Ekonomi & Bisnis Ekonomi dan Sektor Jasa Keuangan Indonesia Masih Dihadapkan Tantangan

Ekonomi dan Sektor Jasa Keuangan Indonesia Masih Dihadapkan Tantangan

53
0
Ekonomi dan Sektor Jasa Keuangan Indonesia Masih Dihadapkan Tantangan
Ilustrasi(Antara)

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar mengungkapkan tantangan bagi ekonomi dan sektor jasa keuangan Indonesia di 2025 masih akan cukup besar. Ketidakpastian hingga divergensi ekonomi dunia tetap menjadi isu yang membayangi di tahun ini. 

“Tantangan dan ketidakpastian yang akan dihadapi di 2025 diperkirakan tidak akan lebih mudah,” ujarnya dalam Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan (PTIJK) 2025, Jakarta, Selasa (11/2). 

Itu karena sejumlah lembaga memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global meningkat secara terbatas. Normalisasi kebijakan suku bunga di Amerika Serikat dan beberapa negara utama lainnya diperkirakan akan terus berlanjut namun dengan laju yang lebih lambat.

Di sisi lain, divergensi pemulihan ekonomi di antara negara-negara industri berpotensi mengakibatkan terjadinya perbedaan kebijakan moneter dari berbagai otoritas moneter global yang akan mempengaruhi capital flow dan nilai aset keuangan. 

“Kompleksitas pemulihan ekonomi diperkirakan akan meningkat seiring perkembangan geopolitik dan geoekonomi yang dinamis,” kata Mahendra. 

Selain itu, kebijakan perdagangan yang lebih ditentukan oleh aspek politik dibandingkan dengan aspek ekonomi berpotensi meningkatkan fragmentasi perdagangan global dan menurunkan volume perdagangan itu sendiri. Begitupun dengan mulai terjadinya divergensi kebijakan dan penerapan standar internasional di sektor keuangan antar negara yang juga dapat menciptakan perbedaan daya saing sektor keuangan. 

Di sisi domestik, kata Mahendra, Indonesia dihadapkan pada isu struktural seperti perlunya meningkatkan kembali penyerapan tenaga kerja sektor formal serta mempercepat pemulihan daya beli masyarakat, khususnya untuk kelompok menengah bawah yang pemulihannya masih tertahan.

“Di tengah downside risk tersebut, diperlukan langkah transformatif untuk mencapai target pertumbuhan yang diharapkan,” terang Mahendra.

“Oleh karena itu, kami menyambut berbagai program prioritas yang diinisiasi pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ke level yang lebih tinggi dan mencapai visi Indonesia Emas,” lanjutnya. (Z-11)

Tinggalkan Balasan