
Inisiatif Pembangunan Kampung Haji di Makkah: Peluang dan Potensi Ekonomi Syariah
Pembangunan Kampung Haji Indonesia di Makkah, Arab Saudi, menjadi salah satu inisiatif yang menarik perhatian para ahli ekonomi syariah. Menurut penasehat Center for Sharia Economic Development Institute for Development of Economics and Finance (CSED Indef), Abdul Hakam Naja, rencana tersebut patut didukung sebagai langkah strategis untuk memperkuat ekosistem haji dan umrah.
Abdul menyampaikan bahwa rencana pembangunan Kampung Indonesia untuk jamaah haji dan umrah oleh Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) layak mendapatkan dukungan penuh. Hal ini disampaikannya dalam diskusi publik mengenai Ekonomi Syariah Dalam Nota Keuangan secara virtual di Jakarta pada Senin, 25 Agustus 2025.
Dalam data yang disampaikan, jumlah jamaah haji dari Indonesia mencapai sekitar 221 ribu orang pada tahun 2025, sementara jumlah jamaah umrah mencapai 1,8 juta orang pada tahun 2024. Dengan jumlah yang begitu besar, kebutuhan akan fasilitas yang memadai sangat penting untuk memastikan kenyamanan dan keamanan selama ibadah.
Saat ini, total dana kelolaan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) 2025 mencapai Rp188 triliun, dengan pengeluaran perputaran dana haji dan umrah per tahun sebesar Rp70 triliun. Abdul berpendapat bahwa adanya rencana pembangunan Kampung Haji harus bisa bersinergi dengan BPKH agar peluang perputaran dana tersebut dapat kembali ke Tanah Air, bukan hanya ke Arab Saudi.
Menurutnya, pihak Danantara telah mendapatkan persetujuan dari Prince Muhammad Bin Salman terkait lokasi Kampung Haji. Lokasi yang direncanakan berada sejauh 1 hingga 2 kilometer dari Masjidil Haram. Ia berharap proyek ini segera terealisasi, karena jika berhasil dibangun, maka ekosistem haji dan umrah bisa direplikasi di tempat lain.
Peran Danantara dalam Peningkatan Fasilitas Jemaah
Sebelumnya, CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, melakukan kunjungan kerja ke Jeddah dan Makkah sesuai dengan arahan Presiden RI Prabowo Subianto. Kunjungan ini bertujuan untuk memastikan bahwa kebutuhan jemaah haji dan umrah dapat dipenuhi dengan lebih baik.
Rosan menjelaskan bahwa ke depan masyarakat akan mendapatkan fasilitas penginapan yang baik dan nyaman di Makkah. Fasilitas ini tidak hanya untuk penginapan, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi pusat layanan terpadu yang mencakup kebutuhan ibadah, klinik kesehatan, serta ruang pembinaan manasik di lokasi strategis.
Dalam kunjungannya, Rosan meninjau lebih dari 10 opsi lahan dan 3 proyek besar yang ada di Makkah. Proyek-proyek ini menjadi kandidat potensial untuk pembangunan Kampung Haji. Desain yang dirancang mencakup berbagai fasilitas seperti akomodasi, pusat layanan jamaah, klinik kesehatan, serta ruang pertemuan untuk pembinaan ibadah.
Langkah-langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kenyamanan, keamanan, dan efisiensi bagi jutaan jemaah haji dan umrah Indonesia setiap tahun. Dengan adanya Kampung Haji, diharapkan dapat memberikan dampak positif baik secara ekonomi maupun sosial, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam pengelolaan haji dan umrah.