Pengalaman Unik di Museum Radya Pustaka: Perjalanan Melintasi Waktu dan Rasa
Museum Radya Pustaka, yang terletak di kawasan Taman Sriwedari, tidak hanya menjadi tempat untuk mengunjungi benda-benda sejarah, tetapi juga memberikan pengalaman yang tak terlupakan bagi para pengunjung. Tempat ini menawarkan perpaduan sempurna antara budaya dan rasa, menjadikannya destinasi yang sangat menarik bagi wisatawan.
Lokasi Strategis dan Kehidupan Kuliner yang Menggugah Selera
Museum Radya Pustaka berada di lokasi yang sangat strategis, dekat dengan pusat kelezatan Kota Solo. Wisatawan tidak perlu repot mencari tempat makan setelah lelah berkeliling museum. Di sekitar taman, terdapat deretan kedai kuliner yang menawarkan hidangan lezat. Salah satu yang wajib dicoba adalah Sate Kere Yu Rebi, yang sudah menjadi ikon lokal.
Bagi pecinta hidangan kambing, Sate Kambing Pak Manto yang berada sekitar 500 meter ke arah tenggara (Jalan Honggowongso) adalah pilihan yang sempurna. Kedai ini memiliki reputasi yang sangat baik, tidak hanya di kalangan warga setempat, tetapi juga diminati oleh para penggemar kuliner dari berbagai daerah.
Selain itu, jika Anda lebih suka suasana santai sambil menikmati secangkir kopi, cukup melangkah beberapa ratus meter menyusuri citywalk Slamet Riyadi. Di sepanjang jalan tersebut, terdapat deretan kedai kopi hits seperti ODDS, Margi, dan Getsee. Atmosfer modern dari kedai-kedai ini kontras namun serasi dengan nuansa sejarah di sekitarnya.
Lebih dari Sekadar Museum: Rahasia Naskah Kuno
Berbeda dengan museum pada umumnya yang sering kali kaku, Radya Pustaka memiliki daya tarik magis tersendiri. Sebagai salah satu museum tertua di Indonesia yang berdiri sejak 28 Oktober 1890, tempat ini menyimpan harta karun yang melampaui sekadar benda fisik. Selain arca, senjata tradisional, dan koleksi wayang, mahkota dari Radya Pustaka adalah ribuan naskah kuno.
Bangkit Supriyadi, Staf Teknis Museum Radya Pustaka, menjelaskan bahwa gedung ini awalnya dirancang untuk menjaga memori negara. “Kalau di sini sesuai namanya itu naskah kuno, karena sesuai namanya Radya Pustaka, Radya itu berarti negara, Pustaka artinya buku,” ujarnya. “Jadi memang awalnya ini tempat menyimpan buku-buku peninggalan kerajaan atau karya sastra kerajaan.”
Hingga saat ini, masih banyak rahasia yang tersimpan rapat di balik lembaran kertas tua tersebut. Bangkit menjelaskan bahwa ada sekitar 400 manuskrip tulisan tangan Jawa dan Arab, serta 1.200-an buku cetak Jawa yang menunggu untuk dipelajari lebih dalam. Dari buku dan manuskrip tersebut, terkandung banyak nilai yang berharga, mulai dari budaya, kesehatan, hingga agama.
Membuka Tabir Masa Lalu untuk Generasi Kini
Selama ini, isi naskah-naskah tersebut lebih banyak diakses oleh kalangan akademisi dan peneliti. Padahal, pengetahuan di dalamnya sangat relevan untuk masyarakat umum. “Mungkin (saat ini baru) lewat teman-teman mahasiswa dan peneliti itu memang sekarang terkuak di dalamnya isinya apa saja,” katanya.
Untuk mendekatkan warisan leluhur ini kepada generasi muda, pihak pengelola secara rutin menggelar kegiatan tahunan. “Kita setiap tahun juga mengadakan kajian koleksi, kadang kita juga mengundang narasumber untuk membedah naskah tersebut,” tambah Bangkit.
Kesimpulan: Titik Awal yang Sempurna
Jadi, bagi Anda yang ingin healing dengan paket lengkap mulai dari asupan ilmu sejarah yang mendalam hingga keplek ilat dengan kuliner legendaris, Museum Radya Pustaka adalah titik awal yang sempurna di jantung Kota Solo.



