

MENURUNNYA angka Nonfarm Payrolls (NFP) yang dilaporkan diprediksi bakal memicu kekacauan pasar global. Pelemahan ini memberikan gambaran kurang baik mengenai perekonomian AS dibandingkan dengan yang diantisipasi.
Selain itu, awal pekan ini diwarnai gejolak untuk pasar Asia yang dipengaruhi sesi perdagangan AS di akhir pekan sebelumnya. Data ekonomi yang tidak terduga ini mengirimkan gelombang kejut ke seluruh pasar finansial, menyebabkan saham-saham AS anjlok dan harga obligasi melonjak.
Akibatnya, volatilitas melonjak secara dramatis, dan para pelaku pasar mulai memperhitungkan kemungkinan pemangkasan suku bunga yang lebih agresif dari Federal Reserve (Fed) tahun ini. Badai yang sempurna dari faktor-faktor negatif ini menyiapkan panggung untuk kehancuran pasar global.
Baca juga : Ada optimisme Pasar Global terhadap Penurunan Suku Bunga The Fed
Data yang mengejutkan para investor menunjukkan hanya sebanyak 114.000 pekerjaan yang ditambahkan di bulan Juli, sangat kontras dengan revisi ke bawah sebesar 179.000 untuk bulan Juni dan ekspektasi pasar sebesar 175.000.
Melesetnya angka yang signifikan ini memicu kekhawatiran yang meluas mengenai potensi resesi karena tingkat pengangguran naik ke level tertinggi dalam tiga tahun terakhir yaitu 4,3%, menandai kenaikan bulanan keempat berturut-turut.
Para investor bereaksi dengan cepat dan tegas, dengan melepas saham-saham dalam sebuah manuver penghindaran risiko yang klasik. Kepanikan pasar yang dimulai di AS dengan cepat menyebar ke Asia. Di sisi lain, Jepang menanggung beban aksi jual terbesar. Nikkei 225, indeks saham acuan Jepang, mengalami penurunan terburuk sejak Black Monday tahun 1987, anjlok hingga 12% hanya dalam waktu enam jam.
Baca juga : Asumsi Kurs Rupiah Era Prabowo Di bawah Rp16.000, Ini Pertimbangannya
Meski ancaman resesi AS yang membayangi tak diragukan lagi memicu aksi jual, situasi tersebut semakin diperburuk oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan cepatnya pelonggaran perdagangan yen.
“Bank of Japan (BoJ) telah lama menjadi landasan strategi carry trade, menyediakan banyak yen murah bagi investor untuk mendanai investasi pada aset berimbal hasil tinggi,” kata analis Octa, Kar Yong Ang dalam keterangan resminya, Senin (12/8).
Usai BoJ menaikkan suku bunga, nilai yen Jepang anjlok 10%. Per Senin malam, situasi mulai kembali normal. “Jika Fed mulai menunjukkan bahwa mereka tidak berencana untuk memangkas suku bunga sebesar 50 bps pada bulan September, sentimen investor mungkin akan kembali bearish. Karena tidak ada rilis data ekonomi utama yang dijadwalkan hingga laporan CPI AS pada tanggal 14 Agustus, trading teknikal mungkin tetap berlaku,” ujar Kar Yong Ang. (J-3)