Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Rabu, 25 Maret 2026
Trending
  • Agoda: Indonesia Jadi Peringkat Dua Asia dalam Wisata Berkelanjutan
  • Mengapa Oli Mesin Menghitam, Apakah Tanda Kerusakan?
  • Keramik Teras Kasar: Pilihan Ideal untuk Teras Anti Licin
  • 5 Artis yang Rayakan Lebaran di Penjara, Mulai Nikita Mirzani hingga Richard Lee
  • Finlandia Siapkan Pasar Swalayan sebagai Benteng Jika Rusia Serang, Begini Caranya?
  • Ke mana Gus Yaqut? Istri Bocorkan Dia Tidak Ada di Rutan KPK Sejak Kamis Malam
  • Pelanggaran Anwar BAB di TV Jadi Sorotan MUI, Terancam Sanksi KPI
  • Peringatan Santo dan Santa Pelindung 23 Maret 2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Hukum»Nadiem Dianggap Menghindar, Pakar Hukum: Tunggu Bukti di Pengadilan
Hukum

Nadiem Dianggap Menghindar, Pakar Hukum: Tunggu Bukti di Pengadilan

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover12 Januari 2026Tidak ada komentar3 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link



Pakar hukum pidana dari Universitas Islam Indonesia (UII), Prof. Hanafi Amrani, menyatakan bahwa belum ada bukti yang cukup untuk menyimpulkan adanya kriminalisasi terhadap mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan serta Riset dan Teknologi, Nadiem Makarim, dalam kasus dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook.

“Dari eksepsi yang disampaikan Nadiem Makarim, apakah ada nada atau tercium kriminalisasi? Saya belum bisa mengatakan seperti itu. Sebagai pengamat, saya belum berani menyimpulkan seperti itu,” ujar Prof. Hanafi.

Menurutnya, kasus ini harus dilihat secara netral dan objektif. Ia menyarankan semua pihak untuk melihat proses persidangan sebagai bentuk pembuktian. “Kita juga belum tahu, jangan-jangan Jaksa juga punya amunisi alat bukti yang nantinya akan dibuktikan di persidangan,” tambah Prof. Hanafi.

Terkait dengan eksepsi Nadiem, menurut Prof. Hanafi, sulit membedakan antara eksepsi dan pledoi. “Saya melihat lebih banyak pledoinya dibanding eksepsi, karena sudah masuk ke materi pokok perkara,” ujarnya.

Menurut Prof. Hanafi, Nadiem kemungkinan paham bahwa surat terbukanya tersebut lebih banyak berisi pledoi. Namun bagi Nadiem, tidak ada masalah karena ia mungkin ingin publik mengetahui lebih awal duduk perkara atas dakwaan terhadap dirinya.

Tujuan dari eksepsi, menurut Prof. Hanafi, adalah membantah aspek formal dari dakwaan, sehingga belum masuk ke pokok perkara. Dalam eksepsi, pihak pengacara Nadiem menyebutkan bahwa dakwaan tidak bisa diterima karena kompetensi absolute dan surat dakwaan dianggap tidak jelas (kabur). “Itu esensi dari eksepsi,” kata Prof. Hanafi.

Terkait kompetensi absolute, pihak Nadiem menganggap Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) tidak berhak mengadili, tetapi Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) yang berhak mengadili. Selain itu, menurut Prof. Hanafi, pihak Nadiem menganggap dakwaan jaksa kabur. “Selebihnya itu (eksepsi Nadiem) lebih banyak masuk ke pokok perkara,” jelas Prof. Hanafi.

Mengenai apakah eksepsi akan diterima hakim, menurut Prof. Hanafi, tergantung pada penilaian hakim. “Apakah itu (diadili di) PTUN atau bukan, itu tergantung penilaian hakim. Tapi menurut saya bukan kompetensi pengadilan PTUN,” ungkapnya.

Terkait dengan dakwaan yang disebut Nadiem kabur, Prof. Hanafi melihat dalam beberapa hal ada benarnya. Misalnya terkait dengan masalah kerugian negara. Seharusnya, sebelum penetapan tersangka, kerugian negara sudah nyata dan pasti (actual loss).

Anggapan dakwaan kabur versi pengacara Nadiem, menurut Prof. Hanafi, terkait dengan audit BPK dan BPKP yang sudah dilakukan di tahun-tahun sebelumnya, yang hasilnya tidak menyebut adanya pelanggaran yang mengakibatkan potensi kerugian negara. “Sebelum audit di tahun 2025 kan sudah ada audit tahun 2023 dan 2024. Kalau tidak ada temuan berarti clear and clean,” papar Prof. Hanafi.

Meskipun ketentuan KUHAP mengharuskan sebuah dakwaan itu jelas dan cermat, kata Prof. Hanafi, jarang hakim membatalkan dakwaan karena dianggap tidak jelas. “Mungkin hakim punya perspektif lain. Toh nanti akan dibuktikan juga dipersidangan,” kata dia.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Ke mana Gus Yaqut? Istri Bocorkan Dia Tidak Ada di Rutan KPK Sejak Kamis Malam

25 Maret 2026

Pilu Saeful Tony Berjalan Kaki Pulang Usai Uang Dicuri, Dua Minggu Di Jalanan Dibantu Polisi

25 Maret 2026

Iran Gantung 3 Demonstran di Qom, Dunia Kecam Penindasan dan Pelanggaran HAM

24 Maret 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Agoda: Indonesia Jadi Peringkat Dua Asia dalam Wisata Berkelanjutan

25 Maret 2026

Mengapa Oli Mesin Menghitam, Apakah Tanda Kerusakan?

25 Maret 2026

Keramik Teras Kasar: Pilihan Ideal untuk Teras Anti Licin

25 Maret 2026

5 Artis yang Rayakan Lebaran di Penjara, Mulai Nikita Mirzani hingga Richard Lee

25 Maret 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?