Membangun Hubungan yang Berkualitas dengan Keterampilan Komunikasi
Dalam kehidupan yang serba cepat dan penuh kesibukan, banyak orang mengalami kesulitan dalam membangun interaksi yang bermakna. Selain itu, kemajuan teknologi komunikasi juga membuat sebagian orang kehilangan kemampuan berbicara atau berdialog secara efektif. Oleh karena itu, keterampilan komunikasi menjadi sangat penting untuk membangun hubungan yang kuat dan berkualitas.
Orang yang memiliki keterampilan komunikasi yang baik dapat dengan mudah menjalin relasi di berbagai aspek kehidupan, seperti tempat kerja, pertemanan, atau bahkan keluarga. Selain itu, keterampilan ini juga membantu menciptakan hubungan yang lebih harmonis karena ikatan terbentuk secara mendalam.
Berikut adalah enam keterampilan komunikasi yang harus dimiliki oleh seseorang agar dapat membuat orang lain terkesan. Keterampilan ini sangat berguna untuk membangun hubungan yang saling menghormati dan terikat satu sama lain.
Ciptakan Waktu Interaksi yang Nyaman
Banyak orang menganggap interaksi hanya sebatas basa-basi yang hanya membahas topik dangkal. Namun, sesungguhnya interaksi adalah tentang bagaimana Anda menciptakan waktu dan suasana yang nyaman. Ketika lawan bicara merasa nyaman berbicara dengan Anda, mereka cenderung lebih mudah terbuka dan menciptakan kesan yang baik.
Percakapan tidak dibangun dengan cepat, tapi dibangun dengan ruang dan waktu terbuka untuk saling mendengarkan. Setiap orang pasti ingin merasa didengarkan, sehingga suasana dalam percakapan harus nyaman dan saling menghormati satu sama lain. Luangkan waktu untuk orang lain berbicara, dan hindari memotong pembicaraan karena itu justru membuat orang lain tidak nyaman. Selama percakapan, usahakan menjadi pendengar yang aktif agar dapat memberikan tanggapan yang membuat orang lain nyaman.
Tunjukkan Rasa Ingin Tahu Bukan Menghakimi
Rasa ingin tahu bukan hanya tentang bertanya tentang hal pribadi atau rahasia yang disembunyikan orang lain. Ketika Anda ingin belajar skill berkomunikasi, tunjukkan rasa ingin tahu dari pertanyaan yang Anda ajukan. Daripada menilai atau menghakimi, tunjukkan pertanyaan yang relevan dengan cerita yang dibagikan oleh lawan bicara.
Ini karena ketika kita menunjukkan rasa ingin tahu daripada menghakimi, orang lain cenderung merasa didengarkan. Selain itu, rasa ingin tahu membuat ikatan menjadi lebih bermakna, dan komunikasi dapat terus berlanjut. Rasa ingin tahu yang tulus dapat memberikan pengalaman dan kesan yang baik dalam setiap percakapan. Dan ketika orang lain merasa didengar, mereka akan menjadi lebih terbuka dan relasi terbentuk secara alami.
Bertanya dengan Kata “Apa” dan “Bagaimana”
Kebanyakan orang secara tidak sadar menanggapi cerita orang lain dengan pertanyaan “Kenapa.” Memang tidak salah, tapi pertanyaan tersebut dapat membuat orang lain merasa tidak nyaman atau bahkan disepelekan. Selain itu, lawan bicara Anda dapat merasa lebih defensif daripada membangun percakapan yang terbuka.
Cobalah untuk bertanya dengan kata “Apa” atau “Bagaimana” karena ini memberikan ruang terbuka untuk seseorang mengekspresikan dirinya. Selain itu, pertanyaan dengan kata tersebut membuat orang lain menjawab tanpa rasa tertekan, dan justru membuat percakapan lebih terbuka. Pertanyaan sederhana seperti “Apa yang membuatmu tertarik” atau “Bagaimana kelanjutannya,” seperti memberikan kesan yang lebih positif. Dan pertanyaan semacam itu dapat membuat situasi dalam percakapan menjadi lebih kondusif dan bermakna.
Beri Pertanyaan Terbuka
Pertanyaan terbuka sama seperti pertanyaan “Apa” dan “Bagaimana,” dan itu membuat percakapan terus berlanjut. Alih-alih menanggapi lawan bicara dengan pernyataan, hal itu cenderung mematikan obrolan dan menunjukkan sikap kurang terbuka. Justru pertanyaan terbuka membuat seseorang menjadi terdorong untuk bercerita lebih lanjut, dan membangun obrolan secara lebih mendalam.
Alih-alih menanggapi dengan saran, pertanyaan terbuka membuat obrolan menjadi lebih panjang, sehingga ikatan menjadi lebih mudah terbentuk. Selain itu, pertanyaan terbuka tidak membuat lawan bicara merasa tertekan, justru merasa nyaman untuk saling berbagi.
Pahami Interaksi Bukan Hanya Kata-Kata
Orang yang memiliki kemampuan komunikasi yang baik memahami bahwa interaksi bukan hanya kata-kata tapi juga bahasa tubuh. Memahami bahasa tubuh orang lain memang tidak mudah, tapi dapat dibiasakan dengan mendengarkan dan berlatih kepekaan. Selama percakapan usahakan terlibat penuh, dan juga perhatikan bahasa tubuh yang ditunjukkan orang lain ketika berbicara.
Ketika Anda mampu membuat orang lain berbicara dengan nyaman, bahasa tubuh mereka akan menjadi lebih terbuka. Selain itu, akan tercipta humor ringan yang dapat mencairkan suasana, sehingga interaksi tidak terlalu tegang.
Fokus Pada Kualitas Bukan Kuantitas
Percakapan yang bermakna bukan tentang seberapa lama Anda berbicara atau bertemu, tapi tentang ketulusan. Orang yang memiliki keterampilan komunikasi yang baik selalu fokus membangun percakapan yang berkualitas daripada kuantitas. Mereka fokus dalam berbicara ketika bertemu, bukan terus-menerus ingin saling berkomunikasi satu sama lain.
Alih-alih menuntut respon cepat, Anda akan dapat menciptakan kesan yang baik jika membangun obrolan lebih bermakna dan saling menjaga ruang pribadi. Pahami setiap orang memiliki waktu dan suasana hati yang berbeda, sehingga tidak setiap waktu Anda dapat berinteraksi seperti biasa. Jadi, komunikasi yang baik adalah tentang kualitas bukan tentang kualitas ketika sedang bertemu atau saling bertukar cerita.



