Nasional BI Rate Turun, NIM Bank Bisa Naik

BI Rate Turun, NIM Bank Bisa Naik

8
0

Dampak Penurunan BI Rate terhadap Perbankan

Penurunan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia (BI) memberikan dampak positif yang signifikan terhadap sektor perbankan. Kebijakan ini menjadi angin segar bagi industri perbankan, khususnya dalam meningkatkan profitabilitas melalui peningkatan rasio Net Interest Margin (NIM). NIM sendiri menjadi indikator utama untuk mengukur efisiensi dan keuntungan bank.

Sepanjang tahun 2025, BI telah melakukan penurunan sebanyak 100 basis poin (bps), sehingga tingkat suku bunga acuan saat ini berada di level 5%. Hal ini menunjukkan komitmen BI untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dengan memperbaiki kondisi likuiditas dan daya beli masyarakat.

Analis dari Phillip Sekuritas, Edo Ardiansyah, menyatakan bahwa penurunan suku bunga ini bisa menjadi katalis positif bagi kinerja bank. Menurutnya, penurunan suku bunga biasanya lebih cepat memengaruhi biaya dana daripada bunga pinjaman. Akibatnya, margin bunga bersih atau NIM berpotensi melebar.

Selain itu, penurunan suku bunga juga diharapkan dapat meningkatkan permintaan kredit. Hal ini akan mendorong ekspansi kredit pada semester kedua tahun 2025, yang akhirnya akan berdampak positif terhadap profitabilitas perbankan.

Edo menjelaskan bahwa dampak positif dari penurunan BI rate akan dirasakan secara merata oleh seluruh industri perbankan, baik bank besar maupun bank kecil. Namun, bank-bank yang berhasil menjaga NIM pada awal tahun ini akan mendapat manfaat lebih besar. Contohnya adalah PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk (BWS).

Meskipun berada di tengah era suku bunga tinggi, BWS masih mampu mencatat peningkatan NIM pada semester I-2025. Hal ini didorong oleh efisiensi biaya dana dan selektivitas dalam pemberian kredit. Berdasarkan data semester I-2025, pendapatan bunga bersih BWS naik 4,14% menjadi Rp871,02 miliar, sementara NIM meningkat menjadi 3,29%.

Menurut Edo, bank-bank besar seperti BBRI, BMRI, dan BBCA juga akan mendapat keuntungan dari penurunan BI Rate, meski dampaknya berbeda-beda. BBRI memiliki NIM yang paling tebal, sehingga setiap basis poin penurunan bunga langsung terasa di margin. Sementara BMRI dan BBCA lebih konservatif, tetapi tetap mendapat keuntungan melalui penurunan cost of fund.

Bank seperti BWS, yang basis pendanaannya relatif murah dari induk, bisa menjadi pemenang di segmen tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa strategi pengelolaan biaya dana sangat penting dalam menghadapi dinamika suku bunga.

Ke depan, analis memprediksi bahwa perbankan akan lebih berani menyalurkan kredit pada semester II-2025 dengan biaya pendanaan yang lebih rendah. Namun, bank harus tetap waspada terhadap risiko kualitas aset.

Tren penurunan suku bunga ini positif untuk industri perbankan, tetapi disiplin dalam risk management tetap diperlukan agar NPL (Non Performing Loan) tidak meningkat di tengah ekspansi kredit. Dengan demikian, perbankan perlu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan kredit dan pengelolaan risiko.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini