Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Jumat, 20 Februari 2026
Trending
  • Ramalan Keuangan 12 Zodiak Hari Ini: Peluang dan Tantangan Finansial Mengintai
  • Terungkap! Cedera Bruno Paraiba, Bomber Persebaya yang Pernah Robek Ligamen Engkel
  • 9 Negara Mulai Puasa Ramadhan Hari Ini, Termasuk Arab Saudi dan Palestina
  • Artis Viral Pukul Anak Majikan, Lesti Marah, Ayah Korban Tidak Laporkan Pelaku, Ini Alasannya
  • Prospek Saham Energi di Tengah Penurunan Indeks Sektor
  • Innova Venturer Diesel 2018 Bekas, Harga Pas Buat Lebaran
  • Damri luncurkan rute baru Jakarta–Denpasar via Tol Trans Jawa: Jadwal, harga, dan titik naik
  • Honda Stylo 160 Jadi Sorotan Berhasil di IIMS 2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Ragam»Otomotif»Jerman Izinkan Merek Tiongkok Ikut Program Subsidi Mobil Listrik
Otomotif

Jerman Izinkan Merek Tiongkok Ikut Program Subsidi Mobil Listrik

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover27 Januari 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Program Subsidi Kendaraan Listrik Jerman yang Menarik Perhatian Dunia

Jerman baru saja mengumumkan program subsidi kendaraan listrik senilai 3 miliar euro (sekitar Rp59,3 triliun) pada Senin (19/1/2026). Langkah ini diambil untuk mendorong kembali penjualan mobil listrik di pasar otomotif terbesar Eropa. Program ini terbuka bagi semua produsen, termasuk merek asal Tiongkok, tanpa adanya pembatasan berdasarkan negara asal produsen.

Program subsidi ini merupakan kebijakan baru setelah program sebelumnya berakhir pada akhir 2023, yang menyebabkan penurunan penjualan mobil listrik di Jerman sepanjang 2024. Dengan kebijakan ini, pemerintah berharap dapat mempercepat transisi menuju transportasi ramah lingkungan sekaligus mempertahankan daya saing industri otomotif nasional.

Alokasi Dana untuk Subsidi Pembelian Kendaraan Listrik

Jerman menetapkan program subsidi kendaraan listrik senilai 3 miliar euro (Rp59,3 triliun) yang ditujukan untuk mendukung pembelian hingga 800 ribu unit kendaraan listrik hingga 2029. Insentif akan diberikan antara 1.500 euro (Rp29,6 juta) hingga 6.000 euro (Rp118,6 juta) per rumah tangga, tergantung pada harga kendaraan dan tingkat pendapatan penerima.

Subsidi ini difokuskan bagi masyarakat berpenghasilan rendah hingga menengah dengan pendapatan tahunan di bawah 45 ribu euro (Rp889,6 juta), dan berlaku untuk kendaraan listrik baru yang dibanderol di bawah 45 ribu euro (Rp889,6 juta). Pemerintah juga akan meluncurkan portal daring pada Mei 2026 untuk pengajuan bantuan, termasuk bagi pembelian kendaraan yang telah dilakukan sejak 1 Januari 2026.

Menteri Lingkungan Hidup Jerman, Carsten Schneider menyatakan optimisme terhadap daya saing industri otomotif domestik. Ia menegaskan keyakinannya pada kualitas merek Eropa dan Jerman di tengah persaingan global yang semakin ketat.

Program ini meliputi kendaraan listrik murni (EV), hibrida plug-in (PHEV), dan extended-range electric vehicle (EREV), sebagai bagian dari upaya pemerintah membalikkan tren penurunan penjualan kendaraan listrik setelah subsidi sebelumnya dihentikan pada akhir 2023.

Peluang Terbuka untuk Merek Asal Tiongkok

Pemerintah Jerman memutuskan untuk tidak memberlakukan pembatasan berdasarkan asal negara dalam program subsidi kendaraan listrik terbarunya, meskipun Uni Eropa telah mengenakan tarif terhadap mobil listrik buatan Tiongkok. Keputusan ini memungkinkan produsen asal Tiongkok, seperti BYD, untuk bersaing secara adil di pasar Jerman.

Schneider mengatakan, tidak ada bukti terjadinya lonjakan besar impor mobil Tiongkok di Jerman. Ia menyebut kondisi pasar masih dalam batas wajar dan persaingan tetap sehat.

“Saya tidak melihat bukti banjir besar produsen mobil Tiongkok di Jerman, baik dari data maupun di jalan raya. Itulah mengapa kami menghadapi kompetisi dan tidak memberlakukan pembatasan apa pun,” ujarnya dalam konferensi pers.

Kebijakan terbuka ini juga mencerminkan hubungan ekonomi dan diplomatik yang kuat antara Jerman dan Tiongkok. Pemerintah Jerman menilai bahwa pendekatan tanpa diskriminasi sejalan dengan prinsip perdagangan adil, apalagi sejumlah pabrik besar Jerman seperti Volkswagen juga menerima perlakuan setara di pasar Tiongkok melalui program subsidi serupa.

Perbedaan Pendekatan dengan Negara Lain

Pendekatan Jerman terhadap program subsidi kendaraan listrik berbeda dari sejumlah negara Eropa lainnya seperti Inggris dan Prancis yang menerapkan pembatasan terhadap mobil listrik asal Tiongkok. Inggris, misalnya, memberlakukan subsidi dengan persyaratan emisi karbon rendah yang secara efektif menolak kendaraan listrik bertenaga baterai buatan Tiongkok. Sementara itu, Prancis menerapkan skema “sewa sosial” dengan kriteria serupa yang mengecualikan kendaraan dari produsen Tiongkok dalam daftar subsidi pemerintah.

Sebaliknya, Jerman memilih untuk membuka kompetisi secara bebas tanpa memandang asal negara produsen. Langkah ini dimaksudkan untuk mendorong persaingan sehat dan mendukung industri otomotif domestik yang tengah menghadapi tekanan penurunan penjualan serta meningkatnya biaya produksi.

Program subsidi ini diharapkan dapat menarik kehadiran model-model kendaraan listrik dengan harga lebih terjangkau di pasar, sekaligus mempercepat transisi menuju mobilitas rendah emisi di Eropa.

Dana Pinjaman Negara untuk Mendukung Investasi Tesla

Selain program subsidi kendaraan listrik, Jerman juga meluncurkan dana pinjaman negara senilai Rp586 triliun untuk mendukung investasi Tesla dalam memperluas investasi sel baterai di Jerman. Target operasi perusahaan kimia terbesar Jerman, BASF, adalah pada 2027. Perusahaan ini berjanji tidak akan melakukan pemotongan tenaga kerja.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Innova Venturer Diesel 2018 Bekas, Harga Pas Buat Lebaran

20 Februari 2026

Honda Stylo 160 Jadi Sorotan Berhasil di IIMS 2026

20 Februari 2026

Chery siapkan 7 model baru dan perluas 120 dealer di Indonesia 2026

20 Februari 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Ramalan Keuangan 12 Zodiak Hari Ini: Peluang dan Tantangan Finansial Mengintai

20 Februari 2026

Terungkap! Cedera Bruno Paraiba, Bomber Persebaya yang Pernah Robek Ligamen Engkel

20 Februari 2026

9 Negara Mulai Puasa Ramadhan Hari Ini, Termasuk Arab Saudi dan Palestina

20 Februari 2026

Artis Viral Pukul Anak Majikan, Lesti Marah, Ayah Korban Tidak Laporkan Pelaku, Ini Alasannya

20 Februari 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?