Nasional Kebijakan Moneter BI Bikin Dunia Usaha Ceria

Kebijakan Moneter BI Bikin Dunia Usaha Ceria

9
0

Kebijakan BI Rate Diterima Positif oleh Dunia Usaha

Kebijakan Bank Indonesia yang memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuan (BI rate) direspons positif oleh berbagai pihak, termasuk kalangan dunia usaha. Salah satu institusi keuangan terbesar di Indonesia, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, akan terus menjalankan fungsi intermediasi secara sehat dan selektif. Hal ini dilakukan untuk mendukung sektor-sektor produktif serta memperkuat ekonomi kerakyatan.

Direktur Finance and Strategy Bank Mandiri, Novita Widya Anggraini, menyampaikan bahwa keputusan Bank Indonesia dalam menurunkan BI rate sebesar 25 basis poin (bps) merupakan langkah akomodatif. Tujuannya adalah untuk menjaga stabilitas perekonomian nasional di tengah dinamika global. Selain itu, penurunan ini juga bertujuan untuk mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi dengan tetap memperhatikan inflasi yang terkendali serta nilai tukar yang stabil.

“Penyesuaian ini menjadi sinyal positif bagi dunia usaha. Bank Indonesia telah menunjukkan arah yang strategis. Kami siap memperkuat sinergi dengan otoritas moneter melalui pertumbuhan kredit yang sehat, terukur, dan berpihak pada kebutuhan masyarakat maupun pelaku usaha,” ujar Novita.

Bank Mandiri akan menjalankan fungsi intermediasi secara sehat dan selektif. Fokus utama mereka adalah pada pertumbuhan berbasis ekosistem wholesale. Perseroan yakin mampu tumbuh berkelanjutan melalui prinsip kehati-hatian (prudential banking).

Penyesuaian Suku Bunga Kredit

Terkait suku bunga kredit, Novita menegaskan bahwa bank telah melakukan penyesuaian pada segmen kredit berbasis reference rate. Hal ini sesuai dengan arah penurunan BI rate. Transmisi suku bunga dipengaruhi oleh kondisi likuiditas industri, struktur biaya dana (cost of fund), serta komunikasi kepada nasabah.

“Portofolio kredit yang langsung mengacu pada BI rate hanya mencakup porsi terbatas dibandingkan total portofolio,” jelasnya.

Penurunan BI rate sebesar 25 bps, menurut Novita, diperkirakan akan menurunkan yield kredit sekitar 10-15 bps di level portofolio. Dampaknya terhadap pendapatan bunga relatif minimal. Hal ini dapat dikelola melalui strategi peningkatan porsi kredit ritel dan UMKM.

“Sekaligus menjaga keseimbangan portofolio wholesale,” tambahnya.

Pertumbuhan Kredit yang Menjanjikan

Hingga Mei 2025, Bank Mandiri mencatat pertumbuhan kredit wholesale sebesar 15,8 persen secara year-on-year (YoY). Angka ini jauh di atas rata-rata industri yang mencapai 8,43 persen YoY. Kredit perumahan juga mengalami pertumbuhan sebesar 14,2 persen YoY.

Sementara itu, segmen ritel naik sebesar 8,95 persen secara tahunan. Hal ini sejalan dengan tren industri. Tentunya, dengan kualitas kredit yang terjaga, dimana rasio non-performing loan (NPL) mencapai 1,06 persen secara bank only.

“Pertumbuhan yang sehat adalah keharusan. Kami akan terus mengedepankan prinsip kehati-hatian agar tetap tangguh menghadapi berbagai siklus ekonomi dan dinamika pasar,” jelas Novita.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini