

DIREKTUR PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi, menyampaikan bahwa pada perdagangan sore ini, Selasa (6/8), mata uang rupiah ditutup menguat sebesar 24,5 poin menjadi Rp16.164,5 per dolar Amerika Serikat (AS).
Penguatan ini terjadi setelah pada penutupan sebelumnya rupiah melemah di level Rp16.189.
“Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup menguat setelah penutupan sebelumnya melemah di level Rp16.189,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Baca juga : Siapapun Presiden AS yang Terpilih, Dolar masih tetap Perkasa
Menurut Ibrahim, beberapa faktor membuat indeks dolar AS melemah, salah satunya adalah data pekerjaan AS yang lebih lemah dari perkiraan.
Data menunjukkan tingkat pengangguran melonjak, sehingga ekspektasi untuk penurunan suku bunga The Fed meningkat.
Aksi jual berlanjut pada Senin (5/8), dengan imbal hasil surat utang AS atau US Treasury turun lebih jauh, indeks saham berada di zona merah, dan dolar melemah.
Baca juga : Rupiah Menguat saat Pasar Tunggu Kebijakan Suku Bunga AS
Imbal hasil Treasury telah turun tajam sejak minggu lalu ketika The Fed mempertahankan suku bunga kebijakan dalam kisaran 5,25% hingga 5,50% dan membuka kemungkinan penurunan suku bunga pada September mendatang.
Selain itu, laporan laba yang mengecewakan dari perusahaan teknologi besar serta meningkatnya kekhawatiran atas ekonomi Tiongkok telah memicu aksi jual global pada saham, minyak, dan mata uang berimbal hasil tinggi dalam seminggu terakhir. Investor mencari keamanan dalam bentuk uang tunai.
Lonjakan mata uang yen Jepang juga terjadi karena para pedagang secara agresif menghentikan perdagangan carry, jenis perdagangan valuta asing dengan cara meminjam uang dalam satu mata uang dengan tingkat bunga rendah untuk mendanai investasi dalam aset berimbal hasil lebih tinggi di tempat lain.
Baca juga : Rupiah masih Merosot Seiring Ekspektasi Penurunan Suku Bunga AS
Dari faktor internal, penguatan rupiah didukung pernyataan pemerintah yang bakal menggenjot konsumsi di kuartal III dan IV 2024 untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di akhir tahun.
Konsumsi pemerintah di kuartal II 2024 melambat, dengan pertumbuhan 1,42% dan kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) sebesar 7,31%.
“Pemerintah ingin menggerakkan sektor di luar pemerintahan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi,” terang Ibrahim.
Penguatan rupiah ini memberikan angin segar bagi perekonomian Indonesia di tengah ketidakpastian ekonomi global. Pemerintah dan pelaku pasar terus memantau perkembangan situasi untuk mengambil langkah-langkah strategis guna menjaga stabilitas ekonomi. (Z-10)