah berhasil mengembangkan spermbot, sebuah teknologi robotik yang dirancang untuk menyerupai atau bekerja bersama sel sperma. Teknologi ini diharapkan menjadi inovasi besar dalam bidang reproduksi dan kesehatan manusia.
Masalah infertilitas, terutama pada pria, semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Menurut laporan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar satu dari enam pasangan usia reproduksi di seluruh dunia mengalami infertilitas, yang menjadi beban kesehatan dan sosial yang serius.
Faktor-faktor yang menyebabkan infertilitas pada pria sangat beragam. Namun, sekitar 50% kasus disebabkan oleh jumlah sperma yang rendah atau kualitas sperma yang buruk. Hal ini mendorong para ilmuwan mencari solusi baru untuk membantu proses pembuahan.
Spermbot hadir sebagai jawaban atas tantangan tersebut. Dengan bantuan teknologi robotik, sperma dapat diarahkan secara lebih presisi menuju sel telur, sehingga meningkatkan peluang terjadinya pembuahan. Teknologi ini juga berpotensi melengkapi atau bahkan menyempurnakan metode reproduksi berbantu seperti bayi tabung (IVF).
Saat ini, para peneliti telah mengembangkan spermbot sebagai inovasi dalam bidang nano robotik. Spermbot merupakan robot berukuran mikro atau nano yang bekerja bersama sel sperma atau meniru bentuk dan cara geraknya. Tujuannya adalah membantu sperma bergerak lebih terarah, kuat, dan efisien di dalam tubuh manusia.
Dalam jurnal International Journal of Nanomedicine, artikel berjudul “Spermbots and Their Applications in Assisted Reproduction: Current Progress and Future Perspectives” menjelaskan bahwa model spermbot dibagi menjadi tiga jenis utama:
Biohybrid spermbot
Model pertama ini menggunakan sperma asli yang dipasangi struktur nano berbentuk tabung, spiral, atau rangka kecil. Struktur ini biasanya bersifat magnetik dan membantu sperma bergerak lebih terarah menuju sel telur. Model ini cocok digunakan untuk kasus sperma yang lemah atau sulit bergerak.Robot mirip sperma
Berbeda dengan model pertama, jenis ini tidak menggunakan sel hidup. Robot dibuat menyerupai bentuk sperma atau ekor spiral dari bahan logam nano atau polimer. Model ini lebih banyak digunakan untuk keperluan penelitian, pengantar obat, serta eksperimen dalam sistem reproduksi.Cargo-carrying spermbot
Model ketiga ini bisa dianalogikan seperti drone super kecil yang bertugas mengantarkan “muatan” tertentu. Spermbot jenis ini berpotensi digunakan untuk terapi medis, pengobatan lokal, serta riset kanker pada sistem reproduksi.
Seluruh model spermbot dirancang agar dapat dikendalikan dari luar tubuh. Jika teknologi ini berhasil dikembangkan secara aman, spermbot bisa digunakan untuk membantu pasangan dengan masalah infertilitas, mengantarkan obat ke area tubuh yang sulit dijangkau, mendukung penelitian penyakit reproduksi, hingga terapi medis berbasis nano robotik.
Teknologi ini juga membuka peluang baru dalam dunia kedokteran presisi, di mana pengobatan dapat dilakukan secara lebih spesifik dan terkontrol.
Namun, penerapan spermbot secara luas masih menghadapi sejumlah tantangan. Mulai dari biokompatibilitas agar tidak menimbulkan reaksi negatif dalam tubuh, efektivitas yang masih memerlukan uji klinis lanjutan, hingga persoalan etika dan regulasi medis.
Saat ini, spermbot masih berada dalam tahap penelitian. Meski terdengar futuristik, bukan tidak mungkin spermbot akan menjadi bagian dari kehidupan manusia di masa depan.



