Peluang dan Tantangan Industri Modal Ventura di Tengah Perkembangan Teknologi AI
Perkembangan pesat teknologi artificial intelligence (AI) memberikan peluang baru bagi berbagai sektor industri, termasuk dalam dunia modal ventura. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melihat potensi besar dari penggunaan AI yang dapat dimanfaatkan baik secara langsung maupun tidak langsung.
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK, Agusman, menyatakan bahwa AI bisa menjadi salah satu pendorong kinerja industri modal ventura ke depan. Ia menekankan bahwa peluang ini bisa diperoleh melalui pendanaan langsung kepada perusahaan pengembang AI atau dengan menerapkan AI pada berbagai sektor ekonomi lainnya.
Agusman optimis bahwa kinerja industri modal ventura masih memiliki peluang tumbuh positif pada tahun 2026, meskipun dalam batasan tertentu. Hal ini didorong oleh adanya startup yang telah mencatatkan profitabilitas serta ekspansi pembiayaan ke sektor hilirisasi dan peningkatan investasi berbasis syariah.
Beberapa sektor yang dinilai memiliki potensi sebagai target pembiayaan modal ventura pada 2026 antara lain perdagangan besar dan eceran, termasuk jasa reparasi dan perawatan mobil serta sepeda motor. Namun, ia juga menyoroti beberapa tantangan yang harus diwaspadai, seperti dampak tech winter, dinamika perekonomian global, serta keterbatasan sumber pendanaan.
Kinerja Industri Modal Ventura pada November 2025
Dalam laporan OJK, laba bersih industri modal ventura mencapai Rp 579,77 miliar per November 2025. Angka ini meningkat signifikan sebesar 150,98% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan pendapatan serta perbaikan kualitas portofolio pembiayaan melalui strategi yang lebih selektif.
Selain itu, nilai pembiayaan industri modal ventura tercatat sebesar Rp 16,29 triliun per November 2025, tumbuh 1,2% secara tahunan (year on year/YoY). Sementara itu, nilai aset industri modal ventura tercatat sebesar Rp 27,12 triliun, meningkat 4,63% YoY.
Dampak Tech Winter yang Masih Terasa
Meski ada pertumbuhan, OJK mengakui bahwa dampak tech winter masih memengaruhi industri modal ventura hingga saat ini. Tech winter merujuk pada periode penurunan signifikan dan berkepanjangan pada investasi teknologi serta aktivitas bisnis perusahaan rintisan. Namun, Agusman menilai bahwa dampak ini mulai lebih terkendali seiring dengan penyesuaian strategi investasi yang lebih hati-hati.
Industri modal ventura kini lebih fokus pada pembiayaan usaha dengan fundamental yang kuat dan berkelanjutan. Hal ini menjadi langkah penting untuk menghadapi tantangan di masa depan, terutama dalam menghadapi fluktuasi pasar dan keterbatasan pendanaan.
Strategi Investasi yang Lebih Selektif
Strategi investasi yang lebih selektif menjadi kunci dalam menjaga kinerja industri modal ventura. Dengan fokus pada usaha yang memiliki prospek jangka panjang dan stabilitas finansial, industri ini diharapkan dapat tetap bertahan dan berkembang meski menghadapi berbagai tantangan.
Agusman menekankan pentingnya prinsip kehati-hatian dalam pengambilan keputusan investasi. Dengan demikian, industri modal ventura dapat tetap menjadi bagian penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia, khususnya dalam memperkuat sektor-sektor inovatif dan berbasis teknologi.



