Daerah Kadin Jatim Gencarkan Literasi Digital UMKM, Targetkan Peningkatan Daya Saing Ekonomi Daerah

Kadin Jatim Gencarkan Literasi Digital UMKM, Targetkan Peningkatan Daya Saing Ekonomi Daerah

14
0

Jawa Timur – Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur, Adik Dwi Putranto, menegaskan bahwa literasi digital kini telah menjadi kebutuhan mendesak bagi pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Menurutnya, penguasaan teknologi digital bukan lagi sekadar tren, melainkan faktor penentu daya saing UMKM di tengah perubahan pola bisnis yang semakin cepat dan dinamis.

“Literasi digital itu bukan lagi pilihan, tapi kebutuhan. Kalau UMKM kita tidak segera beradaptasi, mereka akan tertinggal,” tegas Adik dalam Dialog Sinergitas Peningkatan Literasi Masyarakat bertema “Transformasi Digital dalam Perdagangan: Peluang dan Tantangan” di Graha Kadin Jatim, Surabaya, Kamis (28/8/2025).

Adik mengungkapkan bahwa saat ini terdapat lebih dari 9,7 juta unit UMKM di Jawa Timur, atau sekitar 57 persen dari total UMKM nasional. Namun, hanya sebagian kecil di antaranya yang telah memanfaatkan teknologi digital secara optimal untuk pemasaran produk, pengelolaan keuangan, maupun akses permodalan. Sebagian besar UMKM masih mengandalkan cara konvensional, yang dinilai kurang mampu menghadapi persaingan pasar modern.

“Padahal, peluang ekonomi digital di Indonesia sangat besar. Nilai transaksi ekonomi digital pada 2025 diperkirakan mencapai Rp2.100 triliun. Sayangnya, kontribusi UMKM masih jauh di bawah potensinya,” jelas Adik.

Ia menambahkan, pemanfaatan platform e-commerce, layanan keuangan digital, serta strategi pemasaran berbasis media sosial dapat mendongkrak kontribusi UMKM terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Timur secara signifikan.

Sebagai bentuk komitmen, Kadin Jatim akan memperluas program pendampingan dan pelatihan literasi digital yang menyasar berbagai sektor UMKM, mulai dari kerajinan, kuliner, hingga industri kreatif. Program tersebut dirancang melalui kolaborasi lintas sektor melibatkan pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, hingga komunitas digital.

“Kami ingin UMKM di Jawa Timur tidak hanya bertahan, tapi juga naik kelas. Dengan literasi digital, mereka bisa lebih produktif, memiliki akses pasar yang lebih luas, dan mampu bersaing di pasar nasional maupun global,” imbuhnya.

Dari sisi pemerintah, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Jawa Timur, Sherlita Ratna Dewi Agustin, menekankan bahwa literasi digital tidak hanya berperan dalam meningkatkan kemampuan perdagangan, tetapi juga dalam menjaga ekosistem informasi yang sehat.

“Data Kemenkominfo menunjukkan 72,6 persen masyarakat Indonesia masih mengandalkan media sosial sebagai sumber informasi, dan ini yang paling rawan menjadi kanal penyebaran hoaks,” ujarnya. Menurut riset Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), media sosial menjadi medium paling rentan penyalahgunaan informasi palsu.

“Peningkatan literasi digital menjadi upaya serius Pemprov Jatim agar masyarakat lebih tangguh menghadapi arus informasi dan tidak mudah terjebak manipulasi digital,” tegas Sherlita.

Anggota Komisi A DPRD Jatim, Fredi Purnomo, menambahkan bahwa digitalisasi tidak hanya terkait perdagangan semata, tetapi juga menyangkut perlindungan masyarakat terhadap konten digital negatif, seperti penipuan daring, pencurian data, hingga pelanggaran hak kekayaan intelektual.

“UMKM yang berdaya digital akan lebih mudah memperluas pasar, meningkatkan promosi, dan sekaligus melindungi produk lokal dari gempuran produk asing,” katanya.

Sementara itu, Ketua DPD Asosiasi Pengusaha TIK Nasional (Aptiknas) Jatim, Ageng Permadi, mengingatkan bahwa transformasi digital adalah proses berkelanjutan yang menuntut adaptasi berkelanjutan.

“Yang bertahan bukan yang terbesar, tapi yang paling cepat beradaptasi. Transformasi digital itu tidak pernah selesai. Kalau kita merasa sudah sampai di garis akhir, justru di situ kita akan tergilas,” tegas Ageng.

Menurutnya, kunci transformasi digital ada pada pemahaman terhadap perilaku konsumen. Saat ini, perilaku pelanggan banyak dipengaruhi oleh algoritma digital yang menganalisis kebiasaan pengguna. “Hal ini membuka peluang sekaligus tantangan bagi UMKM untuk mengoptimalkan marketplace, media sosial, dan sistem pembayaran digital secara efektif,” ujarnya.

Dialog yang digelar Kadin Jatim ini menjadi salah satu rangkaian inisiatif untuk mengakselerasi transformasi digital di Jawa Timur. Hasil diskusi akan ditindaklanjuti dengan penyusunan program kerja strategis yang melibatkan pemerintah provinsi, dunia pendidikan, sektor swasta, serta komunitas UMKM.

“Kami akan mendorong lebih banyak pelatihan tematik, akses pembiayaan digital, serta pengembangan platform yang memudahkan UMKM terhubung dengan pasar internasional,” tutup Adik.(Puji)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini