Nasional Kisah Korban PSN di Kalimantan dan Merauke

Kisah Korban PSN di Kalimantan dan Merauke

3
0

Dampak Proyek Strategis Nasional pada Masyarakat Lokal

Proyek Strategis Nasional (PSN) yang digagas oleh pemerintah Indonesia memiliki dampak signifikan terhadap kehidupan masyarakat setempat, khususnya mereka yang bergantung pada sumber daya alam. Banyak warga di daerah sekitar PSN mengeluhkan penurunan kualitas hidup dan hilangnya mata pencaharian akibat pembangunan besar-besaran ini. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang apakah proyek tersebut benar-benar memberikan manfaat bagi seluruh rakyat atau hanya berpihak kepada sekelompok tertentu.

Nelayan yang Terdampak PSN

Arman, seorang nelayan dari Mangkupadi, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, menjadi salah satu contoh nyata dari dampak negatif PSN. Ia menyebut bahwa proyek ini bukan sekadar pembangunan biasa, tetapi justru membawa ancaman serius terhadap mata pencaharian para nelayan. Selama ini, nelayan memanfaatkan bagan tancap yang bahan bakunya berasal dari kayu hutan. Namun, seiring dengan adanya PSN, jumlah bagan tancap berkurang drastis. Tahun lalu masih ada sekitar 117 bagan, tetapi saat ini hanya tersisa 50.

Kondisi ini disebabkan oleh kesulitan warga dalam mendapatkan bahan baku. Arman menjelaskan bahwa hasil tangkapan ikan juga semakin menurun, sehingga pendapatan nelayan turun. Meskipun kebutuhan sehari-hari tetap harus dipenuhi, situasi ini membuat mereka merasa terpinggirkan. “Pembangunan besar ini menguntungkan pihak tertentu, tapi kami yang hidup dari laut dan hutan justru kehilangan mata pencaharian,” ujarnya.

Kehidupan Masyarakat Adat di Merauke

Selain nelayan, masyarakat adat di Merauke, Papua Selatan, juga mengalami dampak serupa. Simon Petrus Balagaize, Ketua Forum Masyarakat Adat Malind Kondi Digoel, mengungkapkan bahwa kehadiran PSN menyebabkan berbagai masalah sosial-ekonomi. Ia menilai bahwa masyarakat lokal justru mengalami penurunan kesejahteraan akibat hilangnya sumber penghidupan.

Dalam pernyataannya, ia menyebut bahwa hutan yang dulunya menjadi sumber kehidupan bagi warga kini telah dibongkar ribuan hektare. Contohnya, di Merauke seluas 2,2 juta hektare hutan telah hilang. Namun, masyarakat tidak mendapatkan manfaat apa pun dari pembangunan tersebut. “Hutan yang dulunya berfungsi sebagai ‘supermarket’ alami bagi warga, tempat mencari ikan, berburu, dan memperoleh bahan pangan kini telah hilang,” katanya.

Perubahan Pola Hidup dan Kehilangan Pekerjaan

Akibat hilangnya hutan, pola hidup masyarakat berubah secara drastis. Sebagian besar warga yang sebelumnya bergantung pada hasil alam kini tidak lagi memiliki akses yang memadai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Sudah satu tahun hutan dibongkar, tapi tidak ditanami padi. Hanya seperempat yang ditanami, itu pun pencitraan. Pendapatan makan dan hidup masyarakat menurun,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Petrus berharap pemerintah lebih memperhatikan kondisi sosial-ekonomi warga terdampak PSN. Ia menegaskan bahwa pembangunan harus memberikan kesejahteraan bagi seluruh rakyat, bukan hanya segelintir pihak. “Pemerintah dan Presiden harus memberikan keadilan kepada masyarakat Indonesia,” tegasnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini