Nasional Anak Pneumonia Bisa Disebabkan Orangtua Perokok

Anak Pneumonia Bisa Disebabkan Orangtua Perokok

39
0

IndonesiaDiscover –

Anak Pneumonia Bisa Disebabkan Orangtua Perokok
Paparan terkait perkembangan terkini terkait perkembangan terkini penanganan Pneumonia di Kantor PAPDI, Salemba, Jakarta, Senin (29/4/2024).(MI/SUSANTO)

PNEUMONIA masih dicap sebagai pembunuh senyap karena menyerang paru-paru, melelahkan napas, dan bahkan menyebabkan kematian terutama pada anak. Pneumonia terus menjadi ancaman serius bagi anak-anak di dunia. 

Kematian akibat pneumonia terjadi setiap 43 detik artinya 700 ribu anak meninggal setiap tahunnya karena pneumonia. Padahal pneumonia merupakan sebuah penyakit yang sebenarnya bisa dicegah.

Wakil Menteri Kesehatan RI Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono mengatakan, menjelaskan pneumonia merupakan peradangan paru-paru akibat infeksi akut pada saluran pernapasan, yang disebabkan oleh virus, bakteri, atau jamur. Pada balita, gejala yang paling dominan atau sering muncul adalah batuk, kesulitan bernapas, dan tanda pneumonia berat seperti tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam saat bernapas.

Penyebab yang paling berpengaruh lainnya adalah paparan asap rokok. Ia mengimbau kepada orangtua yang masih merokok di rumahnya tidak hanya berbahaya untuk kesehatan diri sendiri, tetapi juga bisa melemahkan kondisi paru-paru anaknya.

“Data statistik menunjukkan anak-anak yang ada di lingkungan orang tuanya perokok lebih gampang terkena pneumonia dibandingkan dengan anak-anak yang orang tuanya tidak merokok,” ungkap Dante.

Plt Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan dr. Yudhi Pramono mengatakan pneumonia merupakan salah satu penyakit yang menyebabkan kematian terbesar pada balita di Indonesia. Data WHO tahun 2021 menunjukkan pneumonia menyebabkan 740.000 kematian pada anak di bawah usia 5 tahun, atau setara dengan 14% dari total kematian balita di seluruh dunia.

“Ini menunjukkan bahwa pneumonia ancaman nyata bagi kesehatan anak-anak,” tutur Yudhi.

Berdasarkan data BPJS Kesehatan pada 2023, pneumonia menempati peringkat pertama sebagai penyakit dengan biaya pengobatan tertinggi, yaitu Rp8,7 triliun, diikuti oleh tuberkulosis (TB), penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), asma, dan kanker paru.

Pemerintah Indonesia berkomitmen mendukung tujuan SDGs, yaitu memastikan kehidupan sehat dan kesejahteraan bagi semua usia. Untuk itu, pemerintah menargetkan penurunan angka kematian balita akibat pneumonia serta pengurangan insiden pneumonia pada balita hingga 70% secara nasional. (H-2)

Tinggalkan Balasan