Dampak Konflik Global pada Sektor Energi
Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran telah memberikan dampak yang signifikan terhadap sektor energi di berbagai negara. Khususnya, ketika Iran menguasai Selat Hormuz, jalur penting pengiriman minyak dunia, sebagai respons atas serangan yang dilakukan AS dan Iran pada Februari 2026. Hal ini menyebabkan hambatan dalam transportasi kapal yang membawa bahan bakar.
Banyak negara telah mengumumkan krisis energi. Misalnya, Filipina menetapkan darurat energi nasional pada Selasa (24/3/2026) dan mengaktifkan dana darurat sebesar 20 miliar peso (sekitar Rp 5,61 triliun) untuk membeli hingga 2 juta barel bahan bakar, termasuk minyak olahan dan elpiji. Di Bangladesh, krisis BBM membuat asosiasi pemilik SPBU khawatir hingga mengancam menghentikan operasional jika situasi tidak membaik.
Sementara itu, Korea Selatan mengaktifkan tanggap darurat nasional pada Rabu (25/3/2026) dan meminta masyarakat untuk berhemat energi. Pertanyaannya, bagaimana dengan Indonesia? Apakah Indonesia aman dari darurat energi?
Indonesia Masih Jauh dari Aman
Ekonom dari Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, menilai bahwa Indonesia saat ini berada dalam fase “sunyi sebelum badai”. Menurut Bhima, meskipun negara lain sudah mengeluarkan kebijakan darurat energi, Indonesia belum melakukan upaya riil, terutama dalam menyiapkan paket mitigasi.
Ia menyoroti perbandingan dengan Jepang, yang memiliki cadangan BBM hingga 254 hari, sedangkan Indonesia hanya 25 hari. Jepang bahkan meluncurkan paket mitigasi berupa pelepasan 400 juta barel oleh anggota IEA, serta ekspansi pembangkit tenaga angin offshore dan hidrogen. Tujuannya adalah agar harga BBM tetap stabil, tidak melebihi 170 yen per liter.
“Indonesia jelas jauh dari kata aman. Konsumsi BBM dan LPG masih tinggi, sementara impor dari Selat Hormuz belum bisa dilakukan karena konflik. Jika ada alternatif, harganya tentu mahal,” jelasnya.
Saran Kebijakan dalam Paket Mitigasi
Bhima menyarankan pemerintah untuk membuat paket mitigasi. Salah satu programnya adalah dengan menggeser anggaran terlebih dahulu. “Soal subsidi energi harus dijaga bukan dengan menaikkan harga BBM atau LPG, tapi geser anggaran dulu,” katanya.
Menurutnya, perlu ada pembicaraan mengenai APBN Perubahan di DPR. Jika ada pos belanja yang belum mendesak, Bhima menyarankan untuk bisa dipangkas. “Masyarakat khususnya menengah kebawah tidak siap hadapi kenaikan harga BBM. Efeknya bisa downward spiral ke pelemahan daya beli, kemiskinan naik, PHK massal, terlalu berisiko,” tegasnya.
Program kedua adalah pengurangan konsumsi BBM melalui subsidi serta menggratiskan transportasi publik. Bhima menyinggung kebijakan Spanyol pada 2022 ketika pemerintahnya membuat masyarakat Spanyol bergeser ke transportasi umum. “Spanyol tahun 2022 menggratiskan kereta dalam kota dan bus biar kendaraan pribadinya bergeser ke transportasi umum,” yungkap Bhima.
Terakhir, program ketiga yang disarankan Bhima adalah mempercepat transisi energi terbarukan. “100 GW panel surya segera gantikan desa yang pakai pembangkit listrik dari BBM. Porsi energi fosilnya harus turun. Ini momentum untuk gantikan fosil dengan energi yang lebih tahan guncangan,” pungkasnya.
Menteri ESDM Tegaskan Pasokan Energi Indonesia Memadai
Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan pasokan energi Indonesia masih memadai untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. “Sekalipun negara-negara lain, sebagian negara di Asia sudah mulai masuk dalam keadaan yang tidak diharapkan oleh hampir semua negara, dalam hal ini darurat, harus saya yakinkan kepada rakyat Indonesia bahwa solar kita insyaAllah tidak lagi kita lakukan impor. Jadi clear,” ungkapnya.
Ia menuturkan Indonesia memang masih melakukan impor BBM jenis bensin sekitar 50 persen, serta gas alam cair atau liquefied petroleum gas (LPG) sekitar 70 persen. Namun, untuk kedua produk tersebut, pihaknya telah mencari alternatif sumber selain dari negara Timur Tengah.
Bahlil menegaskan agar masyarakat tak perlu khawatir dengan ketersediaan energi. Namun ia meminta agar masyarakat menggunakan energi secara bijaksana mengingat kondisi global yang masih bergejolak. “Sekalipun kita dalam kondisi yang baik, saya memohon dukungan dari semua rakyat Indonesia. Masalah ini tidak hanya masalah pemerintah, tapi masalah kita semua. Saya memohon, menyarankan, agar ayo kita harus memakai energi dengan bijak,” pungkas Bahlil.



