Masalah Anak Manja dalam Ruang Publik
Anak manja seringkali dianggap sebagai masalah keluarga, namun dalam konteks Republik Indonesia, hal ini telah menjadi isu publik yang memengaruhi berbagai aspek kehidupan. Awalnya, anak manja hanya terkait dengan ketidakmampuan orang tua dalam mendidik anak secara tepat (parenting). Namun, situasi ini berubah ketika para orang tua mulai membawa anak-anak mereka, keponakan, dan menantu ke dalam ruang-ruang publik.
Ketidakdisiplinan dalam membedakan berbagai ruang ini berdampak buruk, baik terhadap anak maupun terhadap tubuh politik negara. Fenomena ini muncul saat anak-anak manja ‘diadakan’ untuk memimpin organisasi publik. Ini bukan hanya terjadi di Jakarta, tetapi juga merambat hingga ke pelosok daerah.
Kesiapan dalam Krisis
Saat krisis terjadi, segala bentuk kamufle visual dan dramaturgi yang biasa disiapkan oleh kalangan berduit dan berkuasa tiba-tiba terbuka. Mereka yang sebelumnya ditampilkan sebagai pemimpin mampu ternyata tidak mampu bertindak ketika menghadapi krisis nyata. Dalam watak anak manja, mereka tidak memiliki pengalaman yang cukup selama fase kaderisasi, sehingga tidak siap menghadapi tantangan.
Politik yang Tidak Stabil
Setiap kali berbicara tentang republik di ranah publik, yang muncul adalah ritual baris berbaris. Hal ini bisa dimaklumi karena di awal perjalanan, kaum propagandis Indonesia menjalankan tugas ‘Sodara Tua’ dalam agenda Asia Timur Raya. Banyak atribut yang diperkenalkan di fase awal merupakan bagian dari agitasi dan propaganda Dai Nippon. Saat ini, masyarakat dididik untuk bisa ‘belanja seragam’.
Rekrutmen organisasi penting di republik sering tercemar dengan praktik busuk anak manja. Orang tua sibuk berbelanja jabatan dan seragam agar anak-anak mereka bisa masuk institusi negara. Ketika semua fenomena ini dianggap lumrah, sistem check and balance sulit dijalankan.
Di partai politik pun situasinya mirip. Fenomena ‘anak mama’ dan ‘anak bapak’ menjadi masalah tersendiri. Belum lagi urusan ipar mengipar yang membuat partai politik lebih mirip dukun beranak. Bagaimana mungkin urusan publik yang membutuhkan nalar kritis justru diisi dengan primitivitas seperti ini?
Meritokrasi yang Hilang
Tradisi meritokrasi yang memungkinkan orang terbaik ada dalam pucuk pimpinan organisasi sudah lama pudar. Orang tua konyol yang menempatkan anak-anak yang tidak matang dalam berbagai institusi publik ikut merusak tradisi egaliter republik. Dampak jangka panjang pelanggengan tradisi anak manja yang merusak berbagai organisasi publik saat ini sudah dirasakan.
Kader-kader yang muncul di pucuk pimpinan republik ditutupi awan hitam. Tidak bersinar. Jika bersinar pun harus dibantu para jongos buzzer yang merusak. Atas nama kelaparan dan upah materi, orang-orang ikut terbiasa menghianati kepentingan orang banyak.
Revolusi yang Tidak Nyata
Dengan tradisi saling memanjakan antar kader dan pimpinan, organisasi-organisasi di Indonesia hanyalah macan kertas. Tidak ada isinya. Tidak ada intan yang terbentuk dengan fenomena kemanjaan ini. Para pemimpin organisasi berpuas diri dengan menenggelamkan logika dalam retorika bacaan, dan melupakan tuntutan kemampuan untuk membaca realitas.
Indoktrinasi yang membabibuta telah membuat kebencian semu semakin menjadi-jadi. Hal-hal yang tidak perlu dipersengketakan malah menjadi barang sengketa. Nalar dan budi tidak lagi menjadi tuntunan, sebaliknya tenggelam dalam sekian kebodohan.
Jabatan-jabatan publik yang diisi dengan kawanan anak manja membuat pengelolaan urusan publik semata menjadi urusan toilet pribadi. Urusan kantor menjadi urusan bapak-anak.
Catatan pasca generasi 1998 ini dibuat untuk merenungi jalan salah Indonesia. Ketika revolusi menjadi jargon anak manja, memang sungguh merepotkan. Idealnya, jika kita mendapatkan pemimpin yang cukup ditempa dan kenyang penderitaan di fase kaderisasi, mereka akan menjadi tiang untuk warganya. Sedangkan pejabat yang muncul yang mendapatkan jabatan sekadar warisan orangtua/mertua/om/tante ini jelas-jelas bikin pusing.
Mau langsung atau tidak langsung, jika republik dikelola dinasti anak-anak manja niscaya hanya sumpah serapah saja yang muncul di lini massa. Lebih tragis lagi, anak manja yang menjadi pimpinan terbiasa dengan nalar pendek, ruang imajinasi hanya selebar ruang makan rumah mereka, mana mungkin berbicara soal rakyat (the people), yang merupakan konsep abstrak.
Entah kapan badai anak manja ini berlalu. Semoga tidak ada tragedi yang terjadi.



